COMPOSTING
Composting merupakan proses biodegradasi bahan-bahan organic yang terdapat dalam sampah/limbah (sampah padat serta lumpur lumpur buangan). Melalui sebuah aktivitas mikrobiologis selama proses composting, bahan-bahan organik dirombak ke bentuk yang lebih stabil berupa bahan-bahan humus dan bersamaan dengan proses tersebut terbentuk panas sebagai hasil perombakan bahan patogen.
Di tahun 1974 Departemen Pertanian Amerika Serikat di Beltsville, Maryland mengembangkan compos dengan metode apa yang disebut “Static Pile”. Metode ini digunakan sekitar 200 kota-kota besar di Benuar Amerika antara lain Kota Durham, N.H., Bangor, Me., Portland, Me., Greenwich, Ct., Camden, N.J., Philadelphia, Pa., Washingtong, D.C., Columbus, Ohio, dan Windsor, Ontario, dan Canada.
Tujuan Pembuatan Kompos :
1. Menghindari pencemaran atau kerusakan lingkungan
2. Melestarikan kehidupan makhluk hdup yang terdapat di suatu lingkungan tertentu
3. Menjaga keseimbangan ekosistem makhluk hidup yang terdapat di dalam lingkungan
4. Mengurangi sampah organik
5. Menambah penghasilan dengan menjual hasil daur ulang
6. Mendapatkan sumber energi alternatif. misalnya, sebagai sumber pembangkit listrik
Mendapatkan bahan baku untuk beberapa produk.
7. mengurangi ritasi transportasi sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang
8. Bisa diolah menjadi energi bio arang, biomass dan energi untuk listrik.
Keuntungan menggunakan pupuk kompos :
a. Merupakan jenis pupuk yang menguntungkan.
b. Bahan yang dipakai tersedia, tidak perlu membeli.
c. Masyarakat dapat membuatnya sendiri, tidak memerlukan peralatan dan instalasi mahal.
d. Unsur hara dari pupuk kompos ini akan bertahan lama jika dibandingkan dengan pupuk buatan
e. struktur tanah menjadi ber-remah, mudah ditembus akar tanaman dan tidak menahan air porus.
f. pupuk organic adalah jenis pupuk yang melakukan pelepasan unsur haranya secara perlahan-lahan. Oleh karena itu, kondisi kesuburan tanah dapat berlangsung dengan agak lama.
g. semakin banyak akumulasi pupuk organik, kesuburan akan semakin bertahan lama dan dapat meningkatkan hasil produksi.
h. bakteri fermentasi dalam kompos berpengaruh positif terhadap daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit.
i. Dalam composting, proses pengomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.
j. dapat dijadikan objek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.
Hal-hal yang berkaitan dengan kompos antara lain:
Proses-proses biologis
Proses biodegradasi terhadap lumpur serta stabilisasi fraksi bahan organik sebagai kompos sangatlah bergantung kepada interaksi optimal antara suhu, oksigen, kelembaban serta perbandingan carbon dan nitrogen.
a. Suhu (Temperature), pada poses composting populasi hewan-hewan microbial akan berubah selama proses composting berlangsung. Diawali dari perubahan suhu ambient ke keadaan mesophilic [40 – 45oC]. Bila panas yang terbentuk dapat dipertahankan/ditampung dalam sistem maka suhu akan berubah dari tahapan mesophilic ke tahapan thermophilic. Bakteri mesophilic akan digantikan oleh bakteri thermophilic serta organisme lainnya seperti jamur dan aktinomycetes. Bakteri bentuk spora seperti bakteri thermophilic actinomycetes ditemukan pada suhu diatas 70oC. Kebanyakan proses perombakan (decomposition) terjadi pada tahap thermophilic yakni adanya bakteri-bakteri perombak yang tahan terhadap suhu tinggi. Sebagai indikasi awal suhu tinggi di atas 55oC akan efektif menghancurkan organisme patogen. Setelah beberapa minggu proses composting, suhu mulai menurun dan bahkan kemudian organisme thermophilic memberikan perluang adanya organisme mesophilic.
b. Udara (Oxygen), proses composting dapat berlangsung pada kondisi tanpa udara (kurang oksigen) maupun ada udara. Proses kompos dengan adanya oksigen prosesnya tidak hanya berlangsung lebih cepat akan tetapi juga tidak menghasilkan kebauan (malodors). Kondisi ada udara bisa dilakukan melalui cara membalik-balikkan material organik atau memberikan tekanan udara melalui massa material organik tersebut. Tingkat adanya oksigen yang optimum antara 5% – 15%.
c. Kelembaban (Moisture), tingkat kelembaban optimum untuk proses composting antara 50% – 60% by weight. Dibawah 40% proses dekomposisi akan berkurang sedangkan di atas 60% ruang pori yang penting untuk proses composting aerobik akan terblok oleh air dan kondisi anaerobic (tanpa udara) bisa terjadi. Kelembaban ini juga akan mempengaruhi proses dan penanganan material dalam operasi composting.
d. Perbandingan Carbon dan Nitrogen, perbandingan ketersediaan unsure carbon dan nitrogen merupakan factor yang memegang peranan penting dalam proses decomposition bahan-bahan material organik. Unsur carbon merupakan sumber energi bagi mikroorganisme sedangkan unsur nitrogen penting untuk proses sintesa protein. Perbandingan ideal antara C/N antara 25 dan 30. Untuk sampah padat memiliki ratio yang tinggi (35 hingga 80).
Aliran Proses
Ada dua prinsip metode proses composting aerobik yaitu:
1. Menggunakan metode agitasi atau pembolak-balikan material organik agar didapatkan kondisi aerobik,
2. Menggunakan metode mekanis dengan cara memasukkan udara ke dalam sistem.
Dalam banyak kasus, lumpur saluran pembuangan di campur dengan sejumlah material, limbah organik padat atau kompos kering. Pencampuran yang baik sangatlah esensial. Untuk sampah organik padat, proses grinding sangat esensial untuk meningkatkan area permukaan dan mempercepat proses composting. Campuran-campuran ini kemudian disimpan pada windrows, pipe teraerasi, tanki, drum-drum atau pada silo. Campuran tersebut akan menjadi compos untuk waktu 14 – 21 hari.
Pertimbangan Perancangan
Pemilihan sistem composting serta desain fasilitas bergantung pada setiap aspek seperti lokasi operasi, iklim, karakteristik limbah organik, serta tipe/jenis bahan material bulking yang ada.
a. Lokasi (Site), dua pertimbangan penting mengenai lokasi yakni lokasi dan tersedianya lahan. Idealnya tempat composting berada dekat dengan land fill area atau berdekatan/berbatasan terhadap instalasi wastewater treatment. Untuk operasi composting yang tidak intensif memerlukan lahan tanah 1 acre (0.4 ha) untuk menghasilkan 6 ton Lumpur padat kering setiap harinya.
b. Iklim (Climate), suhu ambient yang dingin jarang mempengaruhi proses composting akan tetapi dapat membekukan sampah yang padat atau lumpur. Pada lokasi dengan curah hujan yang tinggi maka diperlukan penutup.
c. Karakteristik Lumpur, persentase bahan material padat mempengaruhi penanganan material, pemilihan material bulking, dan jumlah yang dibutuhkan. Lumpur dengan 17% kandungan padatan memerlukan 3 bagian bulking agent terhadap 1 bagian lumpur, sedangkan 25% bahan padatan memerlukan antara 1,5 – 2 volume bagian bulking material.
d. Karakteristik Sampah Padat, sampah padat antara lain kertas, logam, sampah, gelas/kaca, dan plastik perlu untuk ditanam.
e. Bulking Materials, fungsi bulking material adalah mengatur kelembaban massa material, mengatur perbandingan C/N, memberikan struktur porosity terhadap massa material. Kebanyakan bulking material ini berupa serpihan kayu (woodchips), serbuk gergaji (sawdust), solid waste, carikan karet ban (shredded rubber tires), jerami (straw), dedaunan (leaves), serpihan semak (brush chips), kulit kayu (bark) and compost.
f. Penanganan Material, proses pengadukan paling baik dilakukan dengan auger feed mixer atau pugmills.
Pembuatan kompos secara umum dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :
1) Menyiapkan reactor kompos (komposter)
Reactor kompos adalah alat atau tempat yang digunakan untuk seluruh proses pengomposan alat ini dapat dibuat dari drum bekas. Pembuatan kompos merupakan proses aerob yang melibatakan mikroorganisme (bakteri dan fungi), sehingga diperlukan sistim ventilasi yang baik. Selain ventilasi, yang perlu dikendalikan adalah komponen suhu dan kelembapan udara jika reactor tidak memiliki sistim ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.
2) Mempersiapkan bahan organic
Sampah organic yang di siapkan bisa disiapkan dari apa saja misalnya sayuran, nasi, sisa makanan, jerami, kotoran ternak dan sebagainya. Agar kompos tidak berbau hindari memasukan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukan kedalam reactor, bahan tersebut dipotong kecil-kecil agar proses dekomposisi menjadi lebih cepat.
Selanjutnya ialah mencampurkan bakteri pengurai kedalam bahan organic yang telah dipotong-potong, sumber bakteri untuk membantu penguraian yang paling mudah didapat adalah kotoran ternak, selain itu bakteri tersebut juga dijual di took-toko penjual pupuk seperti: EM4 (Effective Microorganism 4), Organic Decomposer dan Green Phoskko.
3) Penyiraman dan pengadukan
Agar proses pengomposan berjalan dengan sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Melalui penyemprotan media kompos dan membolak-balikan media.
4) Panen
Setelah 2-3 minggu, kompos siap untuk dipanen. Kompos yang dihasilkan masih mengandung air kira-kira 50%, untuk mendapatkan kompos kering lumpur tadi harus dijemur.
Kompos yang baik memiliki ciri-ciri sbb:
a. Tidak berbau, berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah.
b. Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspense.
c. Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah.
d. Nisbah C/N sebesar 10-20, tergantung pada bahan baku dan derajat humifikasinya.
C/N adalah nilai atau perbandingan antara unsur Carbon dan Nitrogen.
e. Suhu yang dicapai ± sama dengan suhu lingkungan.
PEMBUATAN KOMPOS RUMAH TANGGA
1. Prinsip pengomposan Sampah rumah tangga mengandung bahan organik + 75%. Proses pengomposan menyesuaikan diri dengan tersedianya bahan baku, yang tidak sekaligus terkumpul dalam jumlah besar, melainkan sedikit demi sedikit setiap hari. Kondisi ini seperti terjadi di alam di lantai hutan, dimana sisa-sisa organik jatuh keatas tanah selapis demi selapis sampai menjadi tebal.
2. Proses perombakan-fermentasi organisme tanah terjadi dari bawah merambat ke atas mengejar bahan baku yang baru jatuh, diikuti terbentuknya humus dari bawah ke atas pula. Kecepatan pengomposan sangat tergantung a.1. pada komposisi bahan baku, perbandingan kadar C (bahan berserat tinggi) dengan kadar N (jenis kacangan, pupuk kandang, dsb.). Untuk bahan baku kompos yang optimal perbandingan C/N = + 30, hasil akhir humus atau kompos yang matang C/N = 12-15
3. Cara dan Alat Membuat kompos yang sebenarnya mudah dan sederhana, tetapi karena lokasinya di pekarangan rumah harus bebas dari polusi bau, lalat, binatang berbahaya dan bebas dari gangguan ayam, anjing, kucing, dsb. Apalagi sisa-sisa organik tidak terkumpul sekaligus tetapi berangsur setiap hari dari buangan dapur dan kotoran pekarangan.
4. Untuk pembuatan kompos di pekarangan rumah, dibutuhkan dua macam wadah : 1. Wadah besar, penampung bahan baku dan tempat terjadinya proses pengomposan, yang disebut “Komposter” dan ditaruh di pekarangan di tempat teduh. 2. Wadah kecil berupa ember plastik kecil bertutup, tempat penampungan sementara sisa organik dapur.
5. Alat Komposter paling praktis dan aman adalah alat yang direkomendasikan STU Campbell (buku “let It Rot”, Storey Books, Vermont 1998) untuk dipakai di pekarangan rumah. Komposter ini dibuat dari drum bekas 200 liter, dinding atas dibuang, dan dinding dasar pada tengahnya dilobangi untuk dapat dimasuki pipa PVC 3-4 inci, yang juga berfungsi drainase.
6. Pada pipa PVC berjarak 5 cm dibuat lobang (bor) sepanjang empat sisinya. Drum dipasang berdiri, diberi ganjal 2-3 lapis batu bata. Pipa PVC dimasukkan ke lobang dasar, sampai ujung bawah menyentuh tanah dan ujung atas menonjol keatas drum + 10 cm, menembus tengah-tengah tutup tambahan (bisa dibuat dari tripleks). Ember Kecil Ember plastik 5 l – 10 l yang ada tutupnya, disediakan khusus untuk penampungan sementara (1-2 hari) sisa organik dapur dan selalu ditaruh di dapur dalam keadaan tertutup.
7. Cara Kerja Komposter (drum) ditaruh di pekarangan di tempat teduh. Sebaiknya dibuatkan tutup atas dari tripleks yang tengahnya berlobang tempat munculnya pipa PVC. Setiap kali pembersihan halaman, kotoran berupa rontokan daun, potongan pagar rumput, dll dimasukkan ke dalam komposter, diratakan, sedikit dipadatkan dan diatasnya ditaburi selapis kotoran ternak lama, kompos baru atau setengah matang, tanah subur hitam, dsb. sebagai starter
8. penambah N dan organisme tanah. Kalau terlalu kering diberi air agar lembab dan ditutup untuk mencegah dari hujan berlebihan, terik matahari dan pencemaran lalat. Untuk memudahkan didekat komposter disediakan wadah berisi starter (kotoran ternak, dll) yang selalu ditutup. Setiap satu atau dua hari sekali, kotoran dapur dalam ember kecil yang sudah penuh, juga dimasukkan, diratakan dan dilapisi starter.
9. Demikian pengisian dilakukan setiap kali terkumpul sisa organik atau kotoran dapur baru, sampai komposter penuh, yang memakan waktu 1 bulan – 2 bulan untuk keluarga sedang. Setelah penuh, ditutup dan dibiarkan tidak dibalik-balik selama + 1 bulan yang diperkirakan pengomposan sudah selesai menjadi matang berupa kompos berwarna hitam, remah dan berbau segar. Komposter dikosongkan, isinya diangin-anginkan, langsung dapat dipergunakan sendiri atau disaring (saringan kawat kasa) dibungkus dan dijual.
10. Proses pengomposan terjadi sejak awal bahan organik dimasukkan, dan merambat keatas mengikuti bahan organik baru. Disini akan terjadi proses fermentasi panas oleh bakteri termofilik, karena suhu dapat meningkat didalam komposter tertutup, yang juga berguna membunuh bibit hama- penyakit dan gulma. Komposter I yang sudah penuh dan sedang dalam proses pemasakkan, digantikan komposter II yang sudah disiapkan dan nanti setelah komposter I selesai dokosongkan, disiapkan untuk menggantikan komposter II bila sudah penuh, dst.
11. Sisa organik dapur terdiri dari potongan / kulit sayuran, kulit buah lunak, daun pembungkus, kertas, sisa lauk-pauk, dipisahkan dari sisa / sampah non organik. Sisa dapur tersebut dimasukkan ke dalam ember kecil dan yang non organik ditampung dalam wadah lain untuk dibuang di bak sampah.
12. Setiap kali memasukkan sisa organik dapur yang mudah busuk (sisa lauk-pauk), diatasnya langsung ditaburi selapis serbuk gergaji halus rapat-rapat. Maka di dapur selalu disediakan serbuk gergaji halus dalam wadah khusus. Ember kecil harus selalu ditutup rapat dan biasanya dalam 1-2 hari sudah penuh, lalu langsung dibawa ke kebun dimasukkan ke dalam komposter, dan ditaburi selapis starter diatasnya. Agar ember plastik tidak kotor, sebaiknya dilapisi kantong plastik sehingga sisa organik dapur yang mudah busuk dapat ditampung dengan aman dan rapat.
CARA PEMBUATAN BOKASHI
Bahan-bahan:
1. Kotoran sapi
2. EM4
3. Sampah organik (compostable)
4. Wadah
5. Dedak (makanan ayam)
Cara Pembuatan:
1. Cacah sampah organik menjadi kecil
2. Masukkan sampah organik dan kotoran sapi ke dalam wadah
3. Aduk campuran tersebut hingga sampah organik tersebut menyatu dengan kotoran sapi
4. Siramkan EM4 dengan campuran EM4 sbb:
2Ltr air + 70ml EM4 (1 tutup botol 10ml) + 1 kg gula pasir
5. Taburkan dedak
6. Tutup rapat, jangan sampai udara masuk dan terkena sinar matahari karena proses pengomposan ini bersifat anaerob.
7. Setiap 3 atu 5 hari sekali aduk campuran tersebut dan siramkan EM4 lagi, setelah diaduk dan disiram, kita harus selalu menutup rapat kembali campuran tersebut.
8. Setelah kurang lebih 1 bulan, campuran tersebut telah menjadi kompos dan telah siap dipakai
EM4 dapat kita beli atau kita buat sendiri dengan cara:
1. sediakan air kelapa + ragi + gula merah
2. campurkan ragi + gula merah ke dalam air kelapa di dalam satu wadah
3. tutup rapat dan setiap hari wadah tersebut wajib dibuka untuk melepaskan gas C02
4. setelah 1 bulan, EM4 sudah dapat digunakan
CARA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI
Lokasi Pengomposan
Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut dipanen. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas, sebaiknya dibuat di beberapa tempat yang terpisah.
Peralatan yang dibutukan antara lain:
1. Sabit/parang
2. Cetakan yang dibuat dari bambo. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2 x 1 m dan dua bagian yang lain berukuran 1 x 1 m.
3. Ember/bak untuk tempat air.
4. Air yang cukup untuk membasahi jerami.
5. Aktivator pengomposan (Acticomp atau Promi).
6. Ember untuk menyiramkan aktivator.
7. Tali.
8. Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat dari plastik mulsa berwarna hitam (ukuran leber 1 m) yang dibelah sehingga lebernya menjadi 2 m
Tahapan Pembuatan Kompos Jerami
1. Siapkan bak dan air. Masukkan air ke dalam bak. Kemudian larutkan aktivator sesuai dosis yang diperlukan ke dalam bak air. Aduk hingga aktivator tercampur merata.
Gambar 3. Menyiapkan air untuk pengomposan jerami.
Gambar 4. Aktivator dimasukkan ke dalam bak air sesuai dosis yang diperlukan
Gambar 5. Aduk aktivator hingga tercampur merata.
2. Siapkan cetakan dari bambo. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2 x 1 x 1 m. Namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut.
Gambar 6. Siapakan cetakan kompos yang dibuat dari bambu.
3. Masukkan satu lapis jermai ke dalam cetakan. Jika tersedia dapat dimasukkan pula kotoran ternak. Jerami atau seresah yang berukuran besar dipotong-potong terlebih dahuludenganparang.
Gambar 7. Masukkan jerami dan bahan-bahan lain lapis demi lapis ke dalam cetakan kompos.
4. Siramkan aktivator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami.
Gambar 8. Setiap lapis tumpukan disiram dengan aktivator secukupnya.
5. Injak-injak agar jerami padat.
Gambar 9. Setiap lampis tumpukan jerami diinjak-injak agar padat.
6. Tambahkan lagi satu lapis jerami/sereah.
7. Siramkan kembali aktivator ke tumpukan jerami tersebut dan jangan lupa injak-injak agar tumpukan menjadi padat.
8. Ulangi langkah-langkah diatas hingga cetakan penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan ke dalam cetakan.
9. Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakannya.
Gambar 10. Tumpukan jerami yang siap ditutup dengan plastic.
10. Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic yang telah disiapkan.
Gambar 11. Tumpukan jerami ditutup dengan plastic.
11. Ikat plastic dengan tali plastic agar tidak mudah lepas.
12. Kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat lain agar plastic tidak tebuka karena angin.
13. Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume, dan perubahan warna tumpukan jerami.
14. Inkubasi/fermentasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih satu bulan.
Gambar 12. Tumpukan diinkubasi selama satu bulan.
Pengamatan Selama Fermentasi
Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna.
Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 oC. Pada saat suhu meningkat, mikroba akan dengan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu wana jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.
Gambar 13. Tumpukan jerami akan mengalami penyusutan selama masa fermentasi.
Panen dan Aplikasi Kompos Jerami
Gambar 16. Kompos jerami yang sudah jadi: warna coklat kehitaman, lunak dan volumenya menyusut.
Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya perubahan fisik jerami. Perubahan itu antara lain:
- Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman,
- lunak dan mudah dihancurkan,
- suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
- tidak berbau menyengat, dan
- volume menyusut hingga setengahnya.
Kompos jerami yang sudah memiliki ciri-ciri demikian berarti sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke sawah. Kompos jerami diaplikasikan di tempat di mana jerami tersebut diambil.
DAUR ULANG KERTAS BEKAS
Salah satu sampah yang dapat didaur ulang adalah kertas. Kertas daur ulang ini memiliki tekstur yang indah. Dari kertas daur ulang kita dapat membuat beraneka ragam kerajinan tangan.
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kertas daur ulang :
1. BLENDER,
fungsinya untuk menghancurkan kertas menjadi bubur kertas, atau dapat juga dimodifikasi dengan alat penghancur yang lebih besar.
2. BINGKAI CETAKAN,
terdiri dari 2 bingkai dengan ukuran yang sama. Salah satu bingkai dilapisi dengan kain kasa.
3. EMBER KOTAK,
fungsinya sebagai tempat pencampuran bubur kertas dengan air, sekaligus sebagai wadah pencetakan.
4. ALAS CETAK,
Fungsinya untuk tempat pengeringan kertas daur ulang dari bingkai cetakan, sehingga bingkai cetakan dapat digunakan kembali. Alas cetak ini bisa berupa tripleks yang dilapisi kain katun atau juga dapat berupa matras yang biasa digunakan untuk alas tidur kemping.
5. SPONDS PENGHISAP,
fungsinya untuk menghisap air pada waktu transfer dari bingkai cetakan ke alas cetak.
6. GELAS PENAKAR,
fungsinya untuk menakar perbandingan antara bubur kertas dengan air. Alat ini tidak mutlak ada.
7. ALAT PRESS,
fungsinya untuk mengepress kertas daur ulang agar serat-seratnya dapat lebih rapat. Alat ini dapat berupa dua papan kayu yang berukuran sama dengan bingkai cetak, yang keempat sudutnya diberi lubang. Selanjutnya Masmng-masing lubang diberi mur dan baut penjepit untuk mempertemukan kedua sisi papan kayu tersebut.
8. EMBER,
wadah bubur kertas
9. KOMPOR & PANCI,
fungsinya untuk merebus berbagai macam serat dan pewarna alam
10. ALU & LUMPANG,
fungsinya untuk menumbuk berbagai serat agar lebih halus
11. SENDOK KAYU,
fungsinya untuk mengadukberbagai campuran.
12. PISAU & GUNTING,
fungsinya untuk memotong-motong serat tumbuhan
13. SARINGAN TEH BESAR
14. KAIN LAP
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kertas daur ulang :
1. KERTAS BEKAS
Setiap jenis kertas dipilah-pilahberdasarkan jenisnya masing-masing, kertas Koran, kertas HVS, karton hingga kertas warna warni.
2. PEWARNA ALAMI
– Kunyit, jika diparut dan diperas sarinya akan menghasilkan warna kuning
– Kulit bawang, jika direbus akan menghasilkan warna coklat
– Pandan suji, jika ditumbuk dan diperas airnya dapat menghasilkan warna hijau pekat
– Pandan wangi, jika direbus dan ditumbuk lalu diperas airnya dapat menghasilkan warna hijau muda, sekaligus aroma wangi
– Kesumba (bixa), jika bijinya direndam dan diremas atau direbus dapatmenghasilkan warna oranye
– Serutan kayu nangka. Jika direbus akan menghasilkan warna kuning
– Sirih, jika ditumbuk dan dicampur dengan kapur akan menghasilkan warna merah kecoklatan
– Daun pisang kering, jika dibakar, abunya dapat menghasilkan warna coklat keabu-abuan
– Rumput putri malu (Mimosa sp) jika direbus akan menghasilkan warna lembayung
3. SERAT PENGISI
Merupakan bahan-bahan yang dapat ditambahkan ke dalam campuran bubur kertas sehingga dihasilkan kertas yang lebih indah dan bertekstur. Dapat berupa bunga-bungaan ataupun serat tumbuhan lainnya seperti serat daun pandan wangi, serat batang pisang.
Cara Pembuatan Kertas Daur Ulang
1. Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12 jam agar serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan perebusan untuk mempercepat proses peresapan air.
2. Kertas yang telah lemas direndam air / direbus, dihancurkan dengan blender. Dengan perbandingan 1 ; 4 (4 bagian air untuk 1 bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali pemblenderan dengan interval 30 detik saja.
3. Bubur kertas yang diperoleh dari pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah. Selanjutnya dapat dilakukan pencucian untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara menyaring bubur kertas pada kain yang agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi air. Dengan demikian bubur kertas dapat dicuci sekaligus memisahkan potongan-potongan kertas yang mungkin belum hancur akibat pemblenderan.
4. Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung maupun dilakukan pencampuran warna dan serat. Masukan bubur kertas yang hanya bercampur dengan warna saja, atau bercampur dengan serat saja, atau bercampur dengan pewarna dan serat maupun bubur kertas tanpa campuran, kedalam ember kotak tempat cetakan. Perbandingan antara jumlah air dan bubur kertas tetap 4 : 1 (4 bagian air untuk 1 bagian bubur kertas). Aduk-aduk hingga campuran air dan bubur kertas merata.
5. Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar. Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30 derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan.
6. Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat.
7. Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan, lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama 1 jam.
Pencampuran Warna
1. Bubur kertas yang telah siap diolah, dapat dicampurkan dengan bahan pewarna alam yang telah kita persiapkan sebelumnya. Caranya adalah dengan mencampurkan langsung dan diaduk hingga merata. Selanjutnya dapat dilakukan perebusan jika ingin pencampuran warna yang lebih kuat.
2. Sisa pewarna alam dapat pula dicampurkan ke dalam air diember pencetakan agar tetap membantu menimbulkan warna yang diinginkan
3. Bubur kertas berwarna pun telah siap untuk diolah lebih lanjut, baik untuk dicetak, maupun dicampur dengan serat pengisi lainnya.
Pencampuran Serat
1. Gedebok Pisang,
a. Gedebok/batang pisang yang sudah selesai berbuah cincang seperti dadu dengan panjang sekitar 2 cm, jemur sekitar 2 jam untuk menghilangkan getah.
b. Kemudian ditumbuk dengan alu & lumping sehingga agak lunak.
c. Selanjutnya direbus selama 1 jam untuk melunakan seratnya. Kemudian tiriskan.
d. Setelah itu ditumbuk kembali hingga lebih halus. Saring dengan kain untuk dicuci dengan air, agar tinggal serat yang tersisa.
e. Serat yang tersisa dapat langsung dicampur dengan bubur kertas, atau jika dirasa kurang halus, dapat pula dibantu dengan pemblenderan.
f. Selanjutnya dicampurkan sedikit demi sedikit ke dalam bubur kertas, sambil diaduk terus menerus hingga rata.
2. Kulit Bawang
a. Rebus kulit bawang yang sudah digunting-gunting kecildengan air hingga mendidih, sisihkan dan air rebusan jangan dibuang.
b. Hancurkan kuit bawang yang telah direbus dengan menggunakan blender selama 5 & 10 detik.
c. Campurkan secara perlahan kulit bawang yang telah dihancurkan kedalam wadah bubur kertas sambil terus
d. diaduk-aduk hingga merata, jika air rebusan agak kotor dapat dilakukan penyaringan terlebih dahulu.
3. Pandan Wangi
a. Rebus potongan pandan wangi (2 cm) selama kira-kira 1 jam, tiriskan.
b. Campurkan air rebusan dengan bubur kertas secepatnya, aduk-aduk hingga rata
Jika Anda ingin membuat motif khusus, cobalah beberapa proses dibawah ini :
1. Proses Tempelan
Sebelum anda menutup campuran bubur kertas dengan yang sudah dibasahi tempelkan bunga, rumput atau daun-daun kecil di atasnya.
2. Proses Campuran
Ketika memblender kertas tambahkan bunga, rumput atau bahan alami lain, yang akan memberikan warna dan pola khusus. Setrika sepasang demi sepasang kemudian buka kainnya pelan-pelan angkat sepasang demi sepasang & jemur di tempat yang panas.
3. Proses Press
Ketika sedang mengepres kertasnya, taruhlah daun atau sesuatu yang bermotif bagus. Taruhlah papan di atasnya & beri pemberat.
Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas daur ulang yaitu :
1. Kertas untuk menggambar / karya seni
2. Pembungkus buku, tempat pensil, dll.
3. Undangan, amplop, map, dll.
Kertas daur ulang juga bagus sekali untuk ditempel diatas karya-karya yang bisa anda bikin dari karton.
4. Kotak pensil
5. Bingkai foto
6. Kotak kado
Manfaat daur ulang kertas:
1. Mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
2. Menghasilkan barang-barang yang memiliki nilai jual.
3. Menambah lapangan kerja.
4. Menghasilkan barang-barang yang bermanfaat dengan modal yang ekonomis.