wiwitrafikasari

Archive for 2010|Yearly archive page

KOMUNIKASI MELALUI TELEPON

In ARSIP on 3 Desember 2010 at 12:35 pm

KOMUNIKASI MELALUI TELEPHONE

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 : MENGOPERASIKAN PESAWAT TELEPON

1. Pengertian Hubungan Telepon

Hubungan telepon adalah cara mengadakan hubungan langsung jarak jauh untuk menyampaikan dan menerima pembicaraan melalui alat elektronik dari satu pihak kepada pihak lain.

Hubungan dengan telepon termasuk bentuk komunikasi tidak langsung, antara komunikator dengan komunikan secara fisik tidak tatap muka, tetapi diperantarai dengan satu rangakaian elektronik yang disebut pesawat telepon.

2. Macam-macam pesawat dan Hubungan Telepon

a. Jenis Pesawat Telepon

INTERKOM

Merupakan alat komunikasi yang dipergunakan untuk menyampaikan warta atau keterangan dalam lingkungan organisasi sendiri dari satu bagian ke bagian lain dalam satu instansi.

PESAWAT TELEPON

Merupakan alat untuk menyampaikan informasi secara lisan dari satu pihak ke pihak lain dari jarak jauh, baik dalam lingkungan kantor maupun luar kantor. Pesawa tunggal maksudnya pesawat telelpon yang bisa digunakan di lingkungan keluarga, organisasi, maupun instansi tertentu. Pesawat ini pun ada dilengakapi dengan pesawat ekstensi(cabang-cabang).

PMBX(PRIVATE MANUAL BRRANCH EXCHANGE)

Jenis pesawat ini tidak memungkinkan kita dapat berhubungan langsung tanpa melalui operator. Untuk menelepon, penelepon harus terlebih dahulu melalui operator, penelepon harus menekan nomor  yang telah ditentukan, setelah menayambung penelepon baru dapat berhubungan langsung dengan nomor telepon luar yang dikehendaki, umumnya menggunkan ekstensi.

PABX(PRIVATE AUTOMATIC BRANCH EXCHANGE)

Pesawat ini memungkinkan kita dapat berhubungan langsung tanpa melalui oprator. Penelepon dapat berhubungan lansung ke luar dengan cara memutar nomor khusus untuk memperoleh saluran keluar. Setelah itu penelepon baru memutar nomor telepon yang dikehendaki.

SWITCHBOARD (PAPAN SAMBUNG)

Yaitu alat komunikasi yang terdiri dari papan panel yang lebar, yang di dalamnya terdpat saklar-saklar dan istrument yang lain yang berfungsi untuk menyampaikan dari satu tempat ke tempat lain.

LOUDSPEAKING TELEPON (PENGERAS SUARA TELEPON)

Alat ini digunakan untuk memperbesar volume suara telepon. Keuntungan yang diperoleh dengan alat ini yaitu:

¯ Meningkatkan kemampuan kerja

¯ Meningkatkan efesiansi kerja

¯ Menerima teleppon tanpa harus meninggalkan pekerjaan yang ada.

TELEPHONE ANSWERING MACHINE(MENSIN PENJAWAB TELEPON)

Yaitu suatu alat yang dapat merekam/menjawab setiap pesan (berita) yang masuk.

b. Jenis Hubungan Telepon

Hubungan Antar Bagian, yaitu hubungan lansung antara bagian satu dengan bagian lain dalam satu kantor.

Hubungan Local, hubungan yang dilakukan pada satu lingkup daerah tertentu , yakni dalam satu kota. Pada hubungan ini tidak perlu menggunakan kode area tempat yang dituju.

Hubungan Interlokal, hubungan telepon antara dua orang secara lansung dengan jarak jauh, antar kota atau provinsi namun tetap dalam satu Negara.

Hubungan Internasional, yaitu hubungan telepon langsung berjarak jauh dari seseorang atau organisasi di suatu Negara dengan orang lain  atau organisasi Negara yang lain.

c. Peletakan Pesawat Telepon

Telepon Meja, yaitu telepon yang diletakkan dan ditempatkan di atas meja.

Telepon Dinding, yaitu telepon yang diletakkan dan ditempatkan pada dinding.

Telepon Mobil, kapal atau pesawat, yakni telepon yang diletakkan pada mobil, pesawat, kapal.

Telepon mobil atau telepon genggam, yakni telepon yang bisa dibawa kemana-mana oleh pemiliknya.

d. Cara Kerja Telepon

Hubungan Melalui Operator, tekan nomor operator sentral untuk hubungan perorangan, berikan nama dan nomor telepon orang yang akan dihubungi serta nomor pesawat telepon sendiri. Jika sudah berhasil menghubungi nomor yang diinginkan, operator sentral akan meminta hubungan dengan orang yang dikehendaki dan menuggu sampai orang yang dituju siap untuk bicara.

Hubungan Langsung, maksudnya penelepon menelepon sendiri tanpa operator, memutar kode /nomor SLJJ kemudian langsung bicara.

Hubungan Langsung dengan SMS, hubungan langsung jarak jauh bahkan melintas batas Negara dengan menggunakan layanan pesan pendek , yang bisa tertulis / melalui suara. Layanan ini banyak digemari karena cepat, murah, sekaligus tertulis sehingga bisa langsung mengingatkan.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 : ETIKA PENANGANAN TELEPON

1. Etika Bertelepon

Etika bertelepon yang baik adalah tata pergaulan  yang baik dalam berkomunikasi lisan melalui telepon, yakni berbicara dengan jelas, tegas, terkesan ramah, hangat, bersahabat dan juga tidak emosi. Hal-hal penting etika bertelepon yakni:

  • Jangan biarkan telepon berdering 2-3 kali segera diangkat.
  • Ketika bertelepon di kantor,  jangan membuka pembicaraan dalam menerima telepon dengan sebutan hallo, tetapi sebutkan nama dan perusahaan anda.
  • Jangan gunakan telepon untuk untuk diluar urusan  kantor, kecuali hanya sesekali dan seperlunya.
  • Bisa mendengarkan lawan bicara, dan berkonsentrasi dengan pihak penelepon.
  • Memberikan respon secara cepat dan lugas.
  • Berbicara seperlunya, dengan volume suara  cukup jelas, tegas dan lancar serta hangat dan bersahabat.
  • Menyiapkan perlengkapan seperlunya ketika akan menelepon, seperti nomor telepon yangn dituju, nama jabatan yang dituju, buku catatan dan pensil, serta materi pembicaraan.
  • Ketika bertelepon, tanyakan apakah penerima telepon punya waktu untuk berbicara, jangan menelepon sambil makan dan sejenisnya.
  • Catat poin pesan, minta nomor penelepon, mintalah maaf jika ada kesalahan, dan akhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih, dan letakkan telepon secara pelan.

Hal-hal yang harus dihindari sekretaris dalam komunikasi melalui telepon:

  • Memakai bahasa informal, terutama kepada orang yang belum akrab.
  • Berbicara dengan orang lain selagi berbicara di telepon.
  • Berbicara sambil makan sesuatu  atau mengunyah permen.
  • Berbicara dengan nada kasar atau membentuk
  • Berbicara dengan nada memerintah
  • Penelepon dibiarkan menuggu terlalu lama, tanpa penjelasan, hanya bunyi music yang diperdengarkan.
  • Penelepon ditransfer berkali-kali atau ditransfer ke alamat yang salah.
  • Nada dan intonasi terkesan malas atau tak ramah.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 : MENERIMA TELEPON

1. Langkah-langkah Dan Teknik Menerima Telepon

Teknik Mengangkat Telepon

Setiap kali telepon bordering harus segera diangkat, jangan sampai dering telepon berbunyi lebih dari 3 kali, sebab akan menggangu suasana kerja.

Menyiapkan buku catatan

Siapkan buku catatan dan alat tulis untuk mencatat hal-hal yang penting.

Memberi salam kepada penelepon

Berilah salam sesuai dengan waktu kepada penelpon, kemudian menyebutkan identitas perusahaan tempat kita bekerja.

Membuka pembicaraan.

Pada saat menjawab telepon, sekretaris tidak perlu memberikan jawaban yang mendetail, tetapi cukup menginformasikan hal-hal yang inti saja. Sekretaris ditantang untuk menjwab secara diplomatis setiap pembicaraan.

Hubungkan segera penelpon dengan yang dicari

Yakinkan siapa orang yang akan dihubungi, karena penelpon akan sangat kecewa bila yang dihubungi tidak sesuai dengan yang dikehendaki.

Menciptakan kesan yang baik

Penelpon ingin berbicara langsung dengan atasan perusahaan, jawablah dengan sopan dan lembut.

Apabila penelpon bersedia menuggu sebelum disambungkan kepada yang dituju, ucapakan terimakasih atas kesabaran menuggu.

Jika orang yang dicari/ diajak bicara oleh si penelpon sedang keluar, penerima telepon harus memberikan keterangan kepada penelpon tentang ketidakhadiran orang yang dicari. Selain itu berusaha untuk mendapatkan keterangan selengkap-lengkapnya tentang identitas penelpon.

Kadang-kadang penerima penelpon harus menjawab telpon dengan keadaan yang bukan sebenarnya

Mencatat pesan

Mencatat segala sesuatu yang diperlukan.

Memberikan keterangan yang jelas dan lengkap.

Menanyakan kepada penelpon nama dan nomor teleponnya.

Menghindari kesalahan-kesalahan isi pesan dari si penelpon dengan cara menyebutkan kembali pesan tersebut.

Sampaikan pesan tersebut kepada pihak yang berhak menerima.

KEGIATAN PEMBELAJARAN 4 : MENELEPON

1. Langkah dan Teknik Menelepon

a. Sebelum menelepon

  • Siapkan nomor telepon yang akan di hubungi, jangan mengangkat gagang telepon sebelum anda benar-benar yakin dengan nomor yang akan anda  tuju.
  • Sediakan buku catatan untuk mencatat hasil percakapan atau menulis pokok-pokok pembicaraan.

b. Saat menelpon

  • Angkat gagang penelpon dengan nada pilih
  • Putarlah nomor telepon yang diinginkan/ yang dituju
  • Sesuaikan nomor kode wilayah, apakah local, interlokal, atau international.
  • Apabila penelepon mendengar nada pilih, atau nada sedang sibuk, penelpon menutup telepon beberapa saat, kemudia dapat mengulang kembali menekan nomor yang dituju/ tekan tombol radial.
  • Bila hubungan telah tersambung dan pihak yang dituju telah mengangkat gagang telepon, sebelum mengutarakan maksud dan tujuan pastikan, bahwa nomor yang dituju benar.
  • Apabila sudah benar sebutkan identitas anda sebagai penelpon atau kantor penelpon
  • Ucapkanlah dengan jelas dan singkat maksud dan tujuan penelpon.
  • Catat semua jawaban yang diterima.
  • Berikan seluruh kesan ramah dan ucapkan salam penutup

c. Mengakhiri pembicaraan

Apabila anda sudah yakin bahwa semua data telah diperoleh, berilah salam penutup dan ucapkan terima kasih.

d. Meletakkan gagang telepon

Apabila pembicaraan  selesai,  letakkan gagang telepon dengan baik  dan perlahan, agar tidak mempunyai kesan marah dengan membanting telepon.

Jangan Katakan katakan
Halo! Selamat Pagi

Selamat Siang

Dst

Apa Maaf, apa dapat diulang
Ini siapa? Bolahkah saya tahu nama Bapak/Ibu?
Siapa atau Bapak/Ibu siap? Maaf, Pak/buk saya tadi kurang jelas, nama Bapak/ibu siapa?
Tunggu Mohon ditunggu
Bapak keluar atau Bapak tidak ada Maaf, ya Pak….

Sedang tidak ada tempat, bisa saya bantu?

Apakah bapak ingin berbicara dengan  yanglain?

Apakah Bapak/Ibu ingin meniggalkan pesan?

Bagaimana jika nanti kami telepon Bapak/Ibu kembali

Sedang berbicara di telepon ¯ Maaf, Pak…. Sedang berbicara di telepon lain, dapat ditunggu sebentar?
Sedang sibuk ¯ Maaf, Bapak ……/ tidak dapat diganggu(sedang ada tamu), apakah kami dapat menelpon kembali?

¯ Atau, apakah Bapak ingin meniggalkan pesan?

Nanti saya sampaikan ¯ Nanti saya beritahu Bapak…………. Bahwa Bapak menelpon  dan pesaqn Bapak akan saya sampikan.
Benar? Begitu? ¯ Apakah cukup demikian, Pak?

2. Hambatan-hambatan dalam menangani telepon

  1. Faktor alat

seperti: suara berisik, suara timbul tenggelam, suara mengecil, tidak terdengan nada kontak, nada sambung tidak terdengar & ditengah pembicaraan sambungan terputus.

  1. Faktor pemakaian

seperti: berbicara monoton & tidak jelas, bedecak/berbicara sambil makan, meninggalkan telepon sambil berbicara dengan orang lain, berbicara terlalu cepat, desah nafas yang terdengar, berbicara kotor & letak gagang telepon terlalu keatas/kebawah.

Bencana Alam

In ARSIP on 27 November 2010 at 1:38 pm



BENCANA ALAM

Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: “bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan”.

Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah “alam” juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia.

Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan/kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang hebat/luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.

Bencana berarti suatu kejadian yang menimbulkan kerusakan, penderitaan, kerugian bahkan kematian pada manusia ataupun lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas alam maupun manusia. Dari penyebabnya, bencana dapat dibagi 2 yaitu bencana alam dan bencana manusia. Dampak dari bencana sangat tergantung pada:

P Sumber/jenis bencana : mulai dari banjir, gempa bumi hingga tumbukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban manusia.

P Kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana: manajemen dan deteksi dini bencana seperti pengungsian.

P Tempat /lokasi : Aktivitas alam tidak akan menjadi bencana di daerah tidak berpenghuni, misalnya gempa bumi di pulau tidak berpenduduk.

P Daya tahan manusia dan lingkungan : seberapa kuat manusia dan lingkungan menghadapi bencana (teori evolusi)

Setiap bencana baik alam maupun karena human error, meninggalkan duka, trauma, kesan, dan sejarah yang tak terlupakan, baik oleh korban dan keluarganya maupun penduduk dunia. Untuk mengingat kembali bencana-bencana terbesar yang terjadi di nusantara, baik alam maupun kecelakaan (dalam hal kecelakaan transportasi udara, darat dan laut) yang terus dikenang oleh masyarakat sepanjang sejarah.

Berikut ini beberapa ulasan mengenai bencana alam yang  terjadi di Indonesia

BANJIR LUMPUR PANAS SIDOARJO

Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.

Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun.

J Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.

J Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.

J Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.

J Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.

J Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)

J Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.

J Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan

J Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat penanggulangan lumpur.

J Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah

J Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam

J Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.

J Tak kurang 600 hektar lahan terendam.

J Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.

Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun demikian, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul. Jika dalam tiga bulan bencana tidak tertangani, adalah membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektar, dengan mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas.

Badan Meteorologi dan Geofisika meramal musim hujan bakal datang dua bulanan lagi. Jika perkira-an itu tepat, waduk terancam kelebihan daya tampung. Lumpur pun meluap ke segala arah, mengotori sekitarnya.

Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) memperkirakan, musim hujan bisa membuat tanggul jebol, waduk-waduk lumpur meluber, jalan tol terendam, dan lumpur diperkirakan mulai melibas rel kereta. Ini adalah bahaya yang bakal terjadi dalam hitungan jangka pendek.

Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di antaranya, para pakar dari ITS, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang menangani penanggulangan lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur yang telah terhampar di atas tanah.

LETUSAN GUNUNG BERAPI

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa ledakan besar gunung berapi bisa berdampak pada cuaca, lewat semburan partikel-partikel vulkanik yang menghalangi energi matahari dan mendinginkan udara. Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa musim dingin vulkanik akibat ledakan besar gunung berapi telah ikut memusnahkan dinosaurus dan manusia purba Neanderthal.

Pada musim panas pasca erupsi Gunung Tambora di Indonesia pada 1815, es telah merusakkan tanaman sampai sejauh New England, Amerika Serika, sementara ledakan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 telah menurunkan rata-rata temperatur global 0,7 derajat Fahrenheit sehingga cukup menahan dampak gas efek rumah kaca hasil ulah manusia selama setahun atau lebih.

Kini para ilmuwan berhasil memperlihatkan bahwa letusan gunung berapi juga berdampak pada curah hujan pada musim kemarau Asia, di mana badai musiman mengairi tanaman untuk makan hampir setengah penduduk Bumi. Para peneliti lingkar pohon pada Observatorium Bumi Lamont-Doherty di Universitas Colombia memperlihatkan bahwa erupsi besar cenderung mengeringkan wilayah tengah Asia, namun menciptakan lebih banyak hujan di negara-negara Asia sebelah selatan, termasuk Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand dan Myanmar. Penemuan baru ini bertentangan dengan prediksi kebanyakan model iklim. Hasil penelitian mereka muncul dalam versi online jurnal Geophysical Research Letters.

Pertumbuhan lingkar sejumlah spesies pohon bisa dikaitkan dengan intensitas curah hujan. Laboratorium Lingkar Pohon observatorium itu menggunakan lingkar pohon dari sekitar 300 tempat di seantero Asia untuk mengukur dampak 54 erupsi gunung berapi dalam kurun 800 tahun. Data didapat dari peta lingkar pohon berumur 1000 tahun yang diteliti Observatorium Lamont, yang diketahui mencatat kekeringan panjang yang membinasakan.

Para peneliti juga telah menyelenggarakan pula penelitian terdahulu tentang pendinginan suhu di wilayah tropis. “Kami mengira daratan bumi dan atmosfer itu dua hal berbeda, tetapi sungguh semua hal dalam sistem itu saling berkaitan. Gunung-gunung berapi menjadi pemain-pemain penting dalam iklim dari waktu ke waktu,” kata Kevin Anchukaitis yang menjadi kepala penelitian tersebut. Erupsi-erupsi eksplosif yang dahsyat telah memuntahkan senyawa belerang yang berubah menjadi partikel-partikel sulfat kecil-kecil di atmosfer, lalu menangkis radiasi sinar matahari. Pendinginan permukaan Bumi yang diakibatkannya bisa berlangsung bulanan atau bahkan tahunan.

Tapi tak semua erupsi akan berakibat seperti ini. Contohnya erupsi terus menerus Gunung Merapi yang telah menewaskan banyak orang. Letusan gunung berapi ini kemungkinan besar tak cukup mampu mengubah iklim dunia. Dalam soal curah hujan, berdasarkan model yang paling sederhana, suhu yang turun bakal mengurangi penguapan air dari permukaan ke udara, sementara uap air yang sedikit berarti hujan juga bekurang. Tapi keadaan itu menjadi demikian rumit karena ada faktor pola sirkulasi atmosferik, siklus perubahan suhu di samudera-samudera, dan bentuk massa tanah.

RENTETAN AKTIVITAS MERAPI SAAT KEJADIAN

Intensitas merapi

Intensitas gempa vulkanik Gunung Merapi pada Minggu pukul 00.00-00.06 WIB kembali meningkat dibanding dua hari sebelumnya. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, berdasarkan laporan hasil pemantauan aktivitas Gunung Merapi hingga pukul 06.00 WIB telah terjadi 31 kali gempa vulkanik.

“Intensitas gempa vulkanik tersebut meningkat cukup tinggi dibanding Jumat dan Sabtu. Pada Jumat (5/11) sama sekali tidak ada gempa vulkanikSelain meningkatnya intensitas gempa vulkanik, Gunung Merapi juga masih terus meluncurkan awan panas dan awan panas beruntun terjadi pada pukul 03.02 WIB yang meluncur ke Kali Gendol dan Kali Woro. “Rentetan awan panas tersebut diawali dengan terjadinya gempa vulkanik.

Sementara itu, suara gemuruh Gunung Merapi juga masih terdengar secara beruntun dari Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Prambanan, Klaten Jawa Tengah, pada pukul 03.00-05.30 WIB. Kolom asap letusan setinggi enam kilometer (km) berwarna kelabu condong ke arah barat yang terlihat dari Kecamatan Kemalang, Klaten dan kilat terlihat dari Yogyakarta.

Aktivitas Merapi meningkat kembali sekitar pukul 03.02 WIB. Tremor dan awan panas yang sulit dihitung terjadi beruntun. Demikian laporan berkala Badan Geologi di Yogyakarta hingga pemantauan pukul 06.00 WIB, Minggu (7/11/2010). Selain tremor dan awan panas, guguran juga terpantau terjadi beruntun.

Sedangkan laporan secara visual menunjukkan, “pada pukul 03:00-05:30 WIB, suara gemuruh terdengar beruntun dari Kecamatan Kemalang dan Kecamatan Prambanan. Kolom asap letusan setinggi 6 km berwarna kelabu, condong ke barat terlihat dari Kecamatan Kemalang dan kilat terlihat dari Yogyakarta.”.

Dilaporkan juga sejak pukul 03:02 terjadi awan panas beruntun mengalir ke arah Kali Gendol dan Kali Woro. “Gempa vulkanik mengawali terjadinya awanpanas, jumlahnya meningkat dari hari sebelumnya,”. Banjir lahar juga mengancam. “Semakin bertambahnya material erupsi di sepanjang alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Merapi dan tingginya intensitas hujan di sekitar Gunung Merapi, maka berpotensi terjadi banjir lahar,”

Awan panas 60 km

Awan panas memang masih terjadi, dan antara pukul 11.00 hingga pukul 12.00 WIB pada hari itu terdengar suara gemuruh cukup keras dari Gunung Merapi. “Awan panas pada hari itu jarak luncurnya sejauh 1,5 kilometer hingga lima kilometer, dan dominan ke arah hulu Kali Gendol dan Woro, dalam beberapa hari terakhir arah luncuran awan panas ke hulu Kali Gendol, Boyong, dan Kali Krasak.

Kali Gendol saat ini sudah dipenuhi endapan awan panas, karena awan panas terus-menerus terjadi sejak letusan pada 26 Oktober 2010. “Kali Gendol sekarang sudah penuh dengan endapan awan panas, dan apabila masih terus bertambah dengan volume yang sama, maka jika terjadi awan panas yang menuju ke sungai itu jarak luncurnya bisa jauh. Meskipun luncuran awan panas bisa jauh, tidak akan lebih dari 20 kilometer. Namun, yang harus diwaspadai, awan panas Merapi saat ini terjadi terus menerus, dan setiap saat luncurannya bisa berubah arah.

Jembatan Kali Kuning, yang terletak antara Desa Umbulharjo dan Hargobinangun, Sleman, Yogyakarta, dipenuhi oleh material lahar dingin berupa pasir dan abu. Ketebalan lahar yang sudah mengering ini sekitar 5-10 cm. Pasir dan abu yang menutupi jembatan itu diperkirakan berasal dari lahar dingin yang sempat meluap.

Pantauan detikcom, Minggu (7/11/2010), lahar dingin di jembatan yang berfungsi sebagai DAM ini hanya tinggal beberapa centimeter lagi akan meluap. Ini disebabkan karena dari 5 lobang aliran air, hanya berfungsi satu. Selebihnya, lobang tersumbat oleh material dan sampah pohon-pohon tumbang. Jembatan Kali Kuning, yang terletak sekitar 13 km dari Merapi ini, adalah satu-satunya akses Desa Hargobinangun dan Umbulharjo dengan desa-desa lain seperti Kepuharjo dan Glagaharjo. Jembatan masih bisa dilalui. Hanya saja jembatan masih licin karena material vulkanis tersebut. Sebagian kecil penduduk ada yang mencoba naik untuk sekadar membawa pakaian, lalu kembali turun.

Aktivitas Seismik

Aktivitas seismik Gunung Merapi hingga Minggu, pukul 12.00 WIB, masih tinggi yang ditandai dengan gempa tremor, guguran, awan panas beruntun, dan 31 kali gempa vulkanik. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Minggu, aktivitas seismik Gunung Merapi hingga saat ini masih tinggi sehingga kalangan masyarakat diminta waspada dengan mematuhi jarak aman dalamradius 20 kilometer.

Laporan pengamatan Gunung Merapi dari Pos Ketep melaporkan pada Minggu, pukul 09.00 WIB, telah terjadi banjir lahar skala kecil di Kali Pabelan Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang diikuti hujan abu dan pasir dalam radius 10 km dari puncak Gunung Merapi. Masyarakat di Ring Road Barat Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih mendengar suara gemuruh dan menggelegar dari puncak gunung yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Energi Merapi

Energi yang tersimpan di Gunung Merapi masih cukup besar sehingga Badan Geologi masih belum dapat memprediksi kapan letusan gunung api aktif tersebut akan berakhir. “Sejak 3 November 2010 hingga kini Merapi telah empat hari meletus tanpa henti yang berarti bahwa energi yang tersimpan di gunung tersebut masih tetap tinggi,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), R. Sukhyar, di Yogyakarta, Minggu.

Energi yang dikeluarkan Gunung Merapi sejak letusan 3 November hingga 7 November 2010 masih terus berlangsung hingga sekarang, bahkan lebih besar dibanding letusan pertama yang terjadi pada 26 Oktober 2010. Energi letusan Gunung Merapi pada 3-7 November 2010 tiga kali lebih besar dengan energi letusan pada 26 Oktober 2010. Kawah berdiameter 400 meter yang telah terbentuk di puncak Merapi lebih terbuka ke selatan atau mengarah ke Kali Gendol, sehingga diharapkan awan panas yang diluncurkan Merapi akan mengarah ke kali tersebut.

Gunung Merapi memuntahkan abu vulkanik saat bererupsi. Abu yang sangat halus ini bukan sembarang abu karena bisa membuat mesin pesawat tak berfungsi, merobohkan rumah dan pohon, serta membuat tanaman layu. Kalau kita lihat, sejarah atau riwayat dari abu vulkanik ini adalah magma yang membeku. Tadinya magma itu merah seperti cairan besi. Lalu ketika terlontar ada kontak dengan atmosfer lalu membeku.

Lontaran yang sangat kuat ini karena dari dalam Merapi ada tekanan gas yang sangat kuat, sehingga meledak terlempar ke atas. Ketika meledak,
pecahannya juga bermacam-macam. Pecahannya ada bongkahan batu besar, kerikil, dan ada juga partikel yang halus. Yang berat jatuh di sekitar puncak Merapi, sedangkan pasir jatuhnya agak jauh. Lalu yang debu agak jauh lagi. Partikel itu kalau menempel di daun bisa menyebabkan mulut daun tertutup. Kalau sudah begitu maka nggak bisa menyedot oksigen. Selanjutanya proses forosintesis terganggu. Makanya kalau tertutup lama, tanaman akan menjadi layu, petani bisa gagal panen.

BENCANA WASIOR

Korban akibat bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat, terus bertambah. Hingga pagi ini, korban tewas yang berhasil ditemukan mencapai 134 orang.
Demikian disampaikan Sekretaris PMI Papua Barat Abidin saat dihubungi okezone, Sabtu (8/10/2010). Dia menjelaskan, korban tewas yang berhasil ditemukan terdiri 105 orang ditambah 29 orang yang dinyatakan hilang sebelumnya dilaporkan sudah ditemukan dengan kondisi telah meninggal dunia. Sehingga, total korban tewas mencapai 134 orang.

“Saat ini terus dilakukan pencarian korban lainnya,” ungkap Abidin. Warga, kata dia, sangat membutuhkan pasokan air mineral dan bahan makanan.  “Sumber air rusak, MCK rusak, rumah rusak berat, sehingga butuh air mineral, sanitasi, dan pangan akibat sebagian besar toko tutup karena banyak pengusaha yang mengungsi ke Manokwari,” paparnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bantuan terus mengalir namun terkendala transportasi. Saat ini, PMI masih melakukan kegiatan pendataan dan mulai mendistribusikan logistik berupa familykid 250,babykit 90. “Selain itu melakukan penyemprotan di beberapa lokasi,” imbuhnya. Seperti diketahui, banjir bandang di Papua Barat terjadi pada Senin 4 Oktober 2010 sekira pukul 06.00 WIT. Lokasi kejadian terletak di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat di mana lokasi yang terkena dampak yaitu Wasior I, Wasior II, Rado, Moru, Maniwak, Manggurai, Wondamawi, dan Wondiboy.

TSUNAMI ACEH

Tsunami yang menghantam Pagai Utara Selatan terjadi 15 menit pasca gempa 7,2 skala richter juga merusak sejumlah kawasan di Kabupaten Mentawai, kawasan resort makroni dikabarkan rusak berat akibat diterjang tsunami, kapal pesiar yang ditumpangi turis asing juga dikabarkan masih hilang kontak. Tsunami mentawai sudah tewaskan 108 orang dan 502 hilang, korban tewas akibat terjangan tsunami di kepulauan mentawai, termasuk 2 warga Negara Australia. Data ini merupakan laporan yang berhasil dihimpun petugas dari lokasi kejadian.

Gelombang tsunami mencapai Padang hanya setinggi 46 cm, peringatan tsunami pun dicabut setelah beberapa waktu, namun rupanya tsunami di mentawai sempat tidak terpantau. Korban akibat tsunami tersebut ternyata bukan hanya warga di sekitar tempat tersebut melainkan banyak warga asing juga, dan kabarnya ada sekitar sembilan orang peselancar yang ikut menjadi korban tsunami tersebut.

Mereka dinyatakan hilang setelah kapal yang ditumpanginya itu diterjang gelombang pasang tsunami, saat kejadian tersebut para peselancar tersebut sedang berada di Mentawai untuk berselancar. Menurut kabar yang didapat dari korban yang selamat, dua kapal yang ditumpangi warga Australia birtu berbenturan setelah diterjang gelombang tsunami sampai, sampai kedua kapal tersebut terbakar sampai penumpangnya hilang, dan sampai sejauh ini belum ada kabar tentang korban tersebut.

10 Bencana Alam Terbesar Sepanjang Sejarah

Berikut ini 10 bencana alam terbesar (korban meninggal lebih 100 orang) yakni :

N  Tsunami 26 Desember 2004 di Aceh, Nias, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Korban lebih 200.000 orang (150.000 orang di Aceh dan Nias). Ketinggian tsunami mencapai 35 meter karena gempa tektonik 8.5 SR di Samudera Hindia.

N  Gunung Tambora meletus, tahun 1815. Korban 92.000 orang.

N  Tsunami Gunung Krakatau meletus, 26 Agustus 1883. Korban 36.417 orang.

N  Gempa tektonik 6.2 SR di Yogyakarta, 27 Mei 2006. Korban 6.234 orang.

N  Gunung Kelud, meletus 19 Mei 1919. Korban 5.115 orang.

N  Tsunami Ende, Flores-NTT, 12 Disember 1992. Korban 2100 orang.

N  Gempa bumi 6,5 SR Sulawesi Tengah, 4 Mei 2000. Korban 386 orang.

N  Tsunami pantai selatan Jawa (Pangandaran) 17 Juli 2006. Korban lebih 341 orang.

N  Tsunami Banyuwangi-Jawa Timur pada 3 Juni 1994. Korban 208 orang.

N  Tsunami Sumba-NTT, 19 Agustus 1977. Korban 189 orang.

10 Bencana Transportasi Terbesar Sepanjang Sejarah

Berikut ini 10 bencana transportasi terbesar (korban meninggal lebih 100 orang) yakni

N  Kapal Tamponas, 2 January 1981 – terbakar dan tenggelam di Laut Jawa, 580 orang tewas.

N  Kapal Cahaya Bahari, 29 Juni 2000 – tenggelam di Sulawesi, 550 orang tewas.

N  Kapal MV Senopati Nusantara, 29 Desember 2006 – tenggelam dekat Pulau Mandalika, lebih 461 orang tewas.

N  Kapal Bismas Raya, 2 Oktober 1999 – tenggelam di Merauke-Papua, 361 orang tewas.

N  Kapal Gurita : January 1996 – tenggelam di Sabang-Aceh, 338 orang tewas.

N   Pesawat Garuda Indonesia GA-152, 26 September 1997 – jatuh di Sibolangit-Medan, 222 orang dan 12 awak tewas. (Bencana pesawat terbang terburuk dalam sejarah Indonesia)

N  Kapal KMP Digul, 8 Juli 2005 – tenggelam di Merauke-Papua, 200 orang tewas.

N  Pesawat Adam Air Flight 574, 1 Januari 2007 – jurusan Jakarta-Manado via Surabaya jatuh di Selat Makassar di kedalaman 2.000 meter, 102 orang dan awak tewas terkubur di dasar laut bersama pesawat.

N   Kereta Api Bintaro Jaya, 31 Oktober 1987 – bertabrakan di Jakarta, 102 orang tewas.

N  Pesawat Mandala Airlines RI-091 Boeing 737-200 :  5 September 2005 – gagal take off dari Bandara Polonia (Medan-Jakarta) dan menabrak perumahan penduduk di Medan, 100 orang dan awak tewas serta 41 penduduk tewas.

WASPADA BENCANA ALAM

Menghadapi Bencana dan Menghindari Jatuhnya Korban

Apabila terjadi kejadian bencana, maka rasa panik, bingung dan ketakutan akan segera menyerang. Tak jarang jatuhnya korban jiwa lebih karena disebabkan ketakutan dan kepanikan yang terjadi bukan karena akibat langsung dari terjadinya bencana. Berikut hal-hal yang dapat dijadikan pedoman untuk menghadapi terjadinya bencana supaya dapat menghindari adanya korban jiwa.

1. Bencana Gempa Bumi
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.

b Di dalam rumah

Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah kebawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.
Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di sekolah

Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

Di luar rumah
Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnyakaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.

Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.

Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuhseandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

Di dalam mobil
Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil, jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.

Di gunung/pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung, menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.

2. Bencana Banjir Bandang

Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa.

Adapun yang harus dilakukan saat banjir adalah :

b  Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.

b  Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.

b  Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.

b  Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang harus dilakukan saat banjir

b  Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.

b  Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.

b  Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.

b  Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.

3. Bencana Tanah Longsor

Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.

Strategi dan upaya penanggulangan bencana tangah longsor:

b  Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya.

b  Mengurangi tingkat keterjalan lereng.

b  Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan maupun air tanah. Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah.

b  Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.

b  Terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras – teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).

b  Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).

b  Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat.

b  Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan.

b  Pengenalan daerah rawan longsor.

b  Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).

b  Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.

b  Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction.

b  Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel.

b  Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.

4. Bencana Tsunami

Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan(run-up) berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yangterjadi pada saat letusan gunung api Krakatau tahun 1883.

Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah terjadinya gempa bumi besar di bawah laut. Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri.
penyelamatan diri saat tsunami :

b  Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.

b  Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat kepantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.

5. Bencana Gunung Berapi

Letusan gunung api adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif, sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi.

Hal yang bisa dilakukan jika terjadi letusan gunung berapi :

b  Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.

b  Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.

b  Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.

b  Jangan memakai lensa kontak.

b  Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung.

b  Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.

Setelah terjadi letusan gunung berapi :

b  Jauhi wilayah yang terkena hujan abu.

b  Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.

b  Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin.

Composting

In ARSIP on 27 November 2010 at 1:06 pm

COMPOSTING

Composting merupakan proses biodegradasi bahan-bahan organic yang terdapat dalam sampah/limbah (sampah padat serta lumpur lumpur buangan). Melalui sebuah aktivitas mikrobiologis selama proses composting, bahan-bahan organik dirombak ke bentuk yang lebih stabil berupa bahan-bahan humus dan bersamaan dengan proses tersebut terbentuk panas sebagai hasil perombakan bahan patogen.

Di tahun 1974 Departemen Pertanian Amerika Serikat di Beltsville, Maryland mengembangkan compos dengan metode apa yang disebut “Static Pile”. Metode ini digunakan sekitar 200 kota-kota besar di Benuar Amerika antara lain Kota Durham, N.H., Bangor, Me., Portland, Me., Greenwich, Ct., Camden, N.J., Philadelphia, Pa., Washingtong, D.C., Columbus, Ohio, dan Windsor, Ontario, dan Canada.

Tujuan Pembuatan Kompos :

1.        Menghindari pencemaran atau kerusakan lingkungan

2.        Melestarikan kehidupan makhluk hdup yang terdapat di suatu lingkungan tertentu

3.        Menjaga keseimbangan ekosistem makhluk hidup yang terdapat di dalam lingkungan

4.        Mengurangi sampah organik

5.        Menambah penghasilan dengan menjual hasil daur ulang

6.        Mendapatkan sumber energi alternatif. misalnya, sebagai sumber pembangkit listrik

Mendapatkan bahan baku untuk beberapa produk.

7.        mengurangi ritasi transportasi sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang

8.        Bisa diolah menjadi energi bio arang, biomass dan energi untuk listrik.

Keuntungan menggunakan pupuk kompos :

a.         Merupakan jenis pupuk yang menguntungkan.

b.        Bahan yang dipakai tersedia, tidak perlu membeli.

c.         Masyarakat dapat membuatnya sendiri, tidak memerlukan peralatan dan instalasi mahal.

d.        Unsur hara dari pupuk kompos ini akan bertahan lama jika dibandingkan dengan pupuk buatan

e.         struktur tanah menjadi ber-remah, mudah ditembus akar tanaman dan tidak menahan air porus.

f.         pupuk organic adalah jenis pupuk yang  melakukan pelepasan unsur haranya secara perlahan-lahan. Oleh karena itu, kondisi kesuburan tanah dapat berlangsung dengan agak lama.

g.        semakin banyak akumulasi pupuk organik, kesuburan akan semakin bertahan lama dan dapat meningkatkan hasil produksi.

h.        bakteri fermentasi dalam kompos berpengaruh positif terhadap daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit.

i.          Dalam composting, proses pengomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.

j.          dapat dijadikan objek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan.

Hal-hal yang berkaitan dengan kompos antara lain:

Proses-proses biologis

Proses biodegradasi terhadap lumpur serta stabilisasi fraksi bahan organik sebagai kompos sangatlah bergantung kepada interaksi optimal antara suhu, oksigen, kelembaban serta perbandingan carbon dan nitrogen.

a. Suhu (Temperature), pada poses composting populasi hewan-hewan microbial akan berubah selama proses composting berlangsung. Diawali dari perubahan suhu ambient ke keadaan mesophilic [40 – 45oC]. Bila panas yang terbentuk dapat dipertahankan/ditampung dalam sistem maka suhu akan berubah dari tahapan mesophilic ke tahapan thermophilic. Bakteri mesophilic akan digantikan oleh bakteri thermophilic serta organisme lainnya seperti jamur dan aktinomycetes. Bakteri bentuk spora seperti bakteri thermophilic actinomycetes ditemukan pada suhu diatas 70oC. Kebanyakan proses perombakan (decomposition) terjadi pada tahap thermophilic yakni adanya bakteri-bakteri perombak yang tahan terhadap suhu tinggi. Sebagai indikasi awal suhu tinggi di atas 55oC akan efektif menghancurkan organisme patogen. Setelah beberapa minggu proses composting, suhu mulai menurun dan bahkan kemudian organisme thermophilic memberikan perluang adanya organisme mesophilic.

b. Udara (Oxygen), proses composting dapat berlangsung pada kondisi tanpa udara (kurang oksigen) maupun ada udara. Proses kompos dengan adanya oksigen prosesnya tidak hanya berlangsung lebih cepat akan tetapi juga tidak menghasilkan kebauan (malodors). Kondisi ada udara bisa dilakukan melalui cara membalik-balikkan material organik atau memberikan tekanan udara melalui massa material organik tersebut. Tingkat adanya oksigen yang optimum antara 5% – 15%.

c. Kelembaban (Moisture), tingkat kelembaban optimum untuk proses composting antara 50% – 60% by weight. Dibawah 40% proses dekomposisi akan berkurang sedangkan di atas 60% ruang pori yang penting untuk proses composting aerobik akan terblok oleh air dan kondisi anaerobic (tanpa udara) bisa terjadi. Kelembaban ini juga akan mempengaruhi proses dan penanganan material dalam operasi composting.

d. Perbandingan Carbon dan Nitrogen, perbandingan ketersediaan unsure carbon dan nitrogen merupakan factor yang memegang peranan penting dalam proses decomposition bahan-bahan material organik. Unsur carbon merupakan sumber energi bagi mikroorganisme sedangkan unsur nitrogen penting untuk proses sintesa protein. Perbandingan ideal antara C/N antara 25 dan 30. Untuk sampah padat memiliki ratio yang tinggi (35 hingga 80).

Aliran Proses

Ada dua prinsip metode proses composting aerobik yaitu:

1.        Menggunakan metode agitasi atau pembolak-balikan material organik agar didapatkan kondisi aerobik,

2.        Menggunakan metode mekanis dengan cara memasukkan udara ke dalam sistem.

Dalam banyak kasus, lumpur saluran pembuangan di campur dengan sejumlah material, limbah organik padat atau kompos kering. Pencampuran yang baik sangatlah esensial. Untuk sampah organik padat, proses grinding sangat esensial untuk meningkatkan area permukaan dan mempercepat proses composting. Campuran-campuran ini kemudian disimpan pada windrows, pipe teraerasi, tanki, drum-drum atau pada silo. Campuran tersebut akan menjadi compos untuk waktu 14 – 21 hari.

Pertimbangan Perancangan

Pemilihan sistem composting serta desain fasilitas bergantung pada setiap aspek seperti lokasi operasi, iklim, karakteristik limbah organik, serta tipe/jenis bahan material bulking yang ada.

a. Lokasi (Site), dua pertimbangan penting mengenai lokasi yakni lokasi dan tersedianya lahan. Idealnya tempat composting berada dekat dengan land fill area atau berdekatan/berbatasan terhadap instalasi wastewater treatment. Untuk operasi composting yang tidak intensif memerlukan lahan tanah 1 acre (0.4 ha) untuk menghasilkan 6 ton Lumpur padat kering setiap harinya.

b. Iklim (Climate), suhu ambient yang dingin jarang mempengaruhi proses composting akan tetapi dapat membekukan sampah yang padat atau lumpur. Pada lokasi dengan curah hujan yang tinggi maka diperlukan penutup.

c. Karakteristik Lumpur, persentase bahan material padat mempengaruhi penanganan material, pemilihan material bulking, dan jumlah yang dibutuhkan. Lumpur dengan 17% kandungan padatan memerlukan 3 bagian bulking agent terhadap 1 bagian lumpur, sedangkan 25% bahan padatan memerlukan antara 1,5 – 2 volume bagian bulking material.

d. Karakteristik Sampah Padat, sampah padat antara lain kertas, logam, sampah, gelas/kaca, dan plastik perlu untuk ditanam.

e. Bulking Materials, fungsi bulking material adalah mengatur kelembaban massa material, mengatur perbandingan C/N, memberikan struktur porosity terhadap massa material. Kebanyakan bulking material ini berupa serpihan kayu (woodchips), serbuk gergaji (sawdust), solid waste, carikan karet ban (shredded rubber tires), jerami (straw), dedaunan (leaves), serpihan semak (brush chips), kulit kayu (bark) and compost.

f. Penanganan Material, proses pengadukan paling baik dilakukan dengan auger feed mixer atau pugmills.

Pembuatan kompos secara umum dapat dilakukan dengan cara-cara berikut :

1) Menyiapkan reactor kompos (komposter)

Reactor kompos adalah alat atau tempat yang digunakan untuk seluruh proses pengomposan alat ini dapat dibuat dari drum bekas. Pembuatan kompos merupakan proses aerob yang melibatakan mikroorganisme (bakteri dan fungi), sehingga diperlukan sistim ventilasi yang baik. Selain ventilasi, yang perlu dikendalikan adalah komponen suhu dan kelembapan udara jika reactor tidak memiliki sistim ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi akan menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.

2) Mempersiapkan bahan organic

Sampah organic yang di siapkan bisa disiapkan dari apa saja misalnya sayuran, nasi, sisa makanan, jerami, kotoran ternak dan sebagainya. Agar kompos tidak berbau hindari memasukan daging, tulang dan minyak. Sebelum dimasukan kedalam reactor, bahan tersebut dipotong kecil-kecil agar proses dekomposisi menjadi lebih cepat.

Selanjutnya ialah mencampurkan bakteri pengurai kedalam bahan organic yang telah dipotong-potong, sumber bakteri untuk membantu penguraian yang paling mudah didapat adalah kotoran ternak,  selain itu bakteri tersebut juga dijual di took-toko penjual pupuk seperti: EM4 (Effective Microorganism 4), Organic Decomposer dan Green Phoskko.

3) Penyiraman dan pengadukan

Agar proses pengomposan berjalan dengan  sempurna, media harus mengandung kira-kira 50% air. Melalui penyemprotan media kompos dan membolak-balikan media.

4) Panen

Setelah 2-3 minggu, kompos siap untuk dipanen. Kompos yang dihasilkan masih mengandung air kira-kira 50%, untuk mendapatkan kompos kering lumpur tadi harus dijemur.

Kompos yang baik memiliki ciri-ciri sbb:

a.         Tidak berbau, berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah.

b.         Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspense.

c.         Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah.

d.        Nisbah C/N sebesar 10-20, tergantung pada bahan baku dan derajat humifikasinya.

C/N adalah nilai atau perbandingan antara unsur Carbon dan Nitrogen.

e.         Suhu yang dicapai ± sama dengan suhu lingkungan.

 

 

PEMBUATAN KOMPOS RUMAH TANGGA

1. Prinsip pengomposan Sampah rumah tangga mengandung bahan organik + 75%. Proses pengomposan menyesuaikan diri dengan tersedianya bahan baku, yang tidak sekaligus terkumpul dalam jumlah besar, melainkan sedikit demi sedikit setiap hari. Kondisi ini seperti terjadi di alam di lantai hutan, dimana sisa-sisa organik jatuh keatas tanah selapis demi selapis sampai menjadi tebal.

2. Proses perombakan-fermentasi organisme tanah terjadi dari bawah merambat ke atas mengejar bahan baku yang baru jatuh, diikuti terbentuknya humus dari bawah ke atas pula. Kecepatan pengomposan sangat tergantung a.1. pada komposisi bahan baku, perbandingan kadar C (bahan berserat tinggi) dengan kadar N (jenis kacangan, pupuk kandang, dsb.). Untuk bahan baku kompos yang optimal perbandingan C/N = + 30, hasil akhir humus atau kompos yang matang C/N = 12-15

3. Cara dan Alat Membuat kompos yang sebenarnya mudah dan sederhana, tetapi karena lokasinya di pekarangan rumah harus bebas dari polusi bau, lalat, binatang berbahaya dan bebas dari gangguan ayam, anjing, kucing, dsb. Apalagi sisa-sisa organik tidak terkumpul sekaligus tetapi berangsur setiap hari dari buangan dapur dan kotoran pekarangan.

4. Untuk pembuatan kompos di pekarangan rumah, dibutuhkan dua macam wadah : 1. Wadah besar, penampung bahan baku dan tempat terjadinya proses pengomposan, yang disebut “Komposter” dan ditaruh di pekarangan di tempat teduh. 2. Wadah kecil berupa ember plastik kecil bertutup, tempat penampungan sementara sisa organik dapur.

5. Alat Komposter paling praktis dan aman adalah alat yang direkomendasikan STU Campbell (buku “let It Rot”, Storey Books, Vermont 1998) untuk dipakai di pekarangan rumah. Komposter ini dibuat dari drum bekas 200 liter, dinding atas dibuang, dan dinding dasar pada tengahnya dilobangi untuk dapat dimasuki pipa PVC 3-4 inci, yang juga berfungsi drainase.

6. Pada pipa PVC berjarak 5 cm dibuat lobang (bor) sepanjang empat sisinya. Drum dipasang berdiri, diberi ganjal 2-3 lapis batu bata. Pipa PVC dimasukkan ke lobang dasar, sampai ujung bawah menyentuh tanah dan ujung atas menonjol keatas drum + 10 cm, menembus tengah-tengah tutup tambahan (bisa dibuat dari tripleks). Ember Kecil Ember plastik 5 l – 10 l yang ada tutupnya, disediakan khusus untuk penampungan sementara (1-2 hari) sisa organik dapur dan selalu ditaruh di dapur dalam keadaan tertutup.

7. Cara Kerja Komposter (drum) ditaruh di pekarangan di tempat teduh. Sebaiknya dibuatkan tutup atas dari tripleks yang tengahnya berlobang tempat munculnya pipa PVC. Setiap kali pembersihan halaman, kotoran berupa rontokan daun, potongan pagar rumput, dll dimasukkan ke dalam komposter, diratakan, sedikit dipadatkan dan diatasnya ditaburi selapis kotoran ternak lama, kompos baru atau setengah matang, tanah subur hitam, dsb. sebagai starter

8. penambah N dan organisme tanah. Kalau terlalu kering diberi air agar lembab dan ditutup untuk mencegah dari hujan berlebihan, terik matahari dan pencemaran lalat. Untuk memudahkan didekat komposter disediakan wadah berisi starter (kotoran ternak, dll) yang selalu ditutup. Setiap satu atau dua hari sekali, kotoran dapur dalam ember kecil yang sudah penuh, juga dimasukkan, diratakan dan dilapisi starter.

9. Demikian pengisian dilakukan setiap kali terkumpul sisa organik atau kotoran dapur baru, sampai komposter penuh, yang memakan waktu 1 bulan – 2 bulan untuk keluarga sedang. Setelah penuh, ditutup dan dibiarkan tidak dibalik-balik selama + 1 bulan yang diperkirakan pengomposan sudah selesai menjadi matang berupa kompos berwarna hitam, remah dan berbau segar. Komposter dikosongkan, isinya diangin-anginkan, langsung dapat dipergunakan sendiri atau disaring (saringan kawat kasa) dibungkus dan dijual.

10. Proses pengomposan terjadi sejak awal bahan organik dimasukkan, dan merambat keatas mengikuti bahan organik baru. Disini akan terjadi proses fermentasi panas oleh bakteri termofilik, karena suhu dapat meningkat didalam komposter tertutup, yang juga berguna membunuh bibit hama- penyakit dan gulma. Komposter I yang sudah penuh dan sedang dalam proses pemasakkan, digantikan komposter II yang sudah disiapkan dan nanti setelah komposter I selesai dokosongkan, disiapkan untuk menggantikan komposter II bila sudah penuh, dst.

11. Sisa organik dapur terdiri dari potongan / kulit sayuran, kulit buah lunak, daun pembungkus, kertas, sisa lauk-pauk, dipisahkan dari sisa / sampah non organik. Sisa dapur tersebut dimasukkan ke dalam ember kecil dan yang non organik ditampung dalam wadah lain untuk dibuang di bak sampah.

12. Setiap kali memasukkan sisa organik dapur yang mudah busuk (sisa lauk-pauk), diatasnya langsung ditaburi selapis serbuk gergaji halus rapat-rapat. Maka di dapur selalu disediakan serbuk gergaji halus dalam wadah khusus. Ember kecil harus selalu ditutup rapat dan biasanya dalam 1-2 hari sudah penuh, lalu langsung dibawa ke kebun dimasukkan ke dalam komposter, dan ditaburi selapis starter diatasnya. Agar ember plastik tidak kotor, sebaiknya dilapisi kantong plastik sehingga sisa organik dapur yang mudah busuk dapat ditampung dengan aman dan rapat.

CARA PEMBUATAN BOKASHI

Bahan-bahan:

1.        Kotoran sapi

2.        EM4

3.        Sampah organik (compostable)

4.        Wadah

5.        Dedak (makanan ayam)

 

Cara Pembuatan:

1.        Cacah sampah organik menjadi kecil

2.        Masukkan sampah organik dan kotoran sapi ke dalam wadah

3.        Aduk campuran tersebut hingga sampah organik tersebut menyatu dengan kotoran sapi

4.        Siramkan EM4 dengan campuran EM4 sbb:

2Ltr air + 70ml EM4 (1 tutup botol 10ml) + 1 kg gula pasir

5.        Taburkan dedak

6.        Tutup rapat, jangan sampai udara masuk dan terkena sinar matahari karena proses pengomposan ini bersifat anaerob.

7.        Setiap 3 atu 5 hari sekali aduk campuran tersebut dan siramkan EM4 lagi, setelah diaduk dan disiram, kita harus selalu menutup rapat kembali campuran tersebut.

8.        Setelah kurang lebih 1 bulan, campuran tersebut telah menjadi kompos dan telah siap dipakai

EM4 dapat kita beli atau kita buat sendiri dengan cara:

1.        sediakan air kelapa + ragi + gula merah

2.        campurkan ragi + gula merah ke dalam air kelapa di dalam satu wadah

3.        tutup rapat dan setiap hari wadah tersebut wajib dibuka untuk melepaskan gas C02

4.        setelah 1 bulan, EM4 sudah dapat digunakan

 

 

 

 

 

CARA PEMBUATAN KOMPOS JERAMI

Lokasi Pengomposan

Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut dipanen. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga dipikirkan untuk kemudahan saat aplikasi. Jika petak sawah cukup luas, sebaiknya dibuat di beberapa tempat yang terpisah.

 

Peralatan yang dibutukan antara lain:

1.        Sabit/parang

2.        Cetakan yang dibuat dari bambo. Cetakan ini dibuat seperti pagar yang terdiri dari 4 bagian. Dua bagian berukuran 2 x 1 m dan dua bagian yang lain berukuran 1 x 1 m.

3.        Ember/bak untuk tempat air.

4.        Air yang cukup untuk membasahi jerami.

5.        Aktivator pengomposan (Acticomp atau Promi).

6.        Ember untuk menyiramkan aktivator.

7.        Tali.

8.       Plastik penutup. Plastik ini bisa dibuat dari plastik mulsa berwarna hitam (ukuran leber 1 m) yang dibelah sehingga lebernya menjadi 2 m

Tahapan Pembuatan Kompos Jerami

1.        Siapkan bak dan air. Masukkan air ke dalam bak. Kemudian larutkan aktivator sesuai dosis yang diperlukan ke dalam bak air. Aduk hingga aktivator tercampur merata.

Gambar 3. Menyiapkan air untuk pengomposan jerami.
Gambar 4. Aktivator dimasukkan ke dalam bak air sesuai dosis yang diperlukan
Gambar 5. Aduk aktivator hingga tercampur merata.

2.         Siapkan cetakan dari bambo. Pasang cetakan tersebut. Sesuaikan ukuran cetakan dengan jerami dan seresah yang tersedia. Apabila jerami cukup banyak cetakan dapat berukuran 2 x 1 x 1 m. Namun bila jerami sedikit cetakan bisa dibuat lebih kecil dari ukuran tersebut.
Gambar 6. Siapakan cetakan kompos yang dibuat dari bambu.

 

3.        Masukkan satu lapis jermai ke dalam cetakan. Jika tersedia dapat dimasukkan pula kotoran ternak. Jerami atau seresah yang berukuran besar dipotong-potong terlebih dahuludenganparang.

Gambar 7. Masukkan jerami dan bahan-bahan lain lapis demi lapis ke dalam cetakan kompos.

 

4.        Siramkan aktivator yang telah disiapkan merata dipermukaan jerami.
Gambar 8. Setiap lapis tumpukan disiram dengan aktivator secukupnya.

 

5.        Injak-injak agar jerami padat.
Gambar 9. Setiap lampis tumpukan jerami diinjak-injak agar padat.

6.        Tambahkan lagi satu lapis jerami/sereah.

7.        Siramkan kembali aktivator ke tumpukan jerami tersebut dan jangan lupa injak-injak agar tumpukan menjadi padat.

8.        Ulangi langkah-langkah diatas hingga cetakan penuh atau seluruh jerami/seresah telah dimasukkan ke dalam cetakan.

9.        Setelah cetakan penuh, buka tali pengikatnya dan lepaskan cetakannya.
Gambar 10. Tumpukan jerami yang siap ditutup dengan plastic.

 

10.    Tutup tumpukan jerami tersebut dengan plastic yang telah disiapkan.
Gambar 11. Tumpukan jerami ditutup dengan plastic.

11.    Ikat plastic dengan tali plastic agar tidak mudah lepas.

12.    Kalau perlu bagian atas jerami diberi batu atau pemberat lain agar plastic tidak tebuka karena angin.

13.    Lakukan pengamatan suhu, penyusutan volume, dan perubahan warna tumpukan jerami.

14.    Inkubasi/fermentasi tumpukan jerami tersebut hingga kurang lebih satu bulan.
Gambar 12. Tumpukan diinkubasi selama satu bulan.

Pengamatan Selama Fermentasi

Selama masa fermentasi akan terjadi proses pelapukan dan penguraian jerami menjadi kompos. Selama waktu fermentasi ini akan terjadi perubahan fisik dan kimiawi jerami. Proses pelapukan ini dapat diamati secara visual antara lain dengan peningkatan suhu, penurunan volume tumpukan jerami, dan perubahan warna.

Suhu tumpukan jerami akan meningkat dengan cepat sehari/dua hari setelah inkubasi. Suhu akan terus meningkat selama beberapa minggu dan suhunya dapat mencapai 65-70 oC. Pada saat suhu meningkat, mikroba akan dengan giat melakukan penguraian/dekomposisi jerami. Akibat penguraian jerami, volume tumpukan jerami akan menyusut. Penyusutan ini dapat mencapai 50% dari volume semula. Sejalan dengan itu wana jerami juga akan berubah menjadi coklat kehitam-hitaman.

Gambar 13. Tumpukan jerami akan mengalami penyusutan selama masa fermentasi.

 

Panen dan Aplikasi Kompos Jerami

Gambar 16. Kompos jerami yang sudah jadi: warna coklat kehitaman, lunak dan volumenya menyusut.

 

Kompos yang telah cukup matang ditandai dengan adanya perubahan fisik jerami. Perubahan itu antara lain:

  • Jerami berwarna coklat kehitam-hitaman,
  • lunak dan mudah dihancurkan,
  • suhu tumpukan sudah mendekati suhu awal pengomposan,
  • tidak berbau menyengat, dan
  • volume menyusut hingga setengahnya.

Kompos jerami yang sudah memiliki ciri-ciri demikian berarti sudah cukup matang dan siap diaplikasikan ke sawah. Kompos jerami diaplikasikan di tempat di mana jerami tersebut diambil.

 

 

DAUR ULANG KERTAS BEKAS

Salah satu sampah yang dapat didaur ulang adalah kertas. Kertas daur ulang ini memiliki tekstur yang indah. Dari kertas daur ulang kita dapat membuat beraneka ragam kerajinan tangan.

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kertas daur ulang :

1.        BLENDER,

fungsinya untuk menghancurkan kertas menjadi bubur kertas, atau dapat juga dimodifikasi dengan alat penghancur yang lebih besar.

2.        BINGKAI CETAKAN,

terdiri dari 2 bingkai dengan ukuran yang sama. Salah satu bingkai dilapisi dengan kain kasa.

3.        EMBER KOTAK,

fungsinya sebagai tempat pencampuran bubur kertas dengan air, sekaligus sebagai wadah pencetakan.

4.        ALAS CETAK,

Fungsinya untuk tempat pengeringan kertas daur ulang dari bingkai cetakan, sehingga bingkai cetakan dapat digunakan kembali. Alas cetak ini bisa berupa tripleks yang dilapisi kain katun atau juga dapat berupa matras yang biasa digunakan untuk alas tidur kemping.

5.        SPONDS PENGHISAP,

fungsinya untuk menghisap air pada waktu transfer dari bingkai cetakan ke alas cetak.

6.        GELAS PENAKAR,

fungsinya untuk menakar perbandingan antara bubur kertas dengan air. Alat ini tidak mutlak ada.

7.        ALAT PRESS,

fungsinya untuk mengepress kertas daur ulang agar serat-seratnya dapat lebih rapat. Alat ini dapat berupa dua papan kayu yang berukuran sama dengan bingkai cetak, yang keempat sudutnya diberi lubang. Selanjutnya Masmng-masing lubang diberi mur dan baut penjepit untuk mempertemukan kedua sisi papan kayu tersebut.

8.        EMBER,

wadah bubur kertas

9.        KOMPOR & PANCI,

fungsinya untuk merebus berbagai macam serat dan pewarna alam

10.    ALU & LUMPANG,

fungsinya untuk menumbuk berbagai serat agar lebih halus

11.    SENDOK KAYU,

fungsinya untuk mengadukberbagai campuran.

12.    PISAU & GUNTING,

fungsinya untuk memotong-motong serat tumbuhan

13.   SARINGAN TEH BESAR

14.   KAIN LAP

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kertas daur ulang :

1.        KERTAS BEKAS

Setiap jenis kertas dipilah-pilahberdasarkan jenisnya masing-masing, kertas Koran, kertas HVS,  karton hingga kertas warna warni.

2.        PEWARNA ALAMI

-           Kunyit, jika diparut dan diperas sarinya akan menghasilkan warna kuning

-           Kulit bawang, jika direbus akan menghasilkan warna coklat

-           Pandan suji, jika ditumbuk dan diperas airnya dapat menghasilkan warna hijau pekat

-     Pandan wangi, jika direbus dan ditumbuk lalu diperas airnya dapat menghasilkan warna hijau muda, sekaligus aroma wangi

-     Kesumba (bixa), jika bijinya direndam dan diremas atau direbus dapatmenghasilkan warna oranye

-           Serutan kayu nangka. Jika direbus akan menghasilkan warna kuning

-     Sirih, jika ditumbuk dan dicampur dengan kapur akan menghasilkan warna merah kecoklatan

-     Daun pisang kering, jika dibakar, abunya dapat menghasilkan warna coklat keabu-abuan

-           Rumput putri malu (Mimosa sp) jika direbus akan menghasilkan warna lembayung

3.        SERAT PENGISI

Merupakan bahan-bahan yang dapat ditambahkan ke dalam campuran bubur kertas    sehingga dihasilkan kertas yang lebih indah dan bertekstur. Dapat berupa bunga-bungaan ataupun serat tumbuhan lainnya seperti serat daun pandan wangi, serat batang pisang.

 

Cara Pembuatan Kertas Daur Ulang

1.        Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12 jam agar serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan perebusan untuk mempercepat proses peresapan air.

2.        Kertas yang telah lemas direndam air / direbus, dihancurkan dengan blender. Dengan perbandingan 1 ; 4 (4 bagian air untuk 1 bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali pemblenderan dengan interval 30 detik saja.

3.        Bubur kertas yang diperoleh dari pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah. Selanjutnya dapat dilakukan pencucian untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara menyaring bubur kertas pada kain yang agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi air. Dengan demikian bubur kertas dapat dicuci sekaligus memisahkan potongan-potongan kertas yang mungkin belum hancur akibat pemblenderan.

4.        Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung maupun dilakukan pencampuran warna dan serat. Masukan bubur kertas yang hanya bercampur dengan warna saja, atau bercampur dengan serat saja, atau bercampur dengan pewarna dan serat maupun bubur kertas tanpa campuran, kedalam ember kotak tempat cetakan. Perbandingan antara jumlah air dan bubur kertas tetap 4 : 1 (4 bagian air untuk 1 bagian bubur kertas). Aduk-aduk hingga campuran air dan bubur kertas merata.

5.        Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar. Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30 derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan.

6.        Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat.

7.        Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan, lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama 1 jam.

Pencampuran Warna

1.        Bubur kertas yang telah siap diolah, dapat dicampurkan dengan bahan pewarna alam yang telah kita persiapkan sebelumnya. Caranya adalah dengan mencampurkan langsung dan diaduk hingga merata. Selanjutnya dapat dilakukan perebusan jika ingin pencampuran warna yang lebih kuat.

2.        Sisa pewarna alam dapat pula dicampurkan ke dalam air diember pencetakan agar tetap membantu menimbulkan warna yang diinginkan

3.        Bubur kertas berwarna pun telah siap untuk diolah lebih lanjut, baik untuk dicetak, maupun dicampur dengan serat pengisi lainnya.

Pencampuran Serat

1.     Gedebok Pisang,

a.       Gedebok/batang pisang yang sudah selesai berbuah cincang seperti dadu dengan panjang sekitar 2 cm, jemur sekitar 2 jam untuk menghilangkan getah.

b.      Kemudian ditumbuk dengan alu & lumping sehingga agak lunak.

c.       Selanjutnya direbus selama 1 jam untuk melunakan seratnya. Kemudian tiriskan.

d.      Setelah itu ditumbuk kembali hingga lebih halus. Saring dengan kain untuk dicuci dengan air, agar tinggal serat yang tersisa.

e.       Serat yang tersisa dapat langsung dicampur dengan bubur kertas, atau jika dirasa kurang halus, dapat pula dibantu dengan pemblenderan.

f.       Selanjutnya dicampurkan sedikit demi sedikit ke dalam bubur kertas, sambil diaduk terus menerus hingga rata.

2.     Kulit Bawang

a.       Rebus kulit bawang yang sudah digunting-gunting kecildengan air hingga mendidih, sisihkan dan air rebusan jangan dibuang.

b.      Hancurkan kuit bawang yang telah direbus dengan menggunakan blender selama 5 & 10 detik.

c.       Campurkan secara perlahan kulit bawang yang telah dihancurkan kedalam wadah bubur kertas sambil terus

d.      diaduk-aduk hingga merata, jika air rebusan agak kotor dapat dilakukan penyaringan terlebih dahulu.

3.     Pandan Wangi

a.       Rebus potongan pandan wangi (2 cm) selama kira-kira 1 jam, tiriskan.

b.      Campurkan air rebusan dengan bubur kertas secepatnya, aduk-aduk hingga rata

Jika Anda ingin membuat motif khusus, cobalah beberapa proses dibawah ini :

1.        Proses Tempelan

Sebelum anda menutup campuran bubur kertas dengan yang sudah dibasahi tempelkan bunga, rumput atau daun-daun kecil di atasnya.

2.        Proses Campuran

Ketika memblender kertas tambahkan bunga, rumput atau bahan alami lain, yang akan memberikan warna dan pola khusus. Setrika sepasang demi sepasang kemudian buka kainnya pelan-pelan angkat sepasang demi sepasang & jemur di tem­pat yang panas.

3.        Proses Press

Ketika sedang mengepres kertasnya, taruhlah daun atau sesuatu yang ber­motif bagus. Taruhlah papan di atasnya & beri pemberat.

Contoh barang yang bisa dibuat dengan kertas daur ulang yaitu :

1.      Kertas untuk menggambar / karya seni

2.      Pembungkus buku, tempat pensil, dll.

3.      Undangan, amplop, map, dll.

Kertas daur ulang juga bagus sekali untuk ditempel diatas karya-karya yang bisa anda bikin dari karton.

4.      Kotak pensil

5.      Bingkai foto

6.      Kotak kado

 

Manfaat daur ulang kertas:

1.      Mengurangi dampak pencemaran lingkungan.

2.      Menghasilkan barang-barang yang memiliki nilai jual.

3.      Menambah lapangan kerja.

4.      Menghasilkan barang-barang yang bermanfaat dengan modal yang ekonomis.

 

 

 

Budaya

In ARSIP on 27 November 2010 at 12:56 pm

19 KEBUDAYAAN MENURUT VAN VOLLENHOVEN

Dalam suatu klasifikasi yang dilakukan Van Vollenhoven terhadap wilayah Indonesia yang mengklasifikasi berdasarkan dari aneka warna suku-bangsa di Wilayah Indonesia biasanya masih berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, dan pengklasifikasian ini, membagi wilayah Indonesia kedalam 19 daerah, yaitu :
-  Aceh                                                -  Sulawesi Selatan
-  Gayo-Alas dan Batak          -  Ternate
-  Nias dan Batu                      -  Ambon Maluku
-  Minangkabau                       -  Kepulauan Baratdaya
-  Mentawai                             -  Irian
-  Sumatera Selatan                 -  Timor
-  Enggano                               -  Bali dan Lombok
-  Melayu                                 -  Jawa Tengah dan Timur
-  Bangka dan Biliton              -  Surakarta dan Yogyakarta
-  Kalimantan                          -  Jawa Barat
-  Sangir-Talaud
-  Gorontalo
-  Toraja

klasifikasi yang dibuat oleh Van Vollenhoven ini kemudian diadopsi oleh Koentjaraningrat walaupun karya Van Vollenhoven ini masih terdapat keragu-raguan pada daerah Kalimantan, Sulawesi, Indonesia Timur dan Sumatera, Koentjaraningrat menyatakan, lokasi sesuatu suku-bangsa di Indonesia biasanya ada selisih antara berbagai pengarang bahkan untuk menyatakan batas-batas wilayah suku-bangsa Aceh ada enam orang pengarang yan memiliki perbedaan antara satu sama lain.

Di bawah ini adalah jenis-jenis kebudayaan/ras yang dimiliki oleh masing-masing Daerah yang terbagi atas 19 menurut Van Vollenhoven:

ACEH

Peta budaya Aceh Barat adalah wilayah pesisir bagian barat propinsi Aceh yang dewasa ini meliputi 2 kabupaten luas yakni Aceh Barat dan Aceh Selatan. Dua kota yang berkembang di daerah tersebut adalah Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan dan Meulaboh ibukota Aceh Barat. Meulaboh, dimasa lalu menjadi bandar yang cukup ramai didatangi oleh para niagawan manca negara. Mereka membawa serta aneka keterampilan serta kebiasaan yang memperkaya budaya setempat sehingga tampil sebagaimana dewasa ini dikenal dengan gaya Aceh Barat.

Oleh karena itu masyarakat Aceh Barat (dan Selatan) memiliki ciri tersendiri dalam ungkapan budayanya dibandingkan dengan kawasan Aceh lainnya. Sementara itu produk-produk asli yang merupakan bagian utama dari ungkapan budaya masyarakat tampak pada ukiran kayu, pembuatan senjata tajam, seni kerajinan sulam benang emas, sulam perca dan tenunan sutra.

1. Adat perkawinan

Di Aceh,Laki-laki yang meminang Perempuan,Akad nikah dilakukan di Masjid,KUA,maupun dirumah secara Islam.Pengantin memakai Pakaian adat Aceh.setelah dilakukan akad, Acara yang dilakukan adalah:

  1. Intat Linto

mengantar pengantin Laki-laki kerumah pengantin perempuan. Adat ini dilakukan untuk mengenali Keluarga dari Pengantin Perempuan dan menjaga persatuan antar kedua belah pihak.Acara ini biasanya dilakukan setelah akad nikah.Keluarga pengantin perempuan menyediakan makanan kepada Rombongan pengantin Laki-laki.

  1. Intat Dara Baro

Tujuan dilakukannya acara ini tak jauh berbeda dengan Intat Linto.hanya saja Waktu dilakukannya berselang beberapa Bulan.pada Acara adat ini pengantin perempuan berkunjung ketempat pengantin laki-laki.

2. Pakaian Adat Aceh


Pakaian adat Aceh sering dipakai oleh Calon pengantin Aceh. Pakaian untuk Laki-laki seperti yang dipakai oleh Teuku Umar salah satu Pahlawan Aceh, yang memakai topi besar, Kemeja lengan panjang bewarna hitan, Rencong Aceh yang diselipkan di dalam baju, Songket Aceh, Serta Celana panjang berwarna hitam. Pakaian Perempuan memakai sanggul di Kepala, baju berwarna merah, Songket Aceh, Selendang, dan celana hitam yang ditutupi Songket.

3. Rumah Adat

4. Seni Aceh

Seni Aceh sangat banyak diantaranya Rapai Geleng,tari Seudati,tari Saman,tari Ranup lampuan,dan masih banyak lagi.

  1. Rapai geleng

Merupakan seni Aceh yaitu Menambuk Rebana,sambil membaca Shalawat yang dilakukan oleh para Laki-laki.seni ini dilakukan disaat ada tamu yang berkunjung ataupun pada Acara-acara pesta perkawinan.

  1. Tari Seudati

Merupakan tarian yang dilkukan oleh Laki-laki,sering dilakukan pada acara-acara perkawinan dan pada saat Tamu berkunjung.dengan membaca kata-kata menyambut Tamu.

  1. Tari Saman

Tarian ini merupakan tarian yang terkenal dilakukan oleh para Perempuan Aceh,tarian ini melambangkan kekompakan dan persatuan sesama manusia.

5.        Alat Musik Tradisional Di Aceh

A.  Arbab
Instrumen ini terdiri dari 2 bagian yaitu Arbabnya sendiri (instrumen induknya) dan penggeseknya (stryk stock) dalam bahasa daerah disebut : Go Arab. Instrumen ini memakai bahan : tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai.
Musik Arbab pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Arbab ini dipertunjukkan pada acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat, pasar malam dsb. Sekarang ini tidak pernah dijumpai kesenian ini, diperkirakan sudah mulai punah. Terakhir kesenian ini dapat dilihat pada zaman pemerintahan Belanda dan pendudukan Jepang.

B.  BangsiAlas
Bangsi Alas adalah sejenis isntrumen tiup dari bambu yang dijumpai di daerah Alas, Kabupeten Aceh Tenggara. Secara tradisional pembuatan Bangsi dikaitkan dengan adanya orang meninggal dunia di kampung/desa tempat Bangsi dibuat. Apabila diketahui ada seorang meninggal dunia, Bangsi yang telah siap dibuat sengaja dihanyutkan disungai. Setelah diikuti terus sampai Bangsi tersebut diambil oleh anak-anak, kemudian Bangsi yang telah di ambil anak-anak tadi dirampas lagi oleh pembuatnya dari tangan anak-anak yang mengambilnya. Bangsi inilah nantinya yang akan dipakai sebagai Bangsi yang merdu suaranya. Ada juga Bangsi kepunyaan orang kaya yang sering dibungkus dengan perak atau suasa.

C.  Serune Kalee (Serunai)

Serune Kalee merupakan isntrumen tradisional Aceh yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh. Musik ini populer di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Biasanya alat musik ini dimainkan bersamaan dengan Rapai dan Gendrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan. Bahan dasar Serune Kalee ini berupa kayu, kuningan dan tembaga. Bentuk menyerupai seruling bambu. Warna dasarnya hitam yang fungsi sebagai pemanis atau penghias musik tradisional Aceh.
Serune Kalee bersama-sama dengan geundrang dan Rapai merupakan suatau perangkatan musik yang dari semenjak jayanya kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang tetap menghiasi/mewarnai kebudayaan tradisional Aceh disektor musik.

D.  Rapai
Rapai terbuat dari bahan dasar berupa kayu dan kulit binatang. Bentuknya seperti rebana dengan warna dasar hitam dan kuning muda. Sejenis instrumen musik pukul (percussi) yang berfungsi pengiring kesenian tradisional.
Rapai ini banyak jenisnya : Rapai Pasee (Rapai gantung), Rapai Daboih, Rapai Geurimpheng (rapai macam), Rapai Pulot dan Rapai Anak.

E.   Geundrang (Gendang)

Geundrang merupakan unit instrumen dari perangkatan musik Serune Kalee. Geundrang termasuk jenis alat musik pukul dan memainkannya dengan memukul dengan tangan atau memakai kayu pemukul. Geundrang dijumpai di daerah Aceh Besar dan juga dijumpai di daerah pesisir Aceh seperti Pidie dan Aceh Utara. Fungsi Geundrang nerupakan alat pelengkap tempo dari musik tradisional etnik Aceh.

F.   Tambo

Sejenis tambur yang termasuk alat pukul. Tambo ini dibuat dari bahan Bak Iboh (batang iboh), kulit sapi dan rotan sebagai alat peregang kulit. Tambo ini dimasa lalu berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menentukan waktu shalat/sembahyang dan untuk mengumpulkan masyarakat ke Meunasah guna membicarakan masalah-masalah kampung.
Sekarang jarang digunakan (hampir punah) karena fungsinya telah terdesak olah alat teknologi microphone.

G.  Taktok Trieng
Taktok Trieng juga sejenis alat pukul yang terbuat dari bambu. Alat ini dijumpai di daerah kabupaten Pidie, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lainnya. Taktok Trieng dikenal ada 2 jenis :
Yang dipergunakan di Meunasah (langgar-langgar), dibalai-balai pertemuan dan ditempat-tempat lain yang dipandang wajar untuk diletakkan alat ini.
jenis yang dipergunakan disawah-sawah berfungsi untuk mengusir burung ataupun serangga lain yang mengancam tanaman padi. Jenis ini biasanya diletakkan ditengah sawah dan dihubungkan dengan tali sampai ke dangau (gubuk tempat menunggu padi di sawah).

H.  Bereguh

Bereguh nama sejenis alat tiup terbuat dari tanduk kerbau. Bereguh pada masa silam dijumpai didaerah Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara dan terdapat juga dibeberapa tempat di Aceh. Bereguh mempunyai nada yang terbatas, banyakanya nada yang yang dapat dihasilkan Bereguh tergantung dari teknik meniupnya.
Fungsi dari Bereguh hanya sebagai alat komunikasi terutama apabila berada dihutan/berjauhan tempat antara seorang dengan orang lainnya. Sekarang ini Bereguh telah jarang dipergunakan orang, diperkirakan telah mulai punah penggunaannya.

I.     Celempong

Celempong adalah alat kesenian tradisional yang terdapat di daerah Kabupaten Tamiang. Alat ini terdiri dari beberapa potongan kayu dan cara memainkannya disusun diantara kedua kaki pemainnya.
Celempong dimainkan oleh kaum wanita terutama gadis-gadis, tapi sekarang hanya orang tua (wanita) saja yang dapat memainkannnya dengan sempurna. Celempong juga digunakan sebagai iringan tari Inai. Diperkirakan Celempong ini telah berusia lebih dari 100 tahun berada di daerah Tamiang.

6. Wisata aceh

A.    Sabang

Hutan Wisata Iboih, Pantai Anoi Itam, Pantai Sumur Tiga, Pantai Kasih, Pantai Tapak Gajah, Danau Aneuk Laot, Pemandian Air Panas Keuneukai, Taman Laut Pulau Rubiah, Tugu Kilometer Nol RI, Gua Lhueng Angen, Panorama Puncak Sabang, Panorama Sabang Hill, Pantai Ujung Asam.

B.      Banda Aceh

Pantai Ceureumen & Pantai Alue Naga

C.   Aceh Utara

Pantai Dakuta Bungkah, Pantai Pusong Baro, Pantai Sawang, Pantai Meuraksa,  Pantai Ulee Rubek, Pantai Lapang, Pemandian Krueng Sawang, Air Terjun Blang Kulam, Air Terjun Seumirah/ Lindek

D.    Kabupaten Aceh Tengah

Danau Laut Tawar, Danau Gegarang, Danau Lot Jeget, Pemandiaan Ujung Baro, Pemandiaan Ujung Sare, Arul Cincin, Teluk One-One dll.

E.     Aceh Timur
Pulau Idaman, Pantai Kuala Simpang Ulim, Pantai Kuala Geulumpang, Pantai Kuala Matang Ulim, Pantai Kuala Peudawa Rayeuk, Pantai Kuala Peudawa Puntong dll.

F.      Aceh Barat Daya

Pantai Pasir Putih Cemara Indah, Pantai Wisata Nelayan Ujong Serangga, Pantai Wisata Ujong Ketapang, Pantai Ujong Manggeng, Pantai Wisata Lama Tuha, Pantai Wisata Blang Padang, Pantai Wisata Tumpang, Mon Jeue dll

G.    Aceh Selatan

Hutan Lindung, Gunung Lampu, Tapak dan Tongkat Tuan Napa, Panorama Hatta, Batu Sumbang, Pantai Lhok Rukam dll.

H.    Aceh Barat

Puncak Gunong Geudong, Laot Sigo, Bakat, Danau Geunang Pulong, Danau Lam balek, Mesjid Keuramat, Pasir Melayu dll.

7.        Makanan Aceh

Aceh mempunyai aneka jenis makanan yang khas. Antara lain timphan, gulai itik, kari kambing yang lezat, Gulai Pliek U dan meuseukat yang langka. Di samping itu emping melinjo asal kabupaten Pidie yang terkenal gurih, dodol Sabang yang dibuat dengan aneka rasa, ketan durian (boh drien ngon bu leukat), serta bolu manis asal Peukan Bada, Aceh Besar juga bisa jadi andalan bagi NAD.

Timphan adalah kue/hidangan khas Aceh disaat lebaran/hari raya baik hari raya Idul fitri maupun Idul Adha, Timphan ini dibuat 1 atau 2 hari sebelum lebaran dan daya tahannya bisa mencapai lebih kurang seminngu,Timphan adalah menu hidangan utama buat tamu yang berkunjung kerumah saat lebaran.

8. Permainan Aceh

A.    GEULAYANG TUNANG
Geulayang Tunang terdiri dari dua kata yaitu geulayang yang berarti laying-layang dan tunang berarti pertandingan. Jadi geulayang tuning adalah pertandingan laying-layang atau adu laying yang diselenggarakan pada waktu tertentu.

B.     GEUDEUE-GEUDEUE
Geudeue-Geudeue atau disebut juga due-due adalah permainan ketangkasan yang terdapat di Pidie. Di samping ketangkasan, gesit, keberanian dan ketabahan pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat. Permainan ini kadang-kadang berbahaya karena permainan ini merupakan permainan adu kekuatan.
Cara memainkannya adalah seorang yang berbadan tegap tampil di arena. Ia menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri dari 2 orang supaya menyerbu kepadanya. Ketika terjadi penyerbuan, pihak pertama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama.
Dalam tiap permainan bertindak 4 orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain.

C.     PEUPOK LEUMO
Peupok Leumo adalah sejenis permainan yang khas terdapat di Aceh Besar. Permainan ini merupakan suatu permainan mengadu sapi. Selaian peupok leumo masih ada lagi acara peupok leumo tunang, yaitu permainan peupok leumo untuk mencari sapi yang akan keluar sebagai pemenang.

D.    PACU KUDE

Pacu Kude dapat diartikan duduk di atas kuda yang lari atau dapat diartikan sebagai pacuan kuda.

SUMATRA SELATAN

Kota Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di bagian barat Kota Palembang, hingga sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan dari prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 682 Masehi[2]. Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

1. Penduduk

Penduduk Palembang merupakan etnis Melayu, dan menggunakan Bahasa Melayu yang telah disesuaikan dengan dialek setempat yang kini dikenal sebagai Bahasa Palembang. Namun para pendatang seringkali menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari, seperti bahasa Komering, Rawas, dan Lahat. Pendatang dari luar Sumatera Selatan terkadang juga menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari dalam keluarga atau komunitas kedaerahan. Namun untuk berkomunikasi dengan warga Palembang lain, penduduk umumnya menggunakan bahasa Palembang sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Selain penduduk asli, di Palembang terdapat pula warga pendatang dan warga keturunan, seperti dari Jawa, Minangkabau, Madura, Bugis, dan Banjar.

Warga keturunan yang banyak tinggal di Palembang adalah Tionghoa, Arab dan India. Kota Palembang memiliki beberapa wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas seperti Kampung Kapitan yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa dan Kampung Al Munawwar yang merupakan wilayah Komunitas Arab.

Agama mayoritas di Palembang adalah Islam. Selain itu terdapat pula penganut Katholik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

2.       Seni dan Budaya

Sejarah tua Palembang serta masuknya para pendatang dari wilayah lain, telah menjadikan kota ini sebagai kota multi-budaya. Sempat kehilangan fungsi sebagai pelabuhan besar, penduduk kota ini lalu mengadopsi budaya Melayu pesisir, kemudian Jawa. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah bahasa. Kata-kata seperti “lawang (pintu)”, “gedang (pisang)”, adalah salah satu contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam di Jawa.

Kesenian yang terdapat di Palembang antara lain:

  • Kesenian Dul Muluk (pentas drama tradisional khas Palembang)
  • Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu, dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
  • Lagu Daerah seperti Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut, dan Ribang Kemambang
  • Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit

Kota Palembang juga selalu mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain “Festival Sriwijaya” setiap bulan Juni dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Palembang, Festival Bidar dan Perahu Hias merayakan Hari Kemerdekaan, serta berbagai festival memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan, dan Tahun Baru Masehi.

3. Rumah Tradisional Limas

Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Palembang. Rumah tradisional ini selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan.

Para tamu biasanya diterima diteras atau lantai kedua.

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dan tanah air. Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sementara, untuk rangka digunakan kayu seru. Setiap rumah terutama dinding dan pintu diberi ukiran.

Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa.

4.        Makanan Khas

Kota ini memiliki komunitas Tionghoa cukup besar. Makanan seperti pempek atau tekwan yang terbuat dari ikan mengesankan “Chinese taste” yang kental pada masyarakat Palembang.

Jenis-jenis makanan Palembang (Sumatra Selatan) antara lain :

Pempek, Tekwan, Model, Laksan, Celimpungan, Mie Celor, Burgo, Pindang Patin, Pindang, Tulang, Malbi, Tempoyak, Otak – otak, Kemplang, Kerupuk, Kue Maksubah, Kue Delapan Jam, Kue Srikayo

KALIMANTAN

Kesenian Kalimantan Selatan

1. Seni Tradisional Banjar

Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa dan danau, disamping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka. Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba relegius. Disamping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.

Ikatan kekerabatanmulai longgar dibanding dengan masa yang lalu, orientasi kehidupan kekerabatan lebih mengarah kepada intelektual dan keagamaan. Emosi keagamaan masih jelas nampak pada kehidupan seluruh suku bangsa yang berada di Kalimantan Selatan.

Urang Banjar mengembangkan sistem budaya, sistem sosial dan material budaya yang berkaitan dengan relegi, melalui berbagai proses adaptasi, akulturasi dan assimilasi. Sehingga nampak terjadinya pembauran dalam aspek-aspek budaya. Meskipun demikian pandangan atau pengaruh Islam lebih dominan dalam kehidupan budaya Banjar, hampir identik dengan Islam, terutama sekali dengan pandangan yang berkaitan dengan ke Tuhanan (Tauhid), meskipun dalam kehidupan sehari-hari masih ada unsur budaya asal, Hindu dan Budha.

Seni ukir dan arsitektur tradisional Banjar nampak sekali pembauran budaya, demikian pula alat rumah tangga, transport, Tari, Nyayian dsb.

Masyarakat Banjar telah mengenal berbagai jenis dan bentuk kesenian, baik Seni Klasik, Seni Rakyat, maupun Seni Religius Kesenian yang menjadi milik masyarakat Banjar seperti :

a. Teater Tradisi / Teater Rakyat
Antara lain Mamanda, Wayang Gung, Abdul Mulk Loba, Kuda Gepang, Cerita Damarwulan, Tantayungan, Wayang Kulit, Teater Tutur.

b. Seni Musik
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

c. Sinoman Hadrah dan Rudat
Sinoman Hadrah dan Rudat bersumber daripada budaya yang dibawa oleh pedagang dan penda’wah Islam dari Arab dan Parsi dan berkembang campur menjadi kebudayaan pada masyarakat pantai pesisir Kalimantan Selatan hingga Timur.
Puja dan puji untuk Tuhan serta Rasul Muhammad SAW mengisi syair dan pantun yang dilagukan bersahutan dalam qasidah yang merdu, dilindungi oleh payung (merupakan lambang keagungan dalam kehidupan tradisional di Indonesia) ubur-ubur, dalam gerakan yang dinamis.

d. Seni Tari

b.      Tari Tradisi          : Balian, Gantar, Bakanjar, Babangai

c.       Tari Klasik          : Baksa Kambang, Topeng, Radap Rahayu

d.      Tari Rakyat         : Japin Sisit, Tirik Lalan, Gambut, Kuda Gepang, Rudat dll

e.       Tarian surup dari Tanbu (MB)

e. Seni Sastra
Antara lain Kuriding, Karung-karung Panting, Kintunglit, Bumbung, Suling Bambu, Musik Tiup, Salung Ulin, Kateng Kupak.

a.         Syair  : Hikayat, Sejarah, Keagamaan

b.    Pantun : Biasa, Kilat, Bakait

f. Seni Rupa
Antara lain Ornamen, Topeng dan Patung.

g. Keterampilan
Maayam dinding palupuh, maulah atap, wantilan, maulah gula habang, maulah dodol kandangan, maulah apam barabai, maulah sasapu ijuk, manggangan, maulah wadai, maulah urung katupat, maaym janur banjar, dll(sumb: situs her’s Site)

Suku Banjar mengembangkan seni dan budaya yang cukup lengkap, walaupun pengembangannya belum maksimal, meliputi berbagai bidang seni budaya.

‘Seni Tari’ Seni Tari suku Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama “Baksa” yang berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu, namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab islam mengalami sedikit perubahan. Seni tari daerah Banjar yang terkenal misalnya :

-            Tari Baksa Kembang, dalam penyambutan tamu agung.

-            Tari Baksa Panah

-            Tari Baksa Dadap

-            Tari Baksa Lilin

-            Tari Baksa Tameng

-            Tari Radap Rahayu, dalam upacara perkawinan

-            Tari Kuda Kepang

-            Tari Japin/Jepen

-            Tari Tirik

-            Tari Gandut

-            Tarian Banjar lainnya

h. Lagu Daerah
Lagu daerah Banjar yang terkenal misalnya :

-            Ampar-Ampar Pisang

-            Sapu Tangan Babuncu Ampat

-            Paris Barantai

-            Lagu Banjar lainnya

-            Daftar penyanyi lagu-lagu Banjar

-            Daftar pencipta lagu-lagu Banjar

i. Seni Anyaman
Seni anyaman dengan bahan rotan, bambu dan purun sangat artistik. Anyaman rotan berupa tas dan kopiah.

j. Seni Lukisan Kaca
Seni lukisan kaca berkembang pada tahun lima puluhan, hasilnya berupa lukisan buroq, Adam dan Hawa dengan buah kholdi, kaligrafi masjid dan sebagainya. Ragam hiasnya sangat banyak diterapkan pada perabot berupa tumpal, sawstika, geometris, flora dan fauna.

k. Seni Tatah/Ukir
Seni ukir terdiri atas tatah surut (dangkal) dan tatah babuku (utuh). Seni ukir diterapkan pada kayu dan kuningan. Ukiran kayu diterapkan pada alat-alat rumah tangga, bagian-bagian rumah dan masjid, bagian-bagian perahu dan bagian-bagian cungkup makam. Ukiran kuningan diterapkan benda-benda kuningan seperti cerana, abun, pakucuran, lisnar, perapian, cerek, sasanggan, meriam kecil dan sebagainya. Motif ukiran misalnya Pohon Hayat, pilin ganda, swastika, tumpal, kawung, geometris, bintang, flora binatang, kaligrafi, motif Arabes dan Turki.

l. Seni Rupa Trimatra (Rumah Adat)
Rumah adat Banjar ada beberapa jenis, tetapi yang paling menonjol adalah Rumah Bubungan Tinggi yang merupakan tempat kediaman raja (keraton). Jenis rumah yang ditinggali oleh seseorang menunjukkan status dan kedudukannya dalam masyarakat.

Jenis-jenis rumah Banjar :

-            Rumah Bubungan Tinggi, kediaman raja

-            Rumah Gajah Baliku, kediaman saudara dekat raja

-            Rumah Gajah Manyusu, kediaman “pagustian”

(bangsawan)

-            Rumah Balai Laki, kediaman menteri dan punggawa

-       Rumah Balai Bini, kediaman wanita keluarga raja dan inang pengasuh

-       Rumah Palimbangan, kediaman alim ulama dan saudagar

-       Rumah Palimasan (Rumah Gajah), penyimpanan barang-barang berharga (bendahara)

-       Rumah Cacak Burung (Rumah Anjung Surung), kediaman rakyat biasa

-            Rumah Tadah Alas

-            Rumah Lanting, rumah diatas air

-            Rumah Joglo Gudang

-            umah Bangun Gudang

m. Wayang Banjar
Wayang Banjar terdiri dari wayang kulit dan wayang orang yang disebut wayang Gung / wayang Gong.

n. Rumah Adat kalimantan Barat (rumah panjang), kalimantan tengah (rumah betang), kalimantan selatan (rumah banjar).

NIAS

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka “Ono Niha” (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai “Tanö Niha” (Tanö = tanah).

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.

Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

1. Asal Usul

Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut “Sigaru Tora`a” yang terletak di sebuah tempat yang bernama “Tetehöli Ana’a”. Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana’a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.

2. Sistem Kekerabatan

Kelompok kekerabatan terkecil adalah keluarga-batih, tetapi kelompok yang penting adalah sangambato sebua yakni keluarga luas yang terdiri dari keluarga batih senior ditambah dengan keluarga batih-batih putranya dalam satu rumah tangga. Gabungan dari sangambato sebua adalah mado atau kita lebig mengenalnya sebagai marga ataupun klan.

Adat perkawinan orang nias terdiri dari beberapa unsur bertahap, yaitu :

a.         meminang yang terdiri dari beberapa upacara (mamebola, famuli mbola)

b.         penentuan hari pernikahan (fangoto bongi)

c.         upacara pernikahan (fangowalu)

d.        upacara yang terakhir adalah menjenguk orang tua (famuli nucha)

selain perkawinan, peristiwa yang penting lainya adalah kematian. Untuk ini mereka mempunyai dua upacara penting yaitu upacara perjamuan terakhir apabila sudah hampir tiba ajalnya (famalakhisi) dan upacara pemakaman (fanoro satua).

Suatu adat iniasi asli yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh orang nias kristen protestan adalah tradisi berkhitan pada saat anak laki-laki berumur 6 tahun. Kegiatan ini sempat dilarang oleh pihak zending R.M.G, tetapi tetap dilakukan.

3. Sistem Kemasyarakatan

Sebelum kedatangan belanda pada tahun 1669, orang nias terpecah menjadi beberapa kesatuan setempat yang otonom dan setelah datangnya orang belanda kesatuan-kesatuan tersebut disatukan menjadi afdeling nias dibawah pimpinan seorang asisten residen.

Terdapat beberapa lapisan masyarakat dalam adat istiadat orang nias, antara lain :

a.       siulu/bangsawan

b.      ere/pemuka agama

c.       cono mbanua/rakyat jelata

d.      sawuyu/budak

lapisan-lapisan ini bersifat exsklusif atau mobilitas hanya terjadi dalam satu golongan saja. Namun mereka dapat berpindah golongan kepada golongan yang lebih rendah, sebenarnya mereka dapat berpindah kegolongan yang lebih tinggi namun biayanya sangat besar. Pada masa sekarang ini penggolongan itu tetap berlangsung dikarenakan banyak orang yang terpelajar yang berasal dari golongan paling tinggi yaitu siulu.

4. Agama dan Religi

Berkat penyaran agama kristen dari rheinische mission gesselschaft (RMG), maka sebagian besar penduduk nias beragama kristen protestan. Adajuga beberapa agama lain yaitu islam, katolik, budha dan agama lokal yang disebut pelebegu.

Pelebegu adalah agama asli yang berarti “penyembah roh”. Nama yang digunakan oleh pengikutnya adalah molohe adu. Agama ini berksar pada penyembahan roh nenek moyang yang mereka wujudkan dalam bentuk patung.

5. Makanan

Gowi Nihandro/Gowi Nitutu (Ubi tumbuk), Harinake, Godo-godo,  köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap), Niowuru.

6. Minuman

Tuo Nifarö & badu-badu

7. Budaya Nias

Lompat Batu, Tari Perang, Maena, Tari Moyo, Tari Mogaele, Sapaan Yaahowu

Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

MINANGKABAU

Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Bold text Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat.

Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori:

-       Adat nan sabana adat

-       Adat nan teradat

-       Adat nan diadatkan

-       Adat istiadat

Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan yang formal maupun yang tidak formal, sesuai dengan pepatah, bahwa sejak semula ada tiga adat nan tajoli:

Partamo sambah manyambah,

kaduo siriah jo pinang,

katigo baso jo basi.

Banamo adat sopan santun.

Tajoli dari kata ‘joli’, sejoli=sepasang, (joli=kereta tandu, teman sejoli berarti teman satu kereta tandu sehingga sangat akrab) satu set. Jadi ketiga bagian adat di atas adalah satu set yang berjalan seiring, diprektekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang, baik orang biasa maupun para penghulu dan cerdik pandainya.

Secara legalistik atau kelembagaan, adat Minang dapat dirangkum dalam Limbago nan Sapuluah, yaitu:

Cupak nan duo

Kato nan ampek

Undang nan ampek

Cupak nan Duo ialah Cupak Usali dan Cupak Buatan Kato nan Ampek ialah:

Kato Pusako

Kato Mupakat

Kato Dahulu Batapati

Kato Kudian Kato Bacari

Undang nan Ampek ialah:

-       Undang-undang Luhak dan Rantau

-       Undang-undang Nagari

-       Undang-undang Dalam Nagar

-       Undang-undang nan Duopuluah

Adat Minang pada tataran konseptual

Adat Minang mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari yang paling permanen dan tetap hingga yang paling mercurial dan sering berubah-ubah, bahkan ad-hoc. Di sini adat Minang disebut Adat nan Ampek.

1.        Adat nan Sabana Adat, adat yang paling stabil dan umum, dan sebenarnya berlaku bukan hanya di Minangkabau saja, melainkan di seluruh alam semesta ini. Disepakati bahwa adat yang sebenarnya adat adalah Hukum Alam atau Sunnatullah, dan Hukum Allah yang tertuang di dalam ajaran Islam. Dengan mengambil Alam takambang menjadi guru adat Minang dapat menjamin kompatibilitasnya untuk segala zaman dan dengan demikian menjaga kelangsungannya di hadapan budaya asing yang melanda. Masuknya agama Islam ke Minangkabau, juga telah melengkapi Adat Minang itu menjadi kesatuan yang mencakup unsur duniawi dan unsur transedental.

2.        Adat nan Diadatkan. Adat Minang menjadi adat Minang adalah karena suatu identitas dengan kesatuan etnis dan wilayah : adat Minang adalah adat yang diadatkan oleh Orang Minang, di Minangkabau. Jadi adat Minang itu sama di seluruh Minangkabau, dan setiap orang Minang be dan leluasa membuat penyesuaian-penyesuaian, maka adat itu akan bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan sense of order. Tidak ada unsur paksaan yang akan terasa jika adat itu monolitik dan seragam di seluruh wilayah.

3.        Adat Istiadat. Ialah adat yang terjadi dengan sendirinya karena interaksi antar anggota masyarakat dan antar anggota masyarakat dengan dunia luar. Dinamakan juga adat sepanjang jalan yang datang dan pergi, dan ditolerir selama tidak melanggar adat yang tiga di atas. Pengakuan akan adanya adat-sitiadat ini menjadikan adat Minang lebih komplit dan memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk bereksperimen dengan hal-hal baru dan memperkaya budayanya.

Empat macam adat diatas adalah adat Minang semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Keempatnya tidak dapat dipisahkan, dan tidak dapat dikatakan adat Minang kalau kurang salah satu: Bukanlah adat Minang jika hanya terfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan Hukum Alam. Dan buknlah pula adat Minang jika hanya berbicara tentang pengangkatan Penghulu, tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat istiadat yang dipakai oleh orang kebanyakan.

Adat Minang pada tataran praktis

Dikatakan dalam pepatah adat: Partamu sambah manyambah, kaduo siriah jo pinang, katigo baso jo basi. Banamo adat sopan santun. Rangkaian kata-kata pusako ini menyatakan bahwa adat Minangkabau itu kalau dirangkum sebenarnaya dapat disingkat menjadi tiga hal:

1. Pasambahan.

Adat Minang sarat dengan formalitas dan interaksi yang dikemas sedemikian rupa sehingga acara puncaknya tidak sah, tidak valid, jika belum disampaikan dengan bahasa formal yang disebut pasambahan. Acara-acara adat, mulai dari yang simple seperti mamanggia, yaitu menyampaikan undangan untuk menghadiri suatu acara, hingga yang berat seperti pengangkatan seseorang menjadi Pangulu, selalu dilaksanakan dengan sambah-manyambah.

Sambah-manyambah di sini tidak ada hubungannya dengan menyembah Tuhan, dan orang Minang tidak menyembah penghulu atau orang-orang terhormat dalam kaumnya. Melainkan yang dimaksud adalah pasambahan kato. Artinya pihak-pihak yang berbicara atau berdialog mempersembakan kata-katanya dengan penuh hormat, dan dijawab dengan cara yang penuh hormat pula. Untuk itu digunakan suatu varian Bahasa Minang tertentu, yang mempunyai format baku.

Format bahasa pasambahan ini penuh dengan kata-kata klasik, pepatah-petitih dan dapat pula dihiasi pula dengan pantun-pantun. Bahasa pasambahan ini dapat berbeda dalam variasi dan penggunaan kata-katanya. Namun secara umum dapat dikatakan ada suatu format yang standar bagi seluruh Minangkabau.

Terkait dengan pasambahan, adat Minang menuntut bahwa dalam setiap pembicaraan, pihak-pihak yang berbicara ditentukan kedudukannya secara formal, misalanya sebagai tuan rumah, sebagai tamu, sebagai pemohon, atau sebagai yang menerima permohonan.

2. Sirih dan pinang

Sirih dan pinang adalah lambang fromalitas dalam interaski masyarakat Minangkabau. Setiap acara penting dimulai dengan menghadirkan sirih dan kelengkepannya seperti buah pinang, gambir, kapur dari kulit kerang. Biasanya ditaruh diatas carano yang diedarkan kepada hadirin. Siriah dan pinang dalam situasi tertentu diganti dengan menawarkan rokok.

Makna sirih adalah secara simbolik, sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaran. Suatu pemberian dapat juga berupa barang berharga, meskipun nilai simbolik suatu pemberian tetap lebih utama daripada nilai intrinsiknya. Dalam pepatah adat disebutkan, siriah nan diateh, ameh nan dibawah. Dengan sirih suatu acara sudah menjadi acara adat meskipun tidak atau belum disertai dengan pasambahan kato.

Sirih dan pinang juga mempunyai makna pemberitahuan, adat yang lahiriah, baik pemberitahuan yang ditujukan pada orang tertentu atau pada khalayak ramai. Karena itu, helat perkawinan termasuk dalam bab ini.

3. Baso-basi

Satu lagi unsur adat Minang yang penting dan paling meluas penerapannya adalah baso-basi: bahkan anak-anak harus menjaga baso-basi. Tuntuan menjaga baso-basi mengharuskan setiap invidu agar berhubungan dengan orang lain, harus selalu menjaga dan memelihara kontak dengan orang disekitarnya secara terus-menerus. Seseorang orang Minang tidak boleh menyendiri.

Baso-basi diimplementasikan dengan cara yang baku. Walaupun tidak dapat dikatakan formal, baso-basi berfungsi menjaga forms, yaitu hubungan yang selain harmonis juga formal antara setiap anggota masyarakat nagari, dan menjamin bahwa setiap orang diterima dalam masyarakat itu, dan akan memenuhi tuntutan hidup bermasyarakat sesuai dengan adat yang berlaku di nagari itu.

Persukuan

Suku merupakan basis dari organisasi sosial dan sekaligus tempat pertarungan kekuasaan yang fundamental. Komposisi dari masing-masing unit keluarga atau suku, berdasarkan jumlah anggota keluarga yang memiliki garis keturunan yang sama dari pihak ibu. Suku terbagi-bagi ke dalam beberapa cabang keluarga yang lebih kecil atau biasa disebut kaum. Adapun unit yang paling kecil disebut paruik. Sebuah paruik biasanya tinggal pada sebuah rumah gadang secara bersama-sama.[19] Hanya kaum perempuan dan anak-anak yang jadi penghuni rumah gadang. Sedangkan laki-laki menetap di rumah istrinya, dan jika laki-laki tersebut belum menikah biasanya tidur di surau. Surau biasa digunakan sebagai tempat mengaji Al Qur’an, berdiskusi, dan berlatih silat.

Selain sebagai basis politik, suku juga merupakan basis dari unit-unit ekonomi. Kekayaan ditentukan oleh kepemilikan tanah keluarga, harta, dan sumber-sumber pemasukan lainnya yang semuanya itu dikenal sebagai harta pusaka. Harta pusaka merupakan harta milik bersama dari seluruh anggota kaum-keluarga. Harta pusaka tidak dapat diperjualbelikan dan tidak dapat menjadi milik pribadi. Harta pusaka semacam dana jaminan bersama untuk melindungi anggota kaum-keluarga dari kemiskinan. Jika ada anggota keluarga yang mengalami kesulitan atau tertimpa musibah, maka harta pusaka dapat digadaikan.

Seperti etnis lainnya, dalam etnis Minangkabau terdapat banyak klan yang disebut dengan istilah suku. Di masa awal pembentukan budaya Minangkabau oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, hanya ada empat suku induk dari dua kelarasan. Suku-suku tersebut adalah[4]: Suku Koto, Suku Piliang, Suku Bodi, Suku Caniago.

Sedangkan kelarasan yang dimaksud adalah kelarasan koto piliang dan kelarasan bodi caniago, kelarasan disini semacam sistem kekuasaan, dan dalam perkembangannya kelarasan koto piliang cendrung kepada sistem aristokrat sedangkan kelarasan bodi caniago lebih kepada sistem konfederasi.

Dan jika melihat dari asal kata dari nama-nama suku induk tersebut, dapat dikatakan kata-kata tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta, sebagai contoh koto berasal dari kata kotto yang berarti benteng atau kubu, piliang berasal dari dua kata phi dan hyang yang digabung berarti pilihan tuhan, bodi berasal dari kata bodhi yang berarti orang yang terbangun, dan caniago berasal dari dua kata chana dan ago yang berarti sesuatu yang berharga.

Demikian juga untuk suku-suku awal selain suku induk, nama-nama suku tersebut tentu berasal dari bahasa sansekerta dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha yang berkembang disaat itu. Sedangkan perkembangan berikutnya nama-nama suku yang ada berubah pengucapannya karena perkembangan bahasa minang itu sendiri dan pengaruh dari agama Islam dan pendatang-pendatang asing yang tinggal menetap bersama.

Sekarang suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk mencari hubungannya dengan suku induk. Di antara suku-suku tersebut adalah: Suku Piboda, Suku Pitopang, Suku Tanjung, SukuSikumbang, Suku Guci, Suku Panai, Suku Jambak, Suku Panyalai, Suku Kampai, Suku Bendang, Suku Malayu, Suku Kutianyie, Suku Mandailiang, Suku Sipisang, Suku Mandaliko, Suku Sumagek, Suku Dalimo, Suku Simabua, Suku Salo, Suku Singkuang, Suku Rajo Dani.

Sedangkan orang Minang di Negeri Sembilan, Malaysia, membentuk 13 suku baru yang berbeda dengan suku asalnya di Minangkabau, yaitu: Suku Biduanda (Dondo), Suku Batu, Hampar (Tompar), Suku Paya Kumbuh (Payo Kumboh), Suku Mungkal, Suku Tiga Nenek, Suku Seri Melenggang (Somolenggang), Suku Seri Lemak (Solomak), Suku Batu Belang, Suku Tanah Datar, Suku Anak Acheh, Suku Anak Melaka, Suku Tiga Batu.

Seni Tari

Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadi icon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau. Keberagaman tersebut hanyalah varian dari tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Sikap ini penting diambil untuk kita tidak terjebak dengan penilaian bahwa varian tari yang satu menyalahi yang lainnya. Sejauh tri terseut tidak melenceng dari akar tradisinya, maka kreasi menjadi alat kreativitas seniman dalam menyikapi budaya yang sedang berkembang.

MENTAWAI

1. Suku Mentawai

Nenek Moyang orang Mentawai diperkirakan datang ke Pulau Siberut sekitar 3.000 tahun yang lalu. Asal mereka belum diketahui secara jelas, dan banyak pendapat mengenainya, tetapi kemungkinan berasal dari Batak, Sumatera Utara. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, keseluruhan suku yang ada di sana awalnya berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

Tipe kebudayaan Mentawai diperkirakan menyebar diseluruh Indonesia pada masa lampau, tetapi telah dipengaruhi oleh kebudayaan lain yang datang dari daerah luar seperti Hindu, Budha, Kristen dan Islam. Sampai saat ini kebudayaan Mentawai relatif masih asli karena keterisolasian dan belum banyak dipengaruhi oleh kebudayaan lain.

2. Struktur Sosial

Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut “uma”. Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga “uma” yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma.

Kelompok-kelompok patrilinial ini terdiri dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini.

Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali “sikerei” (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin upacara keagamaan.

Secara tradisional uma mempunyai wewenang tertinggi di Siberut. Selama rezim Orba fungsi organisasi sosial uma kurang begitu berfungsi tetapi sejak era reformasi uma mulai digalakkan kembali dibeberapa Desa dengan dibentuknya Dewan Adat. Sejak otonomi daerah bergulir direncanakan satuan pemerintah terendah yaitu “ laggai”.

3. Budaya Tradisional

Menurut agama tradisional Mentawai (Arat Sabulungan) seluruh benda hidup dan segala yang ada di alam mempunyai roh atau jiwa (simagre). Roh dapat memisahkan dari tubuh dan bergentayangan dengan bebas. Jika keharmonisan antara roh dan tubuhnya tidak dipelihara, maka roh akan pergi dan dapat menyebabkan penyakit.

Konsep kepercayaan ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kegiatan keseharian yang tidak sesuai dengan adat dankepercayaan maka dapat mengganggu keseimbangan dan keharmonisan roh di alam.

Upacara agama dikenal dengan sebagai punen, puliaijat atau lia harus dilakukan bersamaan dengan aktivitas manusia sehingga dapat mengurangi gangguan. Upacara dipimpin oleh para sikerei yang dapat berkomunikasi dengan roh dan jiwa yang tidak dapat dilihat orang biasa. Roh makhluk yang masih hidup maupun yang telah mati akan diberikan sajian yang banyak disediakan oleh anggota suku. Rumah adat (uma) dihiasi, daging babi disajikan dan diadakan tarian (turuk) untuk menyenangkan roh sehingga mereka akan mengembalikan keharmonisan. Selama diadakan acara, maka sistem tabu atau pantangan (kekei) harus dijalankan dan terjadi pula berbagai pantangan terhadap berbagai aktivitas keseharian.

Kepercayaan tradisional dan khususnya tabu inilah yang menjadi kontrol sosial penduduk dan mengatur pemanfaatan hutan secara arif dan bijaksana dalam ribuan tahun.

Bagaimanapun juga, sekarang kebudayaan tersebut berangsur hilang. Populasi penduduk tumbuh dengan cepat dan sumberdaya alam dieksploitasi tanpa mengindahkan peraturan tradisional sehingga berdampak menurunya daya dukung lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat Mentawai.

Dalam melakukan kegiatan beerburu, pembuatan sampan, merambah/membuka lahan untuk ladang atau membangun sebuah uma maka biasanya dilakukan secar bersama-sama oleh seluruh anggota uma dan pembagian kerja dibagi atas jenis kelamin. Setiap keluarga dalam satu uma membawa makanan (ayam, sagu, dll) yang kemudian dikumpulkan dan dimakan bersama-sama oleh seluruh anggota uma setelah selesai melaksanakan kegiatan/upacara.

Makanan pokok masyarakat di Siberut adalah sagu (Metroxylon sagu), pisang dan keladi. Makanan lainnya seperti buah-buahan, madu dan jamur diramu dari hutan atau ditanam di ladang. Sumber protein seperti rusa, monyet dan burung diperoleh dengan berburu menggunakan panah dan ikan dipancing dari kolam atau sungai.

4. Tata Busana

Tatabusana masyarakat asli Mentawai mencerminkan azasazas egaliter, dalam tatanan masyarakat tidak ada strata-strata sosial, pimpinan atau anak buah. Pembedaan busana lebih ditentukan pada kejadian, peristiwa, upacara yang dalam hal ini adalah upacara khusus tentang penghormatan arwah (punen).

Selain itu busana juga mengungkapkan ciri-ciri kedekatan penyandangnya dengan alam lingkungan yang tropis, berhutan lebat berikut keaneka ragaman floranya. Hal ini antara lain tampak pada banyaknya hiasan floral yang dikenakan.

Salah satu kelengkapan busana suku Mentawai, yang khususnya dipakai kaum pria adalah cawat, penutup aurat, terbuat dari kulit kayu pohon baguk dan sebut kabit. Kaum wanita memakai sejenis rok yang terbuat dari dedaunan pisang yang diolah secara khusus dan dililitkan kepinggang untuk menutupi aurat, disebut sokgumai. Selain kabit dan sokgumai, orang-orang Mentawai dapat dikatakan tidak menggunakan apa-apa lagi yang benar-benar menutup tubuhnya selain aneka perhiasan serta dekorasi tubuh yang terbuat dari untaian manik-manik, gelang-gelang, bunga-bungaan dan daundaunan.

Kalung manik-manik yang sangat impresif yaitu ngaleu menghiasi leher dalam jumlah yang dapat mencapai puluhan, terbuat dari gelas berwarna merah, kuning, putih dan hitam atau hijau. Kedua pergelangan tangan juga dihiasi dengan gelang-gelang manik-manik. Demikian pula pada kedua pangkal lengan dan pada bagian kepala berbaur dengan aneka bunga dan daun-daunan. Ikat kepala ini dinamakan sorat. Sedangkan gelang manik pangkal lengan disebut lekkeu.

Tampilan busana selengkapnya suku Mentawai ini dikenakan pada upacara punen, suatu ritus yang ditujukan untuk menghormati roh nenek moyang. Peristiwa ini melaksanakan praktek sikerei, suatu kegiatan perdukunan. Ritus ini dipimpin oleh seorang kerei (dukun) dalam busana kerei yang sebenarnya adalah busana tradisional Mentawai yang dihiasi dan ditaburi berbagai dekorasi yang lebih banyak dari pada keadaan sehari-hari. Busana kerei ini selain terdiri atas kabit dan sorat juga dilengkapi :

-       sobok, sejenis kain penutup aurat bercorak dibagian depan kabit.

-       rakgok, ikat pinggang dari lilitan kain polos, biasanya merah.

-       pakalo, botol kecil tempat ramuan obat-obatan.

-       lei-lei , rnahkota dari bulu-buluan dan bunga-bungaan.

-       cermin raksa, bergantung pada kalung depan dada.

-       ogok, sejenis subang pada kedua telinga.

Aspek yang terpenting dan amat berarti dalam tatacara busana serta rias tubuh adalah tato (cacah). Pencacahan tubuh memiliki berbagai perlambangan baik sosial maupun psikologis yang berangkat dari faham-faham adat, kepercayaan serta alam fikiran suku bangsa Mentawai.

Tato merupakan simbol kejantanan, kedewasaan dan keperkasaan bagi kaun pria. Selain itu tato, atau tik-tik dalam bahasa daerah Mentawai juga merupakan identifikasi marga atau daerah asal penyandangnya. Setiap marga (klan) dan dapat memiliki corak tatonya masingmasing. Tato juga menjadi ungkapan keindahan dan selain mendatangkan kekuatan juga dipercaya sebagai pembawa keselamatan serta kerukunan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Tato adalah busana kebanggaan, dianggap abadi dan dipakai serta dikenakan hingga ajal. Warna tato biasanya biru kehitaman dan diungkapkan dalam garis-garis kontur geometris simetris. Bagian yang biasanya dihiasi tato adalah pipi dan punggung. Lalu disusul dengan tangan, dada, paha dan pantat, terakhir pangkal kaki antara lutut dan pergelangan kaki. Proses tato dilaksanakan pada tahap-tahap tertentu dalam umur manusia, diawali pada usia 7-11 tahun dan dilanjutkan secara bertahap hingga usia 18-19 tahun.

BANGKA BELITUNG

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P.Pongok, P. Mendanau dan P.Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau. Bangka Belitung terletak di bagian timur Pulau Sumatera, dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan. Bangka Belitung dikenal sebagai daerah penghasil timah, memiliki pantai yang indah dan kerukunan antaretnis. Ibu kota provinsi ini ialah Pangkalpinang. Pemerintahan provinsi ini disahkan pada tanggal 9 Februari 2001. Setelah dilantiknya Pj.Gubernur yakni H.Amur Muchasim, SH (mantan Sekjen Depdagri) yang menandai dimulainya aktivitas roda pemerintahan provinsi

Selat Bangka memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Bangka, sedangkan Selat Gaspar memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Di bagian utara provinsi ini terdapat Laut Cina Selatan, bagian selatan adalah Laut Jawa dan Pulau Kalimantan di bagian timur yang dipisahkan dari Pulau Belitung oleh Selat Karimata.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebelumnya adalah bagian dari Sumatera Selatan, namun menjadi provinsi sendiri bersama Banten dan Gorontalo pada tahun 2000. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21 November 2000 yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung dan Kota Pangkalpinang. Pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 23 Januari 2003 dilakukan pemekaran wilayah dengan penambahan 4 kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur. Propinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan pemekaran wilayah dari Provinsi Sumatra Selatan.

1. Keagamaan

Penduduk Kepulauan Bangka Belitung merupakan masyarakat yang beragama dan menjunjung tinggi kerukunan beragama. Tempat peribadatan agama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ada sebanyak 730 masjid, 454 musala, 115 langgar, 87 gereja protestan, 30 gereja katholik, 48 vihara dan 11 centiya. Pada pemberangkatan haji tahun 2007 jumlah jemaah haji yang terdaftar dan diberangkatkan ke tanah suci sebanyak 1012 jemaah.

2. Rumah adat

a.     Rumah Panggung

Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka.

Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman.

Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh (bambu). Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung.

b.    Rumah Limas

c.     Rumah Rakit

3. Atraksi/Event Budaya

Perang Ketupat, Buang Jong, Mandi Belimau, Ruwah, Kongian, Imlek, Sembahyang Rebut, Sembahyang Kubur, Kawin Masal, Nganggung, Maulid Nabi Muhammad, Isra Mi’raj, Muharoman, Selikur, Nyukur, Idul Fitri/Hari Raya Puasa, Idul Adha/Hari Raya Haji, Nujuh Hari, Empat Puluh Hari, Nyeratus Hari.

4. Kain tradisional

Kain Cual

5. Senjata tradisional

-     Parang bangka bentuknya seperti layar kapal. Alat ini digunakan terutama untuk perkelahian jarak pendek. Senjata ini mirip dengan golok di Jawa, namun ujung parang ini dibuat lebar dan berat guna meningkatkan bobot supaya sasaran dapat terpotong dengan cepat. Parang yang berdiameter sedang atau sekitar 40 cm juga dapat digunakan untuk menebang pohon karena bobot ujungnya yang lebih besar dan lebih berat.

-     Kedik adalah alat tradisional yang digunakan sebagai alat pertanian. Alat ini digunakan di perkebunan terutama di kebun lada. Dalam menggunakannya si pemakai harus berjongkok dan bergerak mundur atau menyamping. Alat ini digunakan dengan cara diletakkan pada tanah dan ditarik ke belakang. Alat ini efektif untuk membersihkan rumput pengganggu tanaman lada. Kedik biasanya digunakan oleh kaum wanita karena alatnya kecil dan relatif lebih ringan. Kedik hanya dapat digunakan untuk rumput jenis yang kecil atau rumput yang tumbuh dengan akar yang dangkal, bukan ilalang.

-                 Siwar Panjang

6. Alat musik dan tarian tradisional

Dambus, Suling, Gendang Melayu, Tari Tanggai, Tari Zapin, Tari Campak, Rebana, Rudat, Tari Bahtera Bertiang Tujuh, Sekapur Sirih.

7. Masakan/makanan tradisional

Lempah kuning adalah masakan khas dari Pulau Bangka. Bahan dasar makanan ini adalah ikan laut dan dapat juga memakai daging, yang kemudian diberi bermacam bumbu dapur seperti kunyit, bawang merah dan putih serta lebngkuas dan terasi atau belacan yang khas dari daerah Bangka.

Getas atau Keretek adalah makanan yang berbahan dasar ikan dan terigu yang buat dengan berbagi bentuk yang rasanya hampir sama dengan kerupuk.

Rusip adalah makanan yang terbuat dari bahan dasar ikan bilis yang dicuci bersih dan diriskan secara steril, kemudian dicampur dengan garam yang komposisinya seimbang. Di samping itu ditambahkan juga air gula kabung agar aroma lebih terasa, kemudian disimpan sampai menjadi matang tanpa proses pemanasan. Adonan ini harus ditutup dengan wadah yang rapat agar tidak tercampur dengan benda asing apapun. Dahulu biasanya proses adonan ini ditempatkan dalam guci yang bermulut sempit. Suhu ruangan harus dijaga. Makanan ini dapat dimasak dulu atau dimakan langsung dengan lalapan.

Calok adalah makanan yang Terbuat dari udang kecil segar yang disebut dengan udang cencalo/rebon. udang dicuci bersih dan dicampur dengan garam sebagai pengawet agar tahan lebih lama. sangat cocok untuk teman lauk nasi hangat dengan lalapan ketimun, tomat dan sayuran segar lainnya. Calok juga enak sebagai campuran omelete telur. rasnya akan lebih gurih dan nikmat

Teritip adalah sejenis tiram kecil yang biasanya hidup di tepi pantai dan melekat pada bebatuan. dagingnya sangat kecil tapi memiliki rasa da tekstur seperti tiram pada umumnya. biasanya dimakan segar atau di asinkan dengan garam jika ingin disimpan.Teritip sangat nikmat jika ditambahkan dengan cabe merah dan jeruk kunci (sejenis jeruk asam khas bangka)

Belacan, Tembiluk, Kempelang, Kerupuk, Lempah Darat, Empek-empek Bangka, Lakso, Tempoyak, Bergo, Tekwan, Laksan, Otak-otak, Sambellingkung, Martabak bangka atau Kue Van De Cock/Hok Lo Pan.

Lempok, makanan sejenis dodol yang terbuat dari campuran gula pasir dan buah-buahan tertentu (umumnya cempedak, nangka dan durian). Buah yang digunakan dilembutkan sampai memyerupai bubur, kemudian dicampur dengan gula pasir dengan perbandingan tertentu dan dipanaskan di atas api sampai kecoklatan dan mudah dibentuk. Selama pemanasan, campuran harus selalu diaduk.

Masyarakat keturunan Tionghoa dari daerah ini terkenal karena masakannya serta kue-kue basahnya. Mie Bangka, martabak bangka atau Hok Lopan atau Van De Cock, ca kwe dan berbagai jenis makanan lainnya seringkali dijual oleh kelompok masyarakat ini yang merantau ke kota-kota besar di luar provinsi ini.

8. Pakaian Adat

Pakaian Adat Pengantin

Setiap provinsi di Indonesia mempunyai Pakaian Adat. Di Pulau Bangka Belitung sendiri selain mempunyai Pakaian Adat, Pulau ini juga mempunyai pakaian adat pengantin. Di bawah ini saya akan membahas Pakaian Adat Pengantin Kota Pangkal Pinang.

Asal usul Pakaian Adat Pengantin ini menurut keterangan orang zaman dulu yang berasal dari negri Cina, menurut mereka ada saudagar dari Arab yang datang ke negri Cina sambil memberitakan agama Islam dan saudagar ini jatuh cinta pada seorang gadis cina. kemudian mereka melangsungkan pernikahan, pada pernikahan ini mereka menggunakan Pakaian Adat negri masing-masing. Selanjutnya,karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada saat itu. Diantara para perantau itu ada yang melakukan pernikahan di pulau bangka. Oleh karena itu banyak orang Bangka yang meniru Pakaian Adat Pengantin tersebut.

Pakaian Adat Pengantin ini pada akhirnya disebut ” Paksian”. Pakaian Adat ini terdiri dari Pakaian Adat Pengantin Perempuan dan Pakaian Adat Pengantin Pria

Pakaian Adat Pengantin Perempuan

Pakaian Adat Pengantin Perempuan terdiri dari baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teretai atau penutup dada serta menggunakan kain Cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok. Selain itu para Pengantin Perempuan juga menggunakan Hiasan Kepala dan dilengkapi dengan asesoris-asesoris antara lain:

Kembang Cempaka, Kembang Goyang, Daun Bambu, Kuntum Cempaka, Sepit Udang, Pagar Tenggalung, Sari Bulan, Tutup Sanggul atau Kembang Hong, Kalung, Anting Panjang, Gelang, Pending Untuk Pinggang.

Baju Pengantin Perempuan ditambah dengan hiasan Payet atau Manik-Manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).

Pakaian Adat Pengantin Pria

Untuk Pakaian Adat Pengantin Pria terdiri dari:

Jubah Panjang Sebatas Betis, Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan, Celana, Penutup kepala seperti Sorban (Sungkong ), Pending, Selop/ Sandal Arab.

Pakaian Pengantin Pria ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan Manik-Manik dan sama seperti Pengantin Perempuan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan)

TORAJA

Kabupaten Tana Toraja ibukotanya adalah Makale, terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, Pulau Sulawesi, Indonesia. Kabupaten Tana Toraja berjarak sekitar 350 km sebelah utara kota Makassar. Makassar adalah ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Tana Toraja terdapat Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan. Suku Toraja ini masih mempertahankan gaya hidup yang khas yaitu gaya hidup Austronesia. Tana Toraja adalah salah-satu obyek wisata yang ada di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Kabupaten Tana Toraja ibukotanya adalah Makale, terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, Pulau Sulawesi, Indonesia. Kabupaten Tana Toraja berjarak sekitar 350 km sebelah utara kota Makassar. Makassar adalah ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.

Di Kabupaten Tana Toraja terdapat Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan. Suku Toraja ini masih mempertahankan gaya hidup yang khas yaitu gaya hidup Austronesia. Tana Toraja adalah salah-satu obyek wisata yang ada di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan.

Daya Tarik Tana Toraja

a. Rambu Solo

Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja. Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang telah meninggal dunia menuju alam roh untuk berkumpul kembali bersama para leluhur mereka disebuah tempat peristirahatan. Tempat peristirahatan para leluhur masyarakat Tana Toraja yang sudah meninggal dunia disebut Puya.

Upacara adat kematian ini disebut juga upacara Penyempurnaan Kematian, tanpa adanya upacara ini maka orang yang sudah meninggal dunia masih dianggap belum benar-benar meninggal dunia.

Bagian dari Upacara Rambu Solo adalah :

-       Upacara Rante

Upacara Rante adalah puncak dari Upacara Rambu Solo. Dalam Upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual, yaitu :

-       Proses pembungkusan jenazah

-       Pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah

-       penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan

-       Proses pengusungan jenazah ketempat peristirahatan terakhir

b. Rambu Tuka

Upacara Rambu Tuka adalah upacara adat yang berhubungan dengan acara syukuran, didalam upacara ini tak ada kesedihan yang ada hanya kegembiraan. Saat berbahagia, masyarakat Toraja menggelar upacara Rambu Tuka. Upacara ini menarik karena berbagai atraksi, tarian, dan nyanyian dari kebudayaan Toraja yang unik. Banyak ragam upacara Rambu Tuka, beberapa upacara adat yang masuk dalam kategori Rambu Tuka adalah :

-            mangrara banua (syukuran setelah rehabilitasi tongkonan)

mangrara banua adalah acara yang terbesar. Upacara Rambu Tuka ini menghadirkan semua rumpun keluarga, adanya acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja menjadi sangat kuat.

-            aluk ma’lolo (upacara syukuran kelahiran)

-            aluk tanaman (upacara syukuran keberhasilan panen)

Upacara Rambu Tuka dilaksanakan sebelum tengah hari di sebelah timur tongkonan. Ini berbeda dengan Rambu Solo yang digelar setelah tengah hari di sebelah barat tongkonan. Sebagai upacara kegembiraan, Rambu Tuka digelar mengiringi meningginya matahari. Sedangkan Rambu Solo digelar mengiringi tenggelamnya matahari.

c. Tongkonan

Tongkonan adalah bangunan rumah adat Suku Toraja. Atap bangunan rumah adat ini terbuat dari daun nipa atau daun kelapa dan atap rumah adat ini dapat bertahan sampai 50 tahun lamanya. Di Londa, Rantepao terdapat Tongkonan yang telah berumur sangat tua, yaitu 600 tahun lamanya. Tongkonan bentuknya unik sehingga banyak membuat orang kagum melihatnya. Tongkonan juga mempunyai strata sesuai dengan derajat kebangsawanan setiap orang, seperti Tongkonan dengan strata emas, perunggu, besi dan kuningan.

d.        Desa Adat Pallawa

Desa adat Pallawa , merupakan desa khas yang masih memiliki 11 bangunan rumah khas Toraja dan 15 lumbung padi khas toraja. Rumah-rumah beratap susunan bambu tersebut sudah ratusan tahun usianya dan hingga kini masih dipertahankan Susunan tanduk kerbau di bagian depan rumah, menjadi aksesoris yang segera saja menarik mata, begitu juga dengan sebaris taring babi yang digantung di dekat langit-langit di pelataran rumah.

Susunan tanduk kerbau menunjukkan strata sosial pemilik rumah, semakin banyak tanduk berarti semakin kaya karena dia sering mengadakan upacara adat. Sementara taring babi menunjukkan kalau rumah tersebut sudah diupacarakan dalam adat syukuran. Dapat juga dijumpai peninggalan kebudayaan megalitikum di Boriparinding. Kharisma dan kekokohannya tampak bersinar di antara puluhan batu-batu berukuran raksasa tersebut.

e. Kawasan pemakaman/Kuburan Gua Londa

Londa adalah sebuah kompleks kuburan kuno yang terletak di dalam gua. Di bagian luar gua terlihat boneka-boneka kayu khas Toraja. Boneka-boneka merupakan replika atau miniatur dari jasad yang meninggal dan dikuburkan di tempat tersebut. Miniatur tersebut hanya diperuntukkan bagi bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi, warga biasa tidak mendapat kehormatan untuk dibuatkan patungnya.

Kuburan Gua londa Tana Toraja adalah kuburan pada sisi batu karang terjal , salah satu sisi dari kuburan itu berada di ketinggian dari bukit mempunyai gua yang dalam dimana peti-peti mayat di atur dan di kelompokkan berdasarkan garis keluarga.

Disisi lain dari puluhan tau-tau berdiri secara hidmat di balkon wajah seperti hidup mata terbuka memandang dengan penuh wibawah.

f. Kawasan pemakaman / Kuburan Batu Lemo

Di sini jasad diletakkan di liang-liang dalam sebuah dinding tebing cadas. Dulu orang menatah tebing ini selama bertahun-tahun,sehingga jasad orang yang meninggal bisa ditanam di dalamnya. Semakin tinggi letak petinya, berarti strata sosialnya juga makin tinggi. Pada Kuburan Batu Lemo Tana Toraja dapat dilihat serambi tau-tau pada dinding batu terjal , menghadap kealam terbuka .

Tau-tau Kuburan Batu Lemo atau patung kayu manusia kecil yang dianggap mewadahi spirit si mati terbuat dari kayu atau bambu. Secara periodik pakaiannya dapat diganti melalui upacara yang disebut Ma’nene (menghormat kepada orang tua).

g. Pekuburan Bayi Kambira

Sebuah kompleks kuburan khusus untuk bayi (baby graves). . Tampak kotak-kotak persegi hitam menyembul di batang utama pohon.“Kotak-kotak itu sebenarnya sudah dilubangi dan diisi mayat bayi. Kuburan Bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 km dari Rantepao,

Jenazah bayi yang belum tumbuh gigi dikuburkan di atas pohon tarra (Tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir), pohon tempat “menyimpan” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Pohon Tarra – yang buahnya mirip buah sukun – dengan lingkaran batang pohon sekitar 1-3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Jenazah dimasukkan ke batang pohon, yang terlebih dahulu batang pohon itu dilubangi , lalu ditutupi dengan serat ijuk .masyarakat Tana Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir. Penempatan jenazah bayi di pohon ini, sesuai dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi letak bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra.

h. Kain Khas Tana Toraja

Suvenir khasnya, Kain khas Tana Toraja (Parambak) yang kaya warna dan motif bisa didapatkan di desa Sadang Tobarana. Aktivitas menenun dan memintal benang yang dilakukan oleh para wanita di desa tersebut.

Suguhan nasi merah, ikan bakar yang dibumbui sambal dabu dabu yang pedas segar, bakso babi serta minuman khas sejenis tuak manis dan minuman balok selalu tersedia di warung makan khas toraja.

Selain itu, Tana Toraja sudah direkomendasikan untuk dijadikan kawasan warisan budaya dunia ke Unesco PBB. Menurut para ahli, setiap jengkal di kabupaten Toraja adalah kawasan warisan budaya dunia sehingga harus dilestarikan.

i. Rumah tradisional Toraja

Rumah tradisional Toraja merupakan salah satu kebudayaan bangsa yang keberadaannya dipandang perlu untuk dipelihara agar tidak punah.

Kabupaten Tana Toraja terletak di pedalaman Provinsi Sulawesi Selatan, 340 km ke arah utara dari Makasar, dengan ibukotanya Makale.

Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam, diselingi dengan ladang dan hutan, dilembahnya terdapat hamparan persawahan.

Latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari perkembangan kebudayaan Toraja.

GORONTALO

1. Seni & Budaya Daerah

Gorontalo sebagai salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi memiliki aneka ragam kesenian daerah, baik tari, lagu, alat musik tradisional, adat-istiadat, upacara keagamaan, rumah adat, dan pakaian adat. Tarian yang cukup terkenal di daerah ini antara lain, Tari Bunga, Tari Polopalo, Tari Danadana, Zamrah, dan Tari Langga.  Sedangkan lagu-lagu daerah Gorontalo yang cukup dikenal oleh masyarakat Gorontalo adalah Hulandalo Lipuu (Gorontalo Tempat Kelahiranku), Ambikoko, Mayiledungga (Telah Tiba), Mokarawo (Membuat Kerawang), Tobulalo Lo Limuto (Di Danau Limboto), dan Binde Biluhuta (Sup Jagung).

Penyanyi-penyanyi asal daerah Gorontalo yang terkenal, antara lain, Rama Aipama, Silvia Lamusu, Lucky Datau, Hasbullah Ishak, Shanty T., dan Gustam Jusuf. Rama Aipama lahir di Gorontalo pada tanggal 17 September 1956, yang kemudian mencapai sukses besar dalam dunia tarik suara di Jakarta.

Alat musik tradisional yang dikenal di daerah Gorontalo adalah Polopalo, Bambu, dan Gambus (berasal dari Arab).

2. Rumah Adat

Gorontalo memiliki rumah adatnya sendiri, yang disebut Bandayo Pomboide dan Dulohupa. Rumah adat ini terletak di tepat di depan Kantor Bupati Gorontalo, Jalan Jenderal Sudirman, Limboto. Dulohupa terletak di di Kelurahan Limba U-2, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Akan tetapi, rumah adat Dulohupa yang satu ini kini tinggal kenangan karena sudah diratakan dengan tanah. Rumah adat ini digunakan sebagai tempat bermusyawarat  kerabat kerajaan pada masa lampau.

Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan, untuk memvonis para pengkhianat negara melalui sidang tiga alur pejabat pemerintahan, yaitu Buwatulo Bala (Alur Pertahanan / Keamanan), Buwatulo Syara (Alur Hukum Agama Islam), dan Buwatulo Adati (Alur Hukum Adat).

3. Bahasa Daerah

Orang Gorontalo menggunakan bahasa Gorontalo, yang terbagi atas tiga dialek, dialek Gorontalo, dialek Bolango, dan dialek Suwawa. Saat ini yang paling dominan adalah dialek Gorontalo.

Penarikan garis keturunan yang berlaku di masyarakat Gorontalo adalah bilateral, garis ayah dan ibu. Seorang anak tidak boleh bergurau dengan ayahnya melainkan harus berlaku taat dan sopan. Sifat hubungan tersebut berlaku juga terhadap saudara laki-laki ayah dan ibu.

Menurut masyarakat Gorontalo, nenek moyang mereka bernama Hulontalangi, artinya ‘pengembara yang turun dari langit’. Tokoh ini berdiam di Gunung Tilongkabila.  Kemudian dia menikah dengan salah seorang perempuan pendatang yang bernama Tilopudelo yang singgah dengan perahu ke tempat itu. Perahu tersebut berpenumpang delapan orang. Mereka inilah yang kemudian menurunkan orang Gorontalo, tepatnya yang menjadi cikal bakal masyarakat keturunan Gorontalo saat ini. Sejarawan Gorontalo pun cenderung sepakat tentang pendapat ini karena hingga saat ini ada kata bahasa Gorontalo, yakni ‘Hulondalo’ yang bermakna ‘masyarakat, bahasa, atau wilayah Gorontalo’. Sebutan Hulontalangi kemudian berubah menjadi Hulontalo dan akhirnya menjadi Gorontalo.

4. Pakaian Adat

Gorontalo memiliki pakaian khas daerah sendiri baik untuk upacara perkawinan, khitanan, baiat (pembeatan wanita), penyambutan tamu, maupun yang lainnya. Untuk upacara perkawinan, pakaian daerah khas Gorontalo disebut Bili’u atau  Paluawala. Pakaian adat ini  umumnya dikenal terdiri atas tiga warna, yaitu ungu, kuning keemasan, dan hijau.

5. Nuansa Warna bagi Masyarakat Gorontalo

Dalam adat-istiadat Gorontalo, setiap warna memiliki makna atau lambang tertentu. Karena itu, dalam upacara pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan empat warna utama, yaitu merah, hijau, kuning emas, dan ungu. Warna merah dalam masyarakat adat Gorontalo  bermakna ‘ keberanian dan tanggung jawab;  hijau bermakna ‘kesuburan, kesejahteraan, kedamaian, dan kerukunan’; kuning emas bermakna  ‘kemuliaan, kesetian, kebesaran, dan kejujuran’; sedangkan warna ungu bermakna ‘keanggunanan dan kewibawaan’.

Pada umumnya masyarakat adat Gorontalo enggan mengenakan pakaian warna coklat karena coklat melambangkan ‘tanah’. Karena itu, bila mereka ingin mengenakan pakaian warna gelap, maka mereka akan memilih warna hitam yang bermakna ‘keteguhan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa’. Warna putih bermakna ‘kesucian atau kedukaan’.

Karena itu, mayarakat Gorontalo lebih suka mengenakan warna putih bila pergi ke tempat perkabungan atau kedukaan atau ke tempat ibadah (masjid).

Biru muda sering dikenakan pada saat peringatan 40 hari duka, sedangkan biru tua dikenakan pada peringatan 100 hari duka.

Dengan dasar pandangan terhadap warna tersebut, maka pada hiasan untuk upacara pernikahan masyarakat Gorontalo hanya menggunakan empat warna utama di atas (merah, hijau, kuning emas, dan ungu). Sebagaimana disebutkan di atas, masyarakat Gorontalo memiliki pakaian khas tersendiri untuk berbagai upacara adat baik perkawinan, pengkhitanan, pembaitan, dan penyambutan tamu. Pakaian adat pengantin disebut Paluawala atau Bili’u.  Pada waktu akad nikah pengantin mengenakan pakaian adapt yang disebut Wolimomo dan Payungga. Saat itu pengantin pria berada di kamar adat yang disebut Huwali Lo Humbiya. Paluwala artinya polunete unggala’a to delemo pohla’a,  yakni suatu ikatan keluarga pada keluarga besar: Duluwo lou limo lo pohala’a Gorontalo, Limboto, Suwawa, Bolango, dan Atinggola.

Sedangkan Bili’u berasal dari kata bilowato artinya ‘yang diangkat’, yakni sang gadis diangkat dengan memperlihatkan ayuwa  (sikap)  dan popoli  (tingkah laku), termasuk sifat dan pembawaanya di lingkungan keluarga. Pakaian ini dipakai pada waktu pengantin duduk bersanding di pelaminan yang disebuat pu’ade atau tempat pelaminan. Kemudian pengantin mengenakan pakaian Madipungu dan Payunga Tilambi’o,  yaitu pakaian pengantin wanita tanpa Bayalo Bo”Ute atau hiasan kepala, cukup pakai konde dengan hiasan sunthi dan pria memakai Payunga Tilambi’o.

Yang terakhir sang pengantin mengenakan Pasangan dan Payunga Tilambi’o, yaitu pakaian pengantin wanita dengan tiga perempat tangannya dipakai acara resepsi, di mana pengantin wanita bebas bersuka ria dengan sahabat–sahabat sebaya sebagai penutup acara masa remajanya.

Dalam adat perkawinan Gorontalo sebelum  hari H dilaksanakan acara “Dutu“,  di mana kerabat pengantin pria akan mengantarkan harta dengan membawakan buah–buahan, seperti buah jeruk, nangka, nenas, dan tebu. Setiap  buah yang dibawa juga punya makna tersendiri, misalnya buah jeruk bermakna bahwa ‘pengantin harus merendahkan diri’, duri jeruk bermakna bahwa ‘pengantin harus menjaga diri’, dan rasanya yang manis bermakna bahwa ‘pengantin harus menjaga tata kerama atau bersifat manis supaya disukai orang. Nenas, durinya juga bermakna bahwa pengantin  harus menjaga diri, dan begitu pula rasanya yang manis. Nangka dalam bahasa Gorontalo Langge lo olooto, yang berbau harum dan  berwarna kuning emas mempunyai  arti bahwa pengantin tersebut harus memiliki sifat penyayang dan penebar keharuman. Tebu warna kuning bermakna bahwa pengantin harus menjadi orang yang disukai  dan teguh dalam pendirian.

6. Agama

Orang Gorontalo hampir dapat dikatakan semuanya beragama Islam (99 %). Islam masuk ke daerah ini sekitar abad ke-16. Ada kemungkinan Islam masuk ke Gorontalo sekitar tahun 1400 Masehi (abad XV), jauh sebelum wali songo di Pulau Jawa, yaitu ditandai dengan adanya makam seorang wali yang bernama ‘Ju Panggola’ di Kelurahan Dembe I, Kota Barat, tepatnya di wilayah perbatasan Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo.

Pada waktu dulu di wilayah Gorontalo terdapat pemerintahan kerajaan yang bernapaskan Islam. Raja Kerajaan Gorontalo yang memeluk agama Islam adalah Sultan Amai (1550—1585), yang kemudiannya namanya diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama Islam di Provinsi Gorontalo, STAIN Sultan Amai Gorontalo, yang kelak diharapkan menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) di Gorontalo.

Dengan adanya kerajaan-kerajaan pada masa lalu muncul kelas-kelas dalam masyarakat Gorontalo; kelas raja dan keturunannya (wali-wali), lapisan rakyat kebanyakan (tuangolipu), dan lapisan budak (wato). Perbedaan kelas ini semakin hilang seiring dengan semakin besarnya pengaruh ajaran Islam yang tidak mengenal kelas sosial. Namun, pandangan tinggi rendah dari satu pihak terhadap pihak lain masih terasakan sampai saat ini. Dasar pelapisan sosial seperti ini semakin bergeser oleh dasar lain yang baru, yaitu jabatan, gelar, pendidikan, dan kekayaan ekonomi.

Masjid Agung Baiturrahim yang terletak di pusat Kota Gorontalo dewasa ini merupakan masjid tertua yang dibangun di daerah ini. Masjid tersebut didirikan bersamaan dengan pembangunan Kota Gorontalo yang baru dipindahkan dari Dungingi ke Kota Gorontalo, tepatnya Kamis, 6 Syakban 1140 Hijriah atau 18 Maret  1728 M oleh Paduka Raja Botutihe. Belaiu adalah  Kepala Pemerintahan Batato Lo Hulondalo atau Kerajaan Gorontalo pada waktu itu. Masjid Baiturrahim Kota Gorontalo adalah masjid yang tua di daerah Gorontalo. Masjid ini didirikan bertalian erat dengan perkembangan Pemerintahan adat di daerah Gorontalo.

Masjid Agung Baiturrahim telah mengalami beberapa kali revoasi. Tahun 1999 dalam masa jabatan Walikotamadya Tingkat II Gorontalo Drs. Hi. Medi Botutihe, masjid direnavasi total dengan menghabiskan biaya sekitar tiga milar rupiah. Kemudian penggunaan masjid ini diresmikan oleh Presiden Baharuddin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Rabu, 13 Oktober 1999 (3 Rajab 1420 H).

Sedangkan Masjid Agung Baiturrahman terletak di pusat Kota Limboto, ibu kota Kabupaten Gorontalo. Masjid terletak di samping Menara Keagungan Limboto, dan merupakan masjid terbesar di Kabupaten Gorontalo.

JAWA TENGAH

Jawa Tengah adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Jawa. Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat di sebelah barat, Samudra Hindia dan Daerah Istimewa Yogyakarta di sebelah selatan, Jawa Timur di sebelah timur, dan Laut Jawa di sebelah utara. Luas wilayahnya 32.548 km², atau sekitar 25,04% dari luas pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan di sebelah selatan (dekat dengan perbatasan Jawa Barat), serta Kepulauan Karimun Jawa di Laut Jawa.

budaya jawa tengah

jawa tengah adalah propinsi dimana budaya jawa banyak berkembag disini karena di jawa tengah dahulu banyak kerajaan berdiri disini itu terlihat dari berbagai peninggalan candi di jawa tengah.

mahakarya yang sungguh mempesona adalah batik di jawa tengah setiap daerah mempunya corak batik tulis yang berbeda beda mereka mempunyai ciri khas sendiri sendiri selain batik ada juga kesenian yang tak kalah luar biasanaya ada wayang kulit yang sudah dia kaui dunia sebagai warisan budaya dunia oleh unesco ada juga tembang tembang (lagu lagu ) jawa yang diiringi oleh gamelan (alat musik) yang juga dikenal dengan campursariada juga ketoprak yang merupakan pertunjukan seni peran khas dari jawa

di jawa tengah juga masih ada kerjaan yang samapai sekarang masih berdiri tepatnya dikota solo yang dikenal dengan kasunanan solo

budaya jawa tengah sungguh banyak mulai dari wayang ,wayang orang, ketoprak,tari dan masih banyak lagi berikut beberapa foto terkait budaya jawa tengah :

TARI SRIKANDI

KERIS PAKAIAN ADAT

SINDEN                                                          TAYUB

RUMAH ADAT JAWA TENGAH

Suku

Mayoritas penduduk Jawa Tengah adalah Suku Jawa. Jawa Tengah dikenal sebagai pusat budaya Jawa, di mana di kota Surakarta dan Yogyakarta terdapat pusat istana kerajaan Jawa yang masih berdiri hingga kini.

Suku minoritas yang cukup signifikan adalah Tionghoa, terutama di kawasan perkotaan meskipun di daerah pedesaan juga ditemukan. Pada umumnya mereka bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Komunitas Tionghoa sudah berbaur dengan Suku Jawa, dan banyak diantara mereka yang menggunakan Bahasa Jawa dengan logat yang kental sehari-harinya.

Selain itu di beberapa kota-kota besar di Jawa Tengah ditemukan pula komunitas Arab-Indonesia. Mirip dengan komunitas Tionghoa, mereka biasanya bergerak di bidang perdagangan dan jasa.

Di daerah perbatasan dengan Jawa Barat terdapat pula orang Sunda yang sarat akan budaya Sunda, terutama di wilayah Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di pedalaman Blora (perbatasan dengan provinsi Jawa Timur) terdapat komunitas Samin yang terisolir, yang kasusnya hampir sama dengan orang Kanekes di Banten.

Bahasa

Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa Jawa Dialek Solo-Jogja dianggap sebagai Bahasa Jawa Standar.

Di samping itu terdapat sejumlah dialek Bahasa Jawa; namun secara umum terdiri dari dua, yakni kulonan dan timuran. Kulonan dituturkan di bagian barat Jawa Tengah, terdiri atas Dialek Banyumasan dan Dialek Tegal; dialek ini memiliki pengucapan yang cukup berbeda dengan Bahasa Jawa Standar. Sedang Timuran dituturkan di bagian timur Jawa Tengah, diantaranya terdiri atas Dialek Solo, Dialek Semarang. Diantara perbatasan kedua dialek tersebut, dituturkan Bahasa Jawa dengan campuran kedua dialek; daerah tersebut diantaranya adalah Pekalongan dan Kedu.

Di wilayah-wilayah berpopulasi Sunda, yaitu di kabupaten Brebes bagian selatan, dan kabupaten Cilacap utara sekitar kecamatan Dayeuhluhur, orang Sunda masih menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-harinya.

Agama

Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan.

Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang banyak dijumpai penganut agama Katolik, dan dulunya daerah ini merupakan salah satu pusat pengembangan agama Katolik di Jawa.

JAWA TIMUR

Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukotanya adalah Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 37.070.731 jiwa (2005). Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat.

1. Rumah Adat Jawa Timur (Joglo)

Rumah joglo yang merupakan salah satu rumah adat Jawa Timur. bentuk bangunan Jawa Timur seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengah Surakarta. Bangunan ini sudah ada sejak lama pada masa era kolonial seperti informasi yang tercatat saat pengambilan gambar (TMII).

Masing-masing rumah adat yang ada di Indonesia memiliki ciri-ciri tersendiri dimana rumah adat Jawa Timur memiliki ciri-ciri bangunan berbentuk persegi panjang. Rumah Joglo mempunyai 16 buah tiang atau kolom sebagai penopang konstruksi atap yang terdiri dari 4 buah “saka guru” dengan masing masing tiang berukuran (15cm x 15cm) dan 12 buah tiang emper masing-masing berukuran (11cm x 11cm), serta mempunyai 5 buah “Blandar Tumpang Sari” lengkap dengan “kendhit”atau “koloran” yang berfungsi sebagai balok penyiku konstruksi utama bangunan tersebut. Keseluruhan bangunan asli menggunakan material struktur kayu jati dan mempunyai ukuran 8,4 m x 7,6 m.

2. Adat istiadat Karapan Sapi

Karapan Sapi merupakan salah satu budaya khas di Jawa Timur yaitu karapan sapi dimana Karapan sapi merupakan salah satu jenis kesenian tradisional yang selalu dilakukan oleh masyarakat P. Madura, Jawa Timur karena di Jawa Timur masih terdapat tradisi perlombaan pacuan sapi jadi pada perlombaan ini akan memperlihatkan dimana beberapa ekor sapi nantinya akan berlomba adu cepat untuk memenangkan perlombaan dan ditambah juga dengan ritual arak-arakan yang sampai saat ini masih dipercaya oleh suku Jawa Timur.

3. Senjata Tradisional Jawa Timur

Keris yang merupakan senjata tradisional ala Jawa Timur. Keris di suku Jawa Timur di gunakan untuk mempertahankan diri dan sebagai alat kebesaran di lingkungan raja. Jadi Keris ini bukan saja kebanggaan dari masyarakat Jawa Timur tapi Keris merupakan Senjata yang terkenal di negara Indonesia karena Keris ini sudah ada sejak lama dahulu kala. Selain Keris banyak juga terdapat senjata khas dari kebudayaan Jawa Timur seperti contonya Celurit yang berasal dari Madura Jawa Timur.

4. Suku bangsa

Indonesia terdiri dari beberapa suku bangsa dan begitu juga dengan Jawa Timur dimana suku Jawa Timur adalah mayoritas Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur bagian timur), terutama di daerah pesisir utara dan selatan. Di sejumlah kawasan Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal. Suku Tengger, konon adalah keturunan

pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.

Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sejumlah kawasan industri lainnya.

5. Bahasa

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.

Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya. Dibanding dengan bahasa Jawa dialek Mataraman (Ngawi sampai Kediri), bahasa dialek malang termasuk bahasa kasar dengan intonasi yang relatif tinggi. Sebagai contoh, kata makan, jika dalam dialek Mataraman diucapkan dengan ‘maem’ atau ‘dhahar’, dalam dialek Malangan diucapkan ‘mangan’. Salah satu ciri khas yang membedakan antara bahasa arek Surabaya dengan arek Malang adalah penggunaan bahasa terbalik yang lazim dipakai oleh arek-arek Malang. Bahasa terbalik Malangan sering juga disebut sebagai bahasa walikan atau osob kiwalan. Berdasarkan penelitian Sugeng Pujileksono (2007), kosa kata (vocabulary) bahasa walikan Malangan telah mencapai lebih dari 250 kata. Mulai dari kata benda, kata kerja, kata sifat. Kata-kata tersebut lebih banyak diserap dari bahasa Jawa, Indonesia, sebagian kecil diserap dari bahasa Arab, Cina dan Inggris. Beberapa kata yang diucapkan terbalik, misalnya mobil diucapkan libom, dan polisi diucapkan silup. Produksi bahasa walikan Malangan semakin berkembang pesat seiring dengan munculnya supporter kesebelasan Arema (kini Arema Indonesia)yang sering disebut Aremania. Bahasa-bahasa walikan banyak yang tercipta dari istilah-istilah di kalangan supporter. Seperti retropus elite atau supporter elit. Otruham untuk menyebut supporter dari wilayah Muharto. Saat ini Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SLTA.

6. Agama

Suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian menganut agama Kristen dan Katolik, dan ada pula yang menganut Hindu dan Buddha. Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama Islam sangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada Suku Madura. Suku Osing umumnya beragama Islam. Sedangkan Suku Tengger menganut agama Hindu.

Orang Tionghoa umumnya menganut Konghucu, meski ada pula sebagian yang menganut Buddha, Kristen, dan Katolik; bahkan Masjid Cheng Ho di Surabaya dikelola oleh orang Tionghoa dan memiliki arsitektur layaknya kelenteng.

7. Kesenian

Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan dan Angling Darma.

Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.

8. Budaya dan adat istiadat

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.

Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.

Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.

Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.

Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako’ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.

SURAKARTA

Surakarta adalah sebuah kota besar di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Nama lainnya adalah Solo atau Sala. Di Indonesia, Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta). Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.

1. Pendirian dan perkembangan

Surakarta berdiri di wilayah suatu desa bernama Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Sarjana Belanda yang meneliti Naskah Bujangga Manik, J. Noorduyn, menduga bahwa Desa Sala ini berada di dekat (kalau bukan memang di sana) salah satu tempat penyeberangan (“penambangan”) di Bengawan Solo yang disebut-sebut dalam pelat tembaga “Piagam Trowulan I” (1358, dalam bahasa Inggris disebut “Ferry Charter”) sebagai “Wulayu”. Naskah Perjalanan Bujangga Manik yang berasal dari sekitar akir abad ke-15 menyebutkan bahwa sang tokoh menyeberangi “Ci Wuluyu”. Pada abad ke-17 di tempat ini juga dilaporkan terdapat penyeberangan di daerah “Semanggi”[1] (sekarang masih menjadi nama kampung/kelurahan di Kecamatan Pasarkliwon).

Latar belakang pendirian ini adalah terjadinya pemberontakan Sunan Kuning (“Gègèr Pacinan”) pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono (PB) II tahun 1742. Pemberontakan dapat ditumpas dengan bantuan VOC dan Kartasura direbut kembali, namun dengan pengorbanan hilangnya wilayah-wilayah Mataram sebagai imbalan bantuan VOC. Bangunan keraton sudah hancur dan dianggap “tercemar”. Sunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda J.A.B. van Hohendorff untuk mencari lokasi ibu kota Mataram yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, pada 1745, tepatnya di Desa Sala di tepi Bengawan Solo. Kelak namanya berubah menjadi Surakarta. (Catatan-catatan lama menyebut bentuk antara “Salakarta”[2]). Pembangunan keraton baru ini menurut catatan menggunakan bahan kayu jati dari kawasan Alas Kethu, hutan di dekat Wonogiri Kota dan kayunya dihanyutkan melalui Bengawan Solo. Secara resmi, keraton mulai ditempati tanggal 17 Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya).

2. Budaya

Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya “persaingan” kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai “gaya Surakarta” dan “gaya Yogyakarta” di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

3. Bahasa

Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah bahasa Jawa dialek Mataraman (Jawa Tengahan) dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman/Jawa Tengahan juga dituturkan di daerah Yogyakarta, Magelang timur, Semarang, Pati, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai “varian halus” karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata “inggih” (“ya” bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya “injih” (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya

4. Tarian

Solo memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Solo. Tarian seperti Bedhaya Ketawang secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Pakoe Boewono sebagai pemimpin Kota Surakarta

5. Batik

Batik adalah kain dengan corak tertentu yang dihasilkan dari bahan malam (wax) yang dituliskan di kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Solo memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.[6] Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris dan Batik Danarhadi. Pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer.

Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman.

6. Makanan

Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional yang lezat. Beberapa makanan khas Surakarta antara lain: Nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg (sedikit berbeda dengan gudeg Yogyakarta), cabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia Balong, roti mandarin toko kue Orion, wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan, dll.

YOGYAKARTA

Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta) dan seringkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Daerah tersebut terkena bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan 1,2 juta orang tidak memiliki rumah.

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.

1. Budaya

Yogyakarta masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Sejak masih kanak-kanak sampai dewasa, masyarakat Yogyakarta akan sangat sering menyaksikan dan bahkan, mengikuti berbagai acara kesenian dan budaya di kota ini. Bagi masyarakat Yogyakarta, di mana setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Kesenian yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangatlah beragam. Dan kesenian-kesenian yang beraneka ragam tersebut terangkai indah dalam sebuah upacara adat. Sehingga bagi masyarakat Yogyakarta, seni dan budaya benar-benar menjadi suatu bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kesenian khas di Yogyakarta antara lain adalah kethoprak, jathilan, dan wayang kulit.yogyakarta juga dikenal dengan perak dan gaya yang unik membuat batik kain dicelup. ia juga dikenal karena seni kontemporer hidup. Memberikan nama kepada anak masih merupakan hal penting Nama2 anak jawa. Yogyakarta juga dikenal dengan gamelan musik, termasuk gaya yang unik gamelan Yogyakarta

2. Upacara adat Melasti

Masyarakat Hindu DIY rutin melakukan upacara ritual tiap tahun sekali. Hal ini dilakukan dalam rangka menyambut datangnya hari raya Nyepi. Tujuan dari upacara ini adalah untuk penyucian diri. Prosesi yang dimulai pukul 12.30 WIB berawal dari Pura Agung Jagatnata, Sorowajan, Banguntapan, Bantul dan dilanjutkan pengambilan air suci dari tujuh sumber air yang salah satunya adalah di pantai Parangtritis. Dilaksanakan sebelum Nyepi di pantai samas atau di pantai Parangkusumo.

3. Adat Grebeg Ngenep

Desa Ngenep berada di sebelah tenggara kota Wonosari, kurang lebih 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Gunung Kidul itu. Desa yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian ini mempunyai enam wilayah pedusunan, yaitu Sembuku, Mojo, Pomahan, Kauman, Nogosari, dan Karang Tengah. Nama desa Ngenep sekarang sudah tidak ada dan mengalami pemekaran menjadi enam dusun tersebut. Penduduk di daerah ini sangat menggantungkan hasil pada tegalan dan pekarangan. Mereka percaya juga bahwa hasil tani mereka dipelihara melalui kekuatan supranatural lewat upacara adat Grebeg Ngenep.

4. Adat Jodhangan Cerme

Desa Selopamioro memiliki berbagai kegiatan sosial dan seni budaya. Salah satu kegiatan budaya adalah Jodhangan. Upacara ini dilaksanakan di pelataran Goa Cerme di perbukitan Imogiri yang terletak di dusun atau Srunggo I dan Srunggo II. Upacara Jodhangan yang sudah berlangsung turun temurun. Sesuai tradisi, upacara tersebut dilaksanakan Ahad Pahing di bulan Besar (Dzulhijjah) menurut kalender Jawa.

5. Tradisi nglimani

Pada masa kehamilan, pada umumnya masyarakat Jawa hanya melaksanakan Upacara Tradisi Ngliman (hamil 5 bulan) dan Mitoni (hamil 7 bulan). Upacara Tradisi Nglimani ini bertujuan memohon keselamatan baik untuk si anak maupun ibunya (orang tuanya). Perlengkapan upacara Nglimani yang diperlukan adalah sebagai berikut:

-       Golongan bangsawan: tumpeng robyong, nasi kebuli, nasi punar, uler-uleran, ketan moncowarno, rujak crobo, tikar pontang dan seekor kerbau.

-       Golongan rakyat biasa: nasi gudangan, nasi ambengan, nasi biasa dengan lauk serundeng, tempe, bakmi dan jajan pasar.

6. Rumah Adat Jogja

Bangunan pokok rumah adat Jawa ada lima macam, yaitu: panggung pe, kampung, limasan, joglo dan tajug. Namun dalam perkembangannya, jenis tersebut berkembang menjadi berbagai jenis bangunan rumah adat Jawa, hanya bangunan dasarnya masih tetap berpola dasar bangunan yang lima tersebut (Narpawandawa, 1937-1938).

Di dalam bangunan rumah adat Jawa tersebut juga ditentukan ukuran, kondisi perawatan rumah, kerangka, dan ruang-ruang di dalam rumah serta situasi di sekeliling rumah, yang dikaitkan dengan status pemiliknya. Di samping itu, latar belakang sosial, dan kepercayaannya ikut berperanan. Agar memperoleh ketentraman, kesejahteraan, kemakmuran, maka sebelum membuat rumah di’petang’ (diperhitungkan) dahulu tentang waktu, letak, arah, cetak pintu utama rumah, letang pintu pekarangan, kernagka rumah, ukuran dan bengunan rumah yang akan dibuat, dan sebagainya. Di dalam suasana kehidupan kepercayaan masyarakat Jawa, setiap akan membuat rumah baru, tidak dilupakan adanya sesajen, yaitu bensa-benda tertentu yang disajikan untuk badan halus, danghyang desa, kumulan desa dan sebagainya, agar dalam usaha pembangunan rumah baru tersebut memperoleh keselamatan (R. Tanaya, 1984:66-78).

Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan rumah adat Jawa berkembang sesuai dengan kemajuan. Berdasarkan tinjauan perubahan atapnya, maka terdapatlah bangunan rumah adat Jawa sebagai berikut.

Bangunan model/bentuk Panggung Pe dalam perkembangannya terdapat bangunan Panggung Pe (Epe), Gedong Selirang, Panggung Pe Gedong Setangkep, Cere Gancet, Empyak Setangkep, Trajumas, Barongan, dan sebagainya. Dari bangunan rumah kampung berkembang menjadi bangunan rumah kampung, Pacul Gowang, Srotong, Daragepak, Klabang Nyander, Lambang Teplok, Lambang Teplok Semar Tinandhu, Gajah Jerum, Cere Gancet Semar Tinnadhu, Cere Gancet Semar Pinondhong, dan sebagainya. Dari bangunan Rumah Limasan berkembang menjadi bentuk rumah Limasan Lawakan, Gajah Ngombe, Gajah Jerum, Klabag Nyonder, Macan Jerum, Trajrumas, Trajrumas Lawakan, Apitan, Pacul Gowang, Gajah Mungkur, Cere Goncet, Apitan Pengapit, Lambang Teplok Semar Tinandhu, Trajrumas Rambang Gantung, Lambangsari, Sinom Lambang Gantung Rangka Usuk Ngambang, dan sebagainya. Dari perkembangan bangunan rumah Joglo terdapatlah bangunan rumah Joglo, Joglo Limasan Lawakan atau Joglo Lawakan, Joglo Sinom, Joglo Jampongan, Joglo Pangrawit, Joglo Mangkurat, Joglo Wedeng, Joglo Semar Tinandhu, dan sebagainya. Dari jenis tajug dalam perkembangannya terdapatlah bangunan rumah tajug (biasa untuk rumah ibadah), tajug lawakan lambang teplok, tajug semar tinandhu, tajug lambang gantung, tajug semar sinonsong lambang gantung, tajug lambang gantung, tajug semar sinonsong lambnag gantung, tajug mangkurat, tajug ceblakan, dan sebagainya (Narpawandawa 1936-1936).

7. Tari  Golek Menak

Tari Golek Menak merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan tari Golek Menak berawal dari ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut juga Beksa Golek Menak, atau Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang Golek Menak.

JAWA BARAT

jawa barat yang terkenal dengan budaya sunda, budaya sunda terasa kental sekali melekat pada masyarakat jawa barat mulaia dari bahasa yang unik , tarian jaipongnya yang sudah terkenal dan wayang goleknya yang juga unik dan mengagumkan, yang tidak kalah mengagumkan adalah angklung ini adalah alat musik yang terbuat dari bambu yang menghasilkan suara khas yang tiada duanya, ini adalah ciri khas jawa barat berikut beberapa foto dari budaya jawa barat

Agklung                                   Tari Jaipong                                 Wayang Golek

Budaya Jabar                                            Tari                                                            Kecapi

Rumah Adat Kesepuhan

SANGIR-TALAUD

Menurut asal katanya, nama Sangir-Talaud secara keseluruhan berarti orang yang berasal dari laut atau samudra. Sedangkan menurut asal-usulnya, terdapat berbagai perbedaan pendapat mengenai hal tersebut. Ada yang menyebutnya sebagai bagian dari rumpun bangsa Melayu-Polenisia yang berpindah lewat Ternate, sebagai penduduk asli Sulawesi Utara, penduduk keturunan bangsa Filipina, atau bahkan campuran dari sejumlah suku bangsa tertentu. Namun terlepas dari semua itu, orang Sangir-Talaud saat ini merupakan sekelompok masyarakat yang menempati wilayah Sulawesi Utara

Sekitar abad ke-16, penduduk Sangir-Talaud terbagi ke dalam beberapa kerajaan kecil yang tersebar di seluruh Kepulauan SangirTalaud. Setiap kerajaan selalu berusaha memperluas wilayah dan pengaruhnya dengan mengadakan perkawinan penduduk antarkerajaan. Keberadaan kerajaan-kerjaan itu sendiri memberi nuansa yang khas pada kebiasaan warga masyarakatnya dalam hal berbusana.

Ada busana adat yang sering dikenakan dalam berbagai kesempatan yang erat kaitannya dengan tradisi masyarakat setempat seperti perkawinan, peminangan, penasbihan desa, atau bahkan untuk pakaian sehari-hari. Nama busana tersebut adalah laku tepu, yakni baju panjang yang biasa dikenakan oleh wanita maupun pria. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran panjang baju dan pasangannya. Untuk kaum wanita panjangnya bisa mencapai betis, dengan penutup bagian bawahnya menggunakan kain sarung. Sementara itu, untuk kaum pria bisa mencapai telapak kaki atau hanya sebatas lutut, dengan celana panjang sebagai penutup pada bagian bawahnya.

Laku tepu pada umumnya berwarna terang dan mencolok se-perti merah, ungu, kuning tua, dan hijau tua. Baju jenis ini, pada zaman dulu terbuat dari kain ,kofo dengan dua bahan baku utamanya adalah serat manila hennep dan serat kulit kayu. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, sebelum dijahit harus dicelupkan ke dalam cairan air nira untuk warna merah misalnya, dan daun-daunan atau akar-akaran tertentu yang dapat menghasilkan warna biru, hijau, kuning, atau merah darah. Namun saat ini, keberadaan kain kofo telah digantikan dengan berbagai bahan lainnya yang sesuai untuk dibuat baju panjang. Namun warna yang dipakai masih tetap mengacu pada tradisi sebelumnya, yakni warna terang dan mencolok.

Satu hal yang cukup penting dan dapat membedakan upacara yang satu dengan yang lainnya adalah kelengkapan busana. Dalam hal ini upacara perkawinan merupakan satu momen yang dapat memperlihatkan busana adat daerah Sangir-Talaud secara lengkap.

Busana adat pengantin pria terdiri atas celana panjang dan laku tepu yang panjangnya hingga lutut atau telapak kaki, di kanan kiri baju terdapat belahan yang tingginya mencapai pinggul, krah baju berbentuk bulat dan terbelah di bagian depannya, serta berlengan panjang. Kelengkapan busana yang dikenakan oleh pengantin pria meliputi kalung panjang atau soko u wanua, keris (sandang) yang diselipkan di pinggang sebelah kanan, ikat pinggang atau salikuku yang terbuat dari kain dengan simpul ikatan ditempatkan di sebelah kiri pinggang, dan ikat kepala berbentuk segitiga. Khusus untuk ikat kepala, bagian yang menjulangnya diletakkan di bagian depan kepala. Adapun ujungnya diikatkan di belakang kepala.

Sementara itu, busana adat pengantin wanita terdiri atas kain sarung lengkap dengan baju panjang atau laku tepu yang berlengan panjang, krah baju berbentuk bulat, dan terbelah di tengah pada bagian belakangnya. Kelengkapan buasana lainnya yang dipakai oleh mempelai wanita adalah sepatu atau sandal, sunting (topo-topo) yang dipasang tegak lurus pada konde di atas kepala, gelang, antinganting, kalung panjang bersusun tiga yang disebut soko u wanua, serta selendang (bawandang liku). Khusus untuk selendang, pemakaiannya disampirkan di bahu kanan melingkar ke kiri dengan salah satu ujungnya terurai sampai ke tanah, dan ujung yang satunya lagi dapat dipegang. Saat ini, keberadaan kain sarung yang dikenakan untuk menutup badan bagian bawah, kerap diganti dengan rok panjang yang sudah dilipit (plooi).

Selain pada kelengkapan busana pengantin, kekhasan lainnya juga tampak pada kelengkapan busana yang dikenakan pada upacaraupacara ritual maupun formal lainnya. Pada saat menghadiri acaraacara tersebut, kaum pria mengenakan busana adat yang terdiri atas baju panjang, celana panjang, ikat pinggang, dan yang teristimewa di sini adalah ikat kepala. Keberadaan ikat kepala di sini biasanya melambangkan status atau kedudukan seseorang di tengah-tengah masyarakat. Hingga saat ini, pemakaian ikat kepala sebagai simbol pembeda status sosial seseorang masih tetap berlaku. Dalam hal ini, ada beberapa contoh ikat kepala yang melambangkan status sosial pemakainya seperti paporong lingkaheng yang melambangkan pemakainya tidak memiliki kedudukan di dalam masyarakat; paporong tingkulu, yang menandakan pemakainya seorang pegawai pemerintah; paporong datu bouwawina, yakni ikat kepala yang digunakan oleh raja atau pejabat pemerintah tertinggi; dan beberapa jenis ikat kepala untuk para penari.

Sementara itu, busana adat yang dikenakan oleh kaum wanita pada berbagai upacara ritual atau acara formal meliputi baju panjang berikut pelengkap utamanya yaitu selendang. Seperti halnya ikat kepala pada busana adat pria, selendang memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan status sosial pemakainya. Perbedaan status sosial yang ada di dalamnya tampak pada cara pemakaian selendang.

Seorang wanita yang berstatus sebagai permaisuri, biasanya mengenakan selendang yang terbuat dari kain kofo berwarna kuning tua dan merah. Selendang tersebut dinamakan kaduku, yang panjangnya mencapai dua meter dengan lebar 15 sentimeter. Cara memakainya, yakni dengan menempatkan selendang sebelah menyebelah bahu. Pemakaian dengan cara seperti ini dilakukan pula oleh seorang gadis yang akan menikah, hanya saja pada bagian kepalanya diberi atau disematkan perhiasan tertentu. Berbeda halnya dengan cara memakai selendang yang dilakukan oleh para istri bangsawan, yakni hanya dengan menyampirkannya di bahu sebelah kanan.

UPACARA ADAT TULUDE, TRADISI MASYARAKAT NUSA UTARA DI KEPULAUAN SANGIHE, TALAUD DAN SITARO’

Upacara adat ”Tulude” merupakan hajatan tahunan warisan para leluhur masyarakat Nusa Utara (kepulauan Sangihe, Talaud dan Sitaro)di ujung utara propinsi Sulawesi Utara). Telah berabad-abad acara sakral dan religi ini dilakukan oleh masyarakat etnis Sangihe dan Talaud sehingga tak mungkin dihilangan atau dilupakan oleh generasi manapun. Tradisi ini telah terpatri dalam khasanah adat, tradisi dan budaya masyarakat Nusa Utara. Bahkan tradisi budaya ini secara perlahan dan pasti mulai diterima bukan saja sebagai milik masyarakat Nusa Utara, dalam hal ini Sangihe, Talaud dan Sitaro, tetapi telah diterima sebagai suatu tradisi budaya masyarakat Sulawesi Utara dan Indonesia pada umumnya. Sebab, di mana ada komunitas masyarakat etnis Sangihe-Talaud, pasti di sana akan ada hajatan Tulude.

Tulude pada hakekatnya adalah kegiatan upacara pengucapan syukur kepada Mawu Ruata Ghenggona Langi (Tuhan yang Mahakuasa) atas berkat-berkat-Nya kepada umat manusia selama setahun yang lalu. Namun, untuk mencari kepraktisan pelaksanaannya, banyak kelompok masyarakat menyelenggarakannya tidak sepenuhnya sebagai sebuah bentuk upacara, tetapi dilaksanakan dalam bentuk ibadah-ibadah syukur, mulai dari tingkat RT, lingkungan, kelurahan, jemaat-jemaat, organisasi rukun dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Namun, apapun bentuk pelaksanaannya, hakikat dari Tulude itu sendiri tetap menjadi dasar bagi pelaksanaannya setiap tahun.

Pada masa awal beberapa abad lalu, pelaksanaan upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember, di mana tanggal ini merupakan penghujung dari tahun yang akan berakhir, sehingga sangat pas untuk melaksanakan upacara Tulude. Pengertian Tulude itu sendiri adalah “menolak” atau “mendorong” dalam hal ini menolak tahun yang lama dan siap menerima tahun yang baru. Dalam tradisi kafir leluhur masyarakat Sangihe dan Talaud, acara tolak tahun ini diwujudkan dengan upacara di tepi pantai dengan menolak, mendorong atau melepaskan sebuah perahu kecil yang terbuat dari kayu “latolang” (sejenis kayu yang tumbuh lurus tinggi tak bercabang) dengan muatan tertentu. Perahu ini oleh tokoh adat didorong, dilepas atau dihanyutkan ke laut sebagai simbol, segala sesuatu yang buruk di tahun yang akan lewat dibuang atau dihanyutkan ke laut agar tidak lagi menimpa warga desa setempat di tahun yang baru. Jika perahu tersebut dibawa arus laut dan terdampar di pantai atau desa tetangga, maka orang yang menemukannya wajib menolak dan menghanyutkannya kembali ke laut, karena dipercaya, kalau tidak dihanyutkan lagi, maka segala malapetaka dan sakit-penyakit yang pernah menimpa masyarakat asal perahu itu, akan berpindah ke tempat di mana perahu itu terdampar.

Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan penginjilan dan tradisi kekafiran secara perlahan mulai terkikis. Bahkan, hari pelaksanaannya yang biasanya pada tanggal 31 Desember, oleh kesepakatan adat, dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Hal ini dilakukan, karena tanggal 31 Desember merupakan saat yang paling sibuk bagi umat Kristen di Sangihe dan Talaud. Sebab, seminggu sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal, lalu tanggal 31 Desember disibukkan dengan ibadah akhir tahun dan persiapan menyambut tahun baru. Akibat kepadatan dan keseibukan acara ibadah ini dan untuk menjaga kekhusukan ibadah gerejawi tidak terganggu dengan upacara adat Tulude, maka dialihkankan tanggal pelaksanaannya menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada tahun 1995, oleh DPRD dan pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe-Talaud, tanggal 31 Januari telah ditetapkan dengan Perda sebagai hari jadi Sangihe Talaud dengan inti acara upacara Tulude.

Dalam upacara adat tulude ini, ada berbagai konten adat yang dilakukan. Pertama, dilakukan pembuat kue adat Tamo di rumah seorang tokoh adat semalam sebelum hari pelaksanaan upacara. Kemudian, persiapan-persiapan pasukan pengiring, penari tari Gunde, tari salo, tari kakalumpang, tari empat wayer, kelompok nyanyi masamper, penetapan tokoh adat pemotong kue adat tamo, penyiapan tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua, tokoh adat pembawa ucapan doa keselamatan, seorang tokoh pemimpin upacara yang disebut Mayore Labo, dan penyiapan kehadiran Tembonang u Banua (pemimpin negeri sesuai tingkatan pemerintahan pelaksanaan upacara seperti kepala desa, camat, bupati/walikota atau gubernur) bersama Wawu Boki (isteri pemimpin negeri)serta penyebaran undangan kepada seluruh anggota masyarakat untuk hadir dengan membawa makanan untuk acara Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama).

Waktu pelaksanaan upacara adat Tulude adalah sore hari hingga malam hari selama kurang-lebih 4 jam. Waktu 4 jam ini dihitung mulai dari acara penjemputan kue adat Tamo di rumah pembuatan lalu diarak keliling desa atau keliling kota untuk selanjutnya dibawa masuk ke arena upacara. Sebelum kue Tamo ini di bawah masuk ke arena upacara, Tembonang u Banua (Kepala Desa, Camat, Walikota/Bupati atau Gubernur wajib sudah berada di bangsal utama untuk menjemput kedatangan kue adat ini. — (Semuel Muhaling)

SULAWESI TENGAH

Sulawesi Tengah adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukotakan Palu. Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:

-          Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu

-          Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Donggala

-          Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso

-          Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso

-          Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali

-          Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali

-          Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai

-          Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai

-          Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai

-          Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai

-          Etnis Bare’e berdiam di kabupaten Touna

-          Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan

-          Etnis Buol mendiami kabupaten Buol

-          Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli

-          Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong

-          Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli

-          Etnis Dondo berdiam di [Dondo[kabupaten Tolitoli]]

-          Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli

-          Etnis Dampelas berdiam di [[kabupaten Donggala]

Disamping 12 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da’a di Donggala, suku Wana di Morowali, suku Seasea di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, kelapa, kakao dan cengkeh merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

1. Budaya

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk, dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.

Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.

Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.

2. Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrume seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat – waino – musik tradisional – ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.

3. Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduk memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu dan Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari Sumatera Barat dan diteruskan oleh Said ldrus Salim Aldjufri – seorang guru pada sekolah Alkhairaat.

Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh missioner Belanda A.C Cruyt dan Adrian.

4. Senjata Tradisional

Parang (Guma)

5. Rumah Adat (Tongkonan)

6. Pakaian Adat

TERNATE

SEJARAH & PERKEMBANGAN

Ternate merupakan salah satu daerah historis di kawasan timur Nusantara yang sejak dahulu telah banyak didatangi berbagai suku bangsa di dunia untuk berdagang rempah-rempah. Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Akibat adanya interaksi dengan bahasa-bahasa lain dari luar Maluku Utara, maka dengan sendirinya bahasa-bahasa tersebut mempengaruhi perkembangan bahasa Ternate, terutama dari bahasa Melayu. Banyak sekali kata-kata dari bahasa Melayu yang masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate, kemudian dianggap sebagai bahasa Ternate. Di daerah ini bahasa Melayu pada masa lampau hanya digunakan oleh kaum urban dan kalangan tertentu selain bahasa asli.

Pada masa pra–Islam, bahasa Ternate masih merupakan bahasa lisan, karena bahasa Ternate itu sendiri tidak mempunyai aksara (huruf). Seiring dengan perkembangan agama Islam di wilayah ini, maka istilah-istilah Bahasa Arab mulai masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate. Aksara Arab–Melayulah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.

KELOMPOK BAHASA DI TERNATE & HALMAHERA

Berdasarkan laporan hasil penelitian di Maluku Utara yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada tahun 1983, mengungkapkan bahwa bahasa Ternate merupakan bahasa induk dari berbagai bahasa daerah yang ada di Maluku Utara. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Penyebaran bahasa Ternate meliputi wilayah yang sangat luas, bahkan pengaruhnya hingga sampai di pulau Mindanao, kepulauan Sulu dan Sabah di Kalimantan Utara, sepanjang pantai Sulawesi Utara–Tengah–Tenggara, pulau Banggai, kepulauan Sula, pulau Waigeo, pesisir barat dan utara pulau Halmahera serta pulau Morotai dan sekitarnya.

Para ahli linguistic, berpendapat bahwa bahasa Ternate termasuk dalam rumpun bahasa Polinesia. Tetapi ada sebagian peneliti bahasa-bahasa daerah berpendapat bahwa bahasa Ternate juga dapat digolongkan dalam rumpun bahasa Austronesia. Pendapat yang kedua memiliki alasan bahwa banyak terdapat kesamaan dalam segi tata bahasa (pronouncitation dan vocabulary). Di Maluku Utara masih terdapat banyak ragam bahasa daerah dan hingga saat ini masih tetap eksis dan digunakan sebagai bahasa lokal di kawasannya masing-masing.

Selain penggolongan rumpun bahasa tersebut, maka berdasarkan wilayah penyebarannya, bahasa Ternate termasuk dalam kelompok bahasa Ternate–Halmahera. Artinya serumpun dengan berbagai bahasa daerah sekitarnya yang meliputi bahasa Ternate, bahasa Tidore dengan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara. Bahasa Ternate, bahasa Tidore dan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara ini disebut dengan “Bahasa Kie se Gam”. Adapun bahasa-bahasa daerah yang termasuk ke dalam kelompok ini, adalah :

Bahasa Ternate, Bahasa Tidore, Bahasa Ibu, Bahasa Waiyoli, Bahasa Tubaru, Bahasa Madole, Bahasa Tobelo, Bahasa Loloda, Bahasa Galela, Bahasa Tololiku, dan, Bahasa Isam

Di dalam bahasa-bahasa tersebut terdapat banyak sekali persamaan dalam perbendaharaan kata (vocabulary). Perbedaannya sangat tipis, hal ini terutama disebabkan oleh variasi, bentuk tekanan pengucapan dan logat/dialek yang digunakan pada masing-masing tempat.

Lambat-laun perkembangan bahasa Ternate seirama dengan perkembangan kekuasaan kesultanan Ternate, bahasa Ternate terus tumbuh dan berkembang hingga menemukan bentuknya sendiri, bahkan dijadikan sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca) di kawasan Ternate dan Halmahera barat dan utara, kemudian berkembang lebih luas sampai di wilayah-wilayah yang berada di luar kawasan Maluku Utara.

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA TERNATE

1.        Kedudukan

Dalam hubungan dengan kedudukan Bahasa Indonesia, maka Bahasa Ternate sebagai bahasa tutur lisan yang terdapat di wilayah hukum Negara Republik Indonesia berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa daerah adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara, sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36, Bab XV, Undang-Undang Dasar 1945.

2.        Fungsi

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, maka Bahasa Ternate berfungsi sebagai :

-       Lambang kebanggaan daerah

-       Lambang identitas daerah

-       Salah satu unsur budaya

-       Alat perhubungan antar individu dalam keluarga & di masyarakat. (komunikasi lisan)

-       Media pesan moral dalam bentuk Sastra Lisan, Pantun Nasihat dan Dolabololo.

BUSANA TRADISIONAL

Gambaran fisik busana adat masyarakat Ternate dan Tidore, memperlihatkan adanya perbedaan cukup spesifik antar kelompok masyarakat yang secara sosial memiliki kedudukan yang berlainan. Busana yang dikenakan oleh masyarakat pada umumnya atau rakyat biasa ditandai dengan kesederhanaan dalam berbagai hal, berbeda dengan busana yang dipakai oleh kelompok masyarakat yang memiliki kedudukan sosial tinggi. Hal ini dikarenakan Ternate dan Tidore yang secara administratif kini termasuk ke dalam wilayah kabupaten Maluku Utara, merupakan kawasan bekas kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore. Sudah tentu, keberadaan keturunan sultan di dalam lingkungan masyarakatnya memiliki gaya hidup yang khas. Kekhasan tersebut tampak dalam tata cara berbusana mereka. Apalagi kehidupan mereka senantiasa diwarnai dengan berbagai acara seremonial, berupa upacara-upacara adat kesultanan pada masa itu maupun upacara yang berkaitan dengan siklus hidup manusia. Beberapa di antaranya yang masih dikenal hingga kini adalah upacara makan secara adat atau sidego, upacara injak tanah atau joko kaha, dan upacara pengukuhan atau uko se bonofo.

Ada beberapa jenis busana yang dikenakan dalam upacara- upacara adat. Busana yang dikenakan oleh sultan disebut manteren lamo yang terdiri atas celana panjang hitam dengan bis merah memanjang dari atas ke abawah, baju berbentuk jas tertutup dengan kancing besar terbuat dari perak berjumlah sembilan . Sementara itu, leher jas, ujung tangan, dan saku jas yang terletak di bagian luar berwarna merah. Konon warna tersebut melambangkan keperkasaan dari pemakainya. Selain itu, penampilan busana yang dikenakan oleh sultan tersebut dilengkapi dengan destar untuk menutup kepala. Busana yang dikenakan oleh istri sultan terdiri atas kebaya panjang atau kimun gia, yang terbuat dari kain satin berwarna putih dengan pengikat pinggang yang terbuat dari emas, serta kain panjang. Perhiasan lainnya yang dikenakan oleh permaisuri tersebut meliputi kalung, bros, dan peniti yang terbuat dari intan, berlian, atau emas. Di samping itu, mereka juga mengenakan hiasan lainnya yang berupa konde yang berukuran besar, sedangkan konde kecil biasanya dipakai oleh pembantu permaisuri.

Selain busana adat yang disebutkan tadi, ada pula busana adat lainnya yang khusus dikenakan oleh kaum remaja putri dan remaja pria yang berasal dari golongan bangsawan. Busana adat yang dipakai oleh remaja pria disebut baju koja, yakni semacam jubah panjang dengan warna-warna muda seperti biru muda dan kuning muda. Konon warna tersebut untuk melambangkan jiwa muda dari para pemakainya yang masih remaja. Baju koja tersebut biasanya berpasangan dengan celana panjang berwarna putih atau hitam, berikut toala polulu di kepalanya. Para remaja putri biasanya memakai busana yang terdiri atas kain panjang dan kimun gia kancing atau kebaya panjang berwarna kuning, oranye, atau hijau muda dengan tangan yang berkancing sembilan di sebelah kiri dan kanannya. Tidak lupa, mereka pun menyertakan berbagai perhiasan seperti taksuma, yakni kalung rantai emas yang dibuat dalam dua lingkaran; anting dua susun, sedangkan giwang tidak boleh dipakai oleh mereka; serta alas kaki yang disebut tarupa.

Secara umum busana adat tradisional yang dikenakan oleh kaum pria yang berasal dari golongan bangsawan terdiri atas jubah panjang yang menjuntai hingga betis atau lutut, celana panjang, dan ikat kepala. Dihiasi dengan kelengkapan dan karakteristik lainnya, yang melambangkan status sosial dan usia dari orang yang memakainya. Adapun busana adat untuk kaum wanita meliputi kebaya panjang dan kain panjang. dilengkapi dengan perhiasan yang disesuaikan dengan tingkatan sosial mereka, baik sebagai permasuri, pembantu permaisuri, atau diselaraskan dengan usia mereka, remaja contohnya.

Sementara itu, busana adat yang dikenakan oleh rakyat biasa untuk busana sehari-hari maupun busana yang dikenakan pada upacaraupacara adat, pada umumnya memang menggambarkan kesederhanaan. Busana yang biasa dikenakan oleh kaum wanita dalam melakukan aktivitas sehari-hari terdiri atas kain kololuncu dan baju susun dengan bagian tangan yang ditarik hingga ke pertengahan sikut. Baju tersebut umumnya berwarna polos. Busana kerja dalam keadaan bersih, biasanya dipakai juga sebagai baju untuk di rumah. Adakalanya, mereka pun hanya mengenakan kain songket dan baju susun. Busana kerja yang digunakan oleh kaum pria terdiri atas kebaya popoh, yakni baju berwarna hitam yang panjangnya mencapai pinggul serta berlengan panjang; dan celana popoh, yakni celana setinggi betis yang berwarna hitam pula. Sama halnya dengan busana wanita, busana kerja pria biasanya digunakan pula sebagai pakaian sehari-hari untuk di rumah.

Pada waktu mereka menghadiri berbagai upacara adat, busana yang dikenakan oleh kaum pria maupun wanitanya tidak berbeda. Kaum pria mengenakan celana panjang dan kemeja panjang, sedangkan kaum wanitanya mengenakan baju susun dan kain songket. Adapun ketua adat yang memimpin upacara-upacara adat tersebut mengenakan jubah panjang yang mencapai betis berwarna kuning muda yang disebut takoa; celana dino, yakni celana dari kain tenun berwartna jingga atau kuning; lengkap dengan lengso duhu, yakni tutup kepala berwarna kuning muda.

KULINER

Ternate ternyata tak hanya menyimpan keindahan pantai dengan pemandangan Pulau Halmahera. Makanan khas Ternate seperti Sop Saudara dan Pisang Hijau juga merupakan kekayaan kuliner Ternate yang sayang untuk dilewatkan!

AMBON

Pulau Ambon adlah salah satu pulau yang ada di kepulauan Maluku atau provinsi maluku. Ambon merupakan ibukota propinsi Maluku yang berada di kawasan Maluku selatan.

Penduduk aslinya tinggal didaerah perbukitan atau perdalaman pulau.penduduk pendatang yang datang dari bugis, makasar, button, dan jawa biasanya tinggal didaerah pinggir pantai.

Setiap pulau dengan pulau yang lain memiliki perbedaan kebudayaan atau adat istiadat, hal ini disebabkan oleh gejala “isolasi”. Misalnya orang Tobaru dan Sou saling tidak mengetahui bahasa satu sama lainnya, maka oleh sebab itu mereka terpaksa memakai bahasa pengantar Ternate. Setiap pulau yang ada di pulau maluku telah mengembangkan kebudayaannya sendiri. Meskipun kebudayaan mereka berbeda-beda tapi ada beberapa unsurnya yang sama.

Dikarenakan gejala isolasi antar pulau maka terjadi perbedaan kebudayaan antara mereka. Namun pada dasarnya unsur dan azas yang digunakan adalah sama. Dikarenakan keterbatasan ruang yang tersedia maka saya membatasi tentang ambon saja. Istilah orang ambon disini, dipakai untuk penduduk dari pulau hitu, ambon, haruka, saparua dan seram barat.

1. Penduduk dan perkampungan

pada umumnya desa-desa diambon didirikan sepanjang satu jalan utama, rumah-rumah itu didirikan secara berdekatan. Pada zaman dahulu perkampungan tersebut disebut aman yang dipimpin oleh seorang ama.

Rumah-rumah penduduk asli biasanya merupakan rumah-rumah bertiang, berbeda dengan rumah orang kristen maupun islam yang didirikan sejajar dengan tanah. Rumah berbentuk segi empat yang kecil pada bagian serambi depannya disebut dego-dego. Dengan dinding berasal dari tangkai daun sagu yang disebut dinding gaba-gaba. Rumah kepala desa dibangun dengan megahnya dengan gaya eropa dan terletak ditengah perkampungan berdekatan dengan bangunan penting seperti balai desa (baileu).

2. Sistem kemasyarakatan

Dalam system kemasyarakatan masyarakat Ambon mengambil system kekerabatan yang bersifat ke-Ayahan “Patrilineal”. Di dalam kekerabatan yang memegang peranan penting ada dua yaitu:

a.         “Mata rantai”, mata rumah ini biasanya bertugas mengatur perkawinan warganya secara “Exogami” dan dalam hal mengatur penggunaan tanah-tanah “dati” tanah milik kerabat patrilineal.

b.        “Family”, family merupakan kesatuan terkecil dalam mata rumah. Family ini berfungsi sebagai pengatur pernikahan klenya.

Perkawinan dalam masyarakat Ambon merupakan urusan mata rumah dan family. Di dalam masyarakat Ambon perkawinan di kenal dengan beberapa macam, diantaranya :

a.         Kawin minta ialah perkawinan yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka pemuda in meminta pada mata rumah dan family untuk melamarnya. Sebelum acara pelamaran para mata rumah dan family mengadakan rapat adat satu klen dalam persiapan acara pelamaran.

b.        Kawin lari atau lari bini adalah system perkawinan yang paling lazim di lakukan oleh masyarakat Ambon. Hal ini di karenakan oleh masyarakat Ambon lebih suka jalan pendek, untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara adat.

c.         Kawin masuk atau kawin menua yaitu perkawinan yang pengantin laki-lakinya tinggal di rumah pengantin perempuannya. Perkawinan ini terjadi apabila :

-       Kaum kerabat si pengantin tidak dapat membayar maskawin secara adat.

-       Penganten perempuan merupakan anak tunggal dalam keluarganya.

-       Karena ayah dari pengaten laki-laki tidak setuju dengan perkawinan tersebut

3. Sistem kekerabatan

sistem kekerabatan orang ambon berdasarkan hubungan patrilineal, yang diiringi dengan pola menetap patrilokal. Kesatuan kekerabatan yang penting setelah keluarga adalah matarumah, dapat dikatan matarumah adalah klen-kecil yang bersifat patrilineal. Kesatuan lain yang lebih besar disebut dengan famili yaitu kesatuan kekerabatan disekeliling individu yang terdiri dari warga-warga yang masih hidup dari matarumah asli.

4. Sistem religi

Agama yang dianut oleh masyarakat Ambon pada umumnya ialah Islam dan Nasrani. Meskipun masyarakat Ambon telah beragama Islam dan Nasrani tetapi sisa-sisa agama yang asli masih mereka anut. Mereka masih percaya akan adanya roh-roh yang harus dihormatidan diberi makanminum, dan tempat tinggal, agar tidak menganggu Kehidupan manusia.

Acara adat yang berhubungan dengan religi ialah :

-       Masuk Baileu ( Rumah Adat masyarakat Ambon )

Untuk masuk baileu orang harus melakukan upacara lebih dahulu yaitu minta izin pada roh-roh yang ada di baileu. Dalam upacara ini, mauweng mengorbankan seekor sapi.

-       Cuci Negri

Di daerah jawa, acara adapt ini di kenal dengan bersih desa. Dalam acara ini semua penduduk di wajibkan membersihkan rumah, perkarangan, dan baileu. Upacara ini jika tidak dilakukan maka seluruh desa bias kejangkitan penyakit atau panennya gagal.

-       Kain Berkat

Sebuh tradisi dalam pernikahan masyarakat Ambon, yaitu pembayaran berupa kain putih dan minuman kerasa ( tuak ) oleh klen pengaten laki-laki kepada klen pengaten perempuan. Jika tidak dilakukan maka keluarga muda itu akan jadi sakit dan mati.

5. Kuliner

Colo-colo adalah sambal khas ambon yang terdiri dari racikan irisan bawang merah, cabe rawit, tomat dan air perasan jeruk lemon atau jeruk nipis, ditambah kecap manis. Di negeri asalnya, sambal colo-colo biasa dihidangkan buat temennya ikan bakar

BALI

suku-bangsa bali merupakan suatu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran

akan kesatuan budaya dan bahasa. Walaupun begitu dibali terdapat 2 bentuk masyarakat bali, yaitu bali-aga dan bali-majapahit. Bahasa bali juga termasuk keluarga bahasa-bahasa indonesia, apabila dilihat dari sudut perbendaharaan kata-kata dan strukturnya.

1. penduduk dan perkampungan

desa dibali terutama didasarkan atas kesatuan tempat yang terdiri dari tanah milik individu dan tanah ulayat. Disamping kesatuan wilayah, maka sebuah desa dibali merupakan pula kesatuan agama yang ditentukan oleh suatu kompleks kuil desa yang disebut kayangan tiga ialah pura puseh, pura bale-agung dan pura dalem.

Pada daerah yang memakai sistem banjar, maka ada bangunan bale banjar tempat warga banjar mengadakan rapat dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dan disekelilingnya terdapat perumahan-perumahan warga banjar.

2. sistem kekerabatan

jika membicarakan tentang perkawinan, maka yang pantangan bagi orang bali adalah kawin antar klen (dadia, wangsa). Perkawinan yang dianggap pantas adalah perkawinan dalam satu klen. Adat perkawinan bali merupakan suatu rangkaian meminang dan upacara perkawinan (masakapan).

Kesatuan kekerabatan yang paling kecil adalah keluarga, lalu setelah itu diikuti oleh klen tunggal (tunggal dadia).

3. sistem kemasyarakatan

disamping kekerabatan patrilinel yang mengikat orang bali berdasarkan atas prinsip keturunan, ada pula kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan kesatuan wilayah yaitu desa. Ada kesatuan adat yang khusus disebut dengan banjar, didalamnya beranggotakan orang-orang asli yang lahir dibanjar tersebut. Banjar dipimpin oleh seorang kepala yang disebut klian banjar (kiang). Selain itu dikenal pula subak, yang terdiri dari para pemilik sawah. Subak tersebut terlepas dari kepemimpinan banjar.

Susunan tertinggi sampai terendah klen-klen tersebut termaktub dalam kitab suci agama hindu, yaitu sistem empat kasta yang terdiri dari : kasta brahmana, ksatrya, waisya dan sudra. Gelar dari kasta brahmana adalah ida bagus (pria) dan ida ayu (wanita). Gelar untuk ksatrya adalah cokorda, dan bagi warga waisa adalah gusti.

4. sistem religi

sebagian besar orang bali menganut agama hindu, agama hindu banyak mengandung unsur-unsur lokal yang telah terjalin kedalamnya sejak zaman dahulu. Diberbagai daerah dibali terdapat pula berbagai variasi lokal dari agama hindu-bali tersebut. Dalam kehidupan agamanya, orang yang beragama hindu percaya akan adanya satu tuhan, yang terwujud dalam konsep trimurti.

Dilihat dari segi keseluruhannya dibali terdapat lima macam upacara (panca yadya), yang terdiri dari :

  1. manusia yadya, yang meliputi upacara-upacara siklus hidup
  2. pitra yadya, yang meliputi upacara kepada roh-roh leluhur
  3. dewa yadya, upacara-upacara pada kuil
  4. resi yadya, upacara yang berkenaan dengan pengangkatan pendeta
  5. buta yadya, upacara yang ditujukan kepada mahkluk halus yang mengganggu.

5. Budaya

a. Musik

Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan Selunding, dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.

Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.

Gamelan, Jegog, Genggong, Silat Bali.

b. Tari

Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.

Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.

Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Tarian wali

-       Sang Hyang Dedari

-       Sang Hyang Jaran

-       Tari Rejang

-       Tari Baris

-       Tari Janger

Tarian bebali

-       Tari Topeng

-       Gambuh

Tarian balih-balihan

-       Tari Legong

-       Arja

-       Joged Bumbung

-       Drama Gong

-       Barong

-       Tari Pendet

-       Tari Kecak

-       Calon Arang

c. Pakaian Adat

Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya

Pria

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

-          Udeng (ikat kepala)

-          Kain kampuh

-          Umpal (selendang pengikat)

-          Kain wastra (kemben)

-          Sabuk

-          Keris

-          Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Wanita

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

-          Gelung (sanggul)

-          Sesenteng (kemben songket)

-          Kain wastra

-          Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada

-          Selendang songket bahu ke bawah

-          Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam

-          Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

d. Makanan

Makanan Utama,

Ayam betutu, Babi guling, Bandot, Be Kokak Mekuah, Be Pasih mesambel matah, Bebek betutu, Berengkes, Grangasem, Jejeruk, Jukut Urab, Komoh, Lawar, Nasi, Bubuh, Nasi Tepeng, Penyon, Sate Kablet, Sate Lilit, Sate pentul, Sate penyu, Sate Tusuk, Timbungan, Tum, Urutan Tabanan

Jajanan

Bubuh Sagu, Bubuh Sumsum, Bubuh Tuak, Jaja Batun Duren, Jaja Begina, Jaja Bendu, Jaja Bikang, Jaja Engol dll

e. Senjata

Keris, Tombak, Tiuk, Taji, Kandik, Caluk, Arit, Udud, Gelewang, Trisula, Panah, Penampad, Garot, Tulud, Kis-Kis, Anggapan, Berang, Blakas, Pengiris.

f. Rumah Adat

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

Gapura Candi merupakan pintu masuk rumah adat di Bali. Balai Bengang adalah tempat istirahat, dan Balai Wantikan adalah tempat adu ayam atau pagelalaran kesenian. Kori Agung adalah pinto masuk pada waktu upacara besar dan Kori Babetelan merupakan pintu masuk untuk keperluan keluarga.

LOMBOK

Pulau Lombok yang merupakan salah satu bagian dari wilayah Nusa Tenggara Barat yang persis berada beberapa mil dari Bali dan beberapa kilo dari Pulau Sumbawa.

PENDUDUK dan ADAT  ISTIADAT

Penduduk asli pulau Lombok di dominasi oleh suku SASAK yang mendiami daerah bagian selatan dan utara Pulau Lombok dan sebagian besar penduduk asli pulau Lombok berdomisili di perbukitan dan pegunungan.

Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan “MERARIK” atau “SELARIAN”. Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang, ini yang disebut dengan “MESEJATI” atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan “NYELABAR” atau kesepakatan mengenai biaya resepsi.

Mata pencaharian penduduk suku SASAK berasal dari lahan pertanian, peternakan dan hanya sebagian kecil saja yang mata pencahariannya dari Pariwisata.

AGAMA

Sebagian besar penduduk suku SASAK beragama islam dan sebagian kecil dari mereka ada yang disebut dengan istilah “ISLAM WEKTU TELU”. Islam Wektu Telu ini terbentuk dari sejarah peninggalan penyebaran agama islam yang dilakukan oleh 9 Wali atau yang disebut denga “WALI SONGO” dari JAWA. Dimana pada saat itu ISLAM belum sempurna disampaikan kepada penduduk suku SASAK.

BAHASA

Bahasa Asli suku sasak adalah bahasa SASAK dengan hampir seratus lebih dialek dan logat yang berbeda.

MAKANAN KHAS LOMBOK

Makanan khas Lombok seperti:

Pelecing Ayam, Pelecing Kangkung, Pelecing Bagek, Pelecing Karper, Ikan Laut Rajang, Sayur Kelak Bagek, Sayur Kelak Beberok, Sayur Ares (Sayur dari bahan irisan batang pisang), Beberok, Lasuk, Sate Pusut Ikan, Sate Pusut Daging Sapi, Jaje Iwel, Jaje Bantal, Jaje Tarek, Jaje Abuk, dan lainnya

TIMOR

Penduduk pulau timor , baik yang tinggal dalam wilayah timor leste maupun yang terdapat dalam wilayah NKRI terdiri dari beberapa suku-bangsa yang berbeda karena bahasa maupun unsur budayanya. Antara lain : orang roti, helon, atoni, belu, kamak, marae dan kupang.

Penduduk dan perkampungan

pada zaman dahulu orang timor membangun desanya diatas gunung-gunung karang dan dikelilingi oleh tembok batu maupun semak berduri. Keadaan ini dikarenakan mereka takut akan serangan mendadak musuh-musuh mereka. Pada saat kekuasaan belanda, mereka tampaknya sudah mulai berusaha untuk menyatukan desa-desa tersebut kedalam suatu pemukiman yang besar.

Rumah asli orang timor menyerupai bentuk sarang lebah, dengan atapnya yang hampir mencapai tanah. Tiangnya terbuat dari balok-balok kayu dan dindingnya terbuat dari bilah-bilah bambu. Rumah tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu bagian luar (sulak) dan bagian dalam (nanan).

sistem kekerabatan

untuk masalah perkawinan, perkawinan yang mereka anggap paling ideal adalah antara seorang pemuda dengan anak dari saudara pria ibu. Seorang pemuda bisa kawin dengan wanita manapun, asal tidak dengan anak saudara ibunya yang masih dianggap kerabat.

Budaya timor juga mengenal klen seperti didaerah-daerah tertentu, klen-klen yang ada dalam suatu daerah swapraja pada masa lalu dapat digolongkan dalam 3 lapisan yaitu : bangsawan (usif), orang biasa (tob) dan budak (ate).

sistem kemasyarakatan

pada masa lalu pulau timor terbagi atas beberapa kesatuan administratif kerajaan (vorstendom), wilayah itu kemudian terbagi atas wilayah kecil yang bernama kefettoran, yang dikepalai oleh seorang fettor. Dibawah kefettoran ada desa-desa yang disebut ketemukungan.

sistem religi

agama asli orang timor berpusat kepada suatu kepercayaan akan adanya dewa langit (uis neno) dan dewa bumi (uis afu). Ada berbagai macam upacara yang ditujukan pada dewa-dewa tersebut dengan tujuan yang berbeda pula. Disamping itu orang timor juga pecaya akan adanya mahkluk-mahkluk gaib disekitar mereka.

1. BUDAYA ROTE

Kabupaten Rote Ndao adalah salah satu pulau paling selatan dalam jajaran kepulauan Nusantara Indonesia. Pulau-pulau kecil yang mengelilingi pulau Rote antara lain Pulau Ndao,Ndana, Naso, Usu, Manuk, Doo, Helina, Landu.

Konon menurut lagenda seorang Portugis diabad ke 15 mendaratkan perahunya , dan bertanya kepada seorang nelayan setempat apa nama pulau ini, sang nelayan menyebut namanya sendiri, Rote. Sang pelaut Portugis mengira nama pulau itu yang dimaksudkan.

Sebagian besar penduduk yang mendiami pulau/kabupaten Rote Ndao menurut tradisi tertua adalah suku-suku kecil Rote Nes, Bara Nes, Keo Nes, Pilo Nes, dan Fole Nes. Suku-suku tersebut mendiami wilayah kestuan adat yang disebut Nusak.

Semua Nusak yang ada dipulau Rote Ndao tersebut kemudian disatukan dalam wilayah kecamatan.

Masyarakat Rote Ndao mengenal suatu lagenda yang menuturkan bahwa awal mula orang Rote datang dari Utara, dari atas, lain do ata, yang konon kini Ceylon. Kedatangan mereka menggunakan perahu lete-lete.

Strata sosial terdapat pada setiap leo. Lapisan paling atas yaitu mane leo (leo mane). Yang menjadi pemimpin suatu klein didampingi leo fetor (wakil raja) yang merupakan jabatan kehormatan untuk keluarga istri mane leo. Fungsi mane leo untuk urusan yang sifatnya spiritual, sedangkan fetor untuk urusan duniawi.

Filosofi kehidupan orang Rote yakni mao tua do lefe bafi yang artinya kehidupan dapat bersumber cukup dari mengiris tuak dan memelihara babi. Dan memang secara tradisonal orang-orang Rote memulai perkampungan melalui pengelompokan keluarga dari pekerjaan mengiris tuak. Dengan demikian pada mulanya ketika ada sekelompok tanaman lontar yang berada pada suatu kawasan tertentu, maka tempat itu jugalah menjadi pusat pemukiman pertama orang-orang Rote.

Secara tradisional pekerjaan menyadap nira lontar tugas kaum dewasa samapi tua. Tetapi perkerjaan itu hanya sampai diatas pohon, setelah nira sampai ke bawah seluruh pekerjaan dibebankan kepada wanita. Kaum pria bangun pagi hari kira-kira jam 03.30, suatu suasana yang dalam bahasa Rote diungkap sebagai; Fua Fanu Tapa Deik Malelo afe take tuk (bangun hampir siang dan berdiri tegak,sadar dan cepat duduk).

2. BUDAYA SABU

Sabu atau Sawu merupakan sebuah pulau dalam wilayah Kabupaten Kupang, terletak di keliling lautan Indonesia dan Laut Sawu. Luas wilayah pulau Sabu 460,87 km.

Iklim pulau umumnya ditandai dengan musim kemarau yang panjang yakni bulan Maret sampai dengan bulan November.

Penduduk Sabu terdiri dari kesatuan klen yang disebut sebagai Udu (kelompok patrinial) yang mendiami beberapa lokasi tempat tinggal antara lain de Seba, Menia, LiaE, Mesara, Dimu dan Raijua. Masing-masing Udu sebagi suatu klen atau sub udu yang disebut Karego.

Tentang pola perkampungan orang Sabu tidak bisa terlepas dari pemberian makna pulaunya sendiri atau Rai Hawu. Rai Hawu dibayangkan sebagi suatu makluk hidup yang membujur kepalanya di barat dan ekornya di timur. Maha yang letaknya disebelah barat adalah kepala haba dan LiaE di tengah adalah dada dan perut. Sedangkan Dimu di timur merupakan ekor. Pulau itu juga dibayangkan sebagai perahu, bagian Barat Sawu yaitu Mahara yang berbukit dan berpegunungan, digolongkan sebagai anjungan tanah (duru rai) sedangkan dimu yang lebih datar dan rendah dianggap buritannya ( wui rai).

Orang Sabu mengenal hari-hari dalam satu minggu, misalnya hari Senin Lodo Anni), Selasa (Lodo Due), Rabu ( Lodo Talhu), Kamis (Lodo Appa), Jumat (Lodo Lammi), Sabtu (Lodo Anna), Minggu (Lodo Pidu).Konsep hari ini (Lodo ne), hari yang akan datng (Lodo de), besok (Barri rai). Hari-hari tersebut membentuk satu minggu kemudian 4 atau 5 minggu membentuk satu bulan (waru) dan 12 bulan membentuk satu tahun (tou).

Secara umum orang Sabu mengenal dua musim, kemarau yang disebut Waru Wadu dan musim hujan atau Waru Jelai. Di antara kedua musim itu ada musim peralihannya. Dalam masing-Masing musim ada beberapa upacara yang berhubungan dengan mata pencaharian.

Dalam musim Waru Wadu atau kemarau, dikenal upacara

(1) memanggil nira;

(2) memasak gula lontar;

(3) memberangkatkan perahu lontar.

Sebelum memasuki musim berikutnya/hujan ada upacara peralihan musim terinci atas

(1) memisahkan kedua musim;

(2) menolak kekuatan gaib/bala;

dan pada musim waru jelai atau musim penghujan dapat diadakan tiga upacara:

(1) pembersihan ladang dan minta hujan;

(2) upacara menanam dan

(3) upacara sesudah panen.

3. BUDAYA TIMOR TENGAH SELATAN

Timor Tengah Selatan dikenal dengan penghasil cendana itu mempunayi luas 4333,6 km2 . Cuaca umum wilayah TTS 4 bulan basah (Desember-April), 8 kering (April-November). Suhu udara dimusim dingin berkisar 18-21o C.

Pembagian penggunaan tanah wilayah TTS 2.500 ha. Terdiri dari atas persawahan , 44.908 ha. Pengembalaan, 41.374 ha. Lamtoro dan 180.000 ha. Tanah kritis.

Wilayah kabupaten TTS berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengan Utara sebelah utara dan Ambenu (Timor Leste) sebelah selatan dengan laut Indonesia, timur dengan Kabupaten Belu.

Penduduk asli TTS merupakan suku bangsa dawan. Dalam mmasyarakat Dawan umumnya pemukiman mulai dari pola keluarga inti/batih yang terdiri dari bapak, ibu, dan anakyang disebut UME. Ume yang ada bakal membentuk klen kecil yang disebut Pulunes atau Kuanes dan ada klen besar Kanaf.

Ume sebagai keluarga inti tinggal di rumah pemukiman tradisional yaitu Lopo dan Ume. Lopo adalah lambang rumah untuk pria dan Ume untuk perempuan. Umumnya mata pencaharian masyarakat TTS adalah pertanian dan peternakan, seperti menanam jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan dan sedikit pertanian padi. Peternakan sapi, babi, dan kambing.

4. BUDAYA TIMOR TENGAH UTARA

Timor Tengah Utara (TTU) dengan ibu kota Kefamenanu. Terletak berbatasan dengan Kabupaten Belu dibagian timur, barat dengan TTS, utara dengan Laut Sawu.Luas wilayah mencapai 2.669,7 km2 . Keadaan alam wilayah TTU beriklim tropis dengan musim kemarau Juli-Nopember dan musim penghujan Desember-Maret. Ibu kota Kefamenanu terletak lebih kurang 600 m di atas permukaan laut, dengan jarak 197 km dari Kupang.

PelapisaN social dalam masyarakat TTU terdiri atas tiga bagian yaitu:

(1). Usif (golongan bangsawan/raja)

(2). Amat (pembantu raja)

(3). To (golongan bawah/rakyat)

Raja pada umumnya sebagai pemilik tanah yang menerima upeti dari tanahnya, dan tugas menarik upeti dilakukan oleh Moen Leun Aoin Leun, seterusnya diserahkan kepada Amaf Terlihat satu konsep yang menunjukan bahwa lapisan raja/bangsawan. Tidak langsung berhubungan dengan golongan To, oleh karena Usif memanfaatkan para pembantu Moen danAmaf untuk urusan pemeritahannya.

Mata pencaharian masyarakat TTU adalah bertani, beternak. Pertanian dalam kebudayaan Atoni diartikan sebagai suatu masyarakat Atoni Pan Meto artinya petani lahan kering. Mereka menyebut diri mereka orang yang bekerja di lahan kering dan itu yang harus dikerjakan karena tidak mengenal laut dan pantai. Mereka tidak tahu nama ikan.

5. BUDAYA BELU

Belu merupakan salah satu kabupaten yang terletak di pulau Timor/Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.Luas Kabupaten Belu 2445,6 km2. Ibu kota kabupaten Belu, Atambua sebuah kota kecil yang terletak 500 meter diatas permuksaan laut. Jarak Kupang dan Atambua lebih kurang 290 km.

Konon nama Atambua berasal dari kata Ata (Hamba), Buan (Suanggi/tukang sihir). Dari legenda diceriterakan adanya hamba yang berani berontak dan melepaskan ikatan tangan (borgol) sehingga tidak terjual lewat pelabuhan Atapupu, dan malahan akhirnya menyingkir saudagarnya. Nama kota ini kembar dengan Atapupu (pelabuhan terletak 24 km arah utara Atambua) dari kata Ata (hamba) Futu (ikat) yang berarti hamba yang diikat siap dijual.

Masyarakat Belu yang terdiri dari beberapa suku bangsa memiliki pelapisan sosialnya sendiri. Sebagai contoh masyarakat Waiwiku dalam wilayah kesatuan suku MaraE. Pemegang kekuasaan berfungsi mengatur pemerintah secara tradisional, pelapisan tertinggi yaitu Ema Nain yang tinggal di Uma Lor atau Uma Manaran, mereka adalah raja. Lapisan berikutnya masih tergolong lapisan bangsawan (di bawah raja) yaitu Ema Dato, kemudian lapisan menengah Ema Fukun sebagai kepala marga. Lapisan terbawah dan hanya membayar upeti dan menjalankan perintah raja, bangsawan maupun lapisan menengah disebut Ema Ata (hamba).Pada masyarakat MaraE lapisan social tertinggi disebut Loro,

Mata pencaharian orang Belu tidak beda dengan masyarakat TTU, dan TTS, yaitu menanam jagung, umbi-umbuan, kacang-kacangan dan sedikit pertanian padi, serta bertenak sapi, babi.

Busana Tradisional

Pakaian Adat Pria

Secara mendasar pria mengenakan komponen-komponen busana yang sama dengan daerah-daerah lain di Nusa Tenggara Timur yaitu kain penutup badan yang terdiri atas beti atau taimuti, dan po`uk. Corak khas pada beti gaya Amarasi adalah dominasi warnawarna coklat dengan bidang tengah berwarna putih sebesar ± 3040 cm. Po`uk sebesar ± 30 cm bercorak garis-garis, memanjang dalam paduan warna-warna jingga, merah bata, putih dan biru. Di kepala dikenakan pilu dari batik. Sedangkan kalung dileher terbuat dari logam dengan hiasan berbentuk lingkaran dari logam berukir bergaris tengah 10 cm, dikenal dengan sebutan iteke. Suatu kebiasaan yang umum di Nusa Tenggara Timur khususnya Timor (dan Sumba) adalah disandangnya kapisak atau aluk yang terbuat dari anyaman-anyaman daun atau kain persegi empat dengan corak geometris dan muti sebagai hiasannya. Terkadang aluk juga sebagian berhiaskan ornamen perak. Pakaian serta perhiasan dan perlengkapan busana pria ini oleh masyarakat setempat dianggap dapat memberikan sifat keagungan, kejantanan serta kesucian bagi penyandangnya.

Pakaian Adat Wanita

Wanita Amarasi memakai dua lembar tenunan sebagai penutup badannya. Pertama adalah tais atau tarunat yang dipasang setinggi dada hingga mata kaki. Corak-coraknya berwarna meriah paduan jingga, kuning, putih dan biru tua dalam lajur bergaris sempit yang dipadukan dengan corak-corak ikat putih berlatar hitam/biru tua.

Lembar kedua adalah selempang yang terikat di depan dada berbentuk huruf V dengan kedua ujungnya terletak di kedua bahu bagian belakang.

Di kepala terdapat seperangkat perhiasan yang tersemat pada sanggul yaitu kili noni dan tusuk-tusuk konde. Hiasan logam kening di dahi berbentuk bulan sabit, berukiran dan terkenal dengan istilah pato eban. Kedua telinga dihiasi falo noni.

Di depan dada tergantung kalung dengan bentuk hiasan bulat dari logam (emas, perak atau sepuhannya) yang disebut noni bena. Pergelangan tangan dihiasi dengan niti keke, sedangkan pinggang dililit oleh futi noni.

Hakekat pemakaian busana dan perhiasan pelengkapnya di Nusa Tenggara Timur erat kaitannya dengan berbagai kefungsiannya dalam peri kehidupan penyandangnya.

Corak tenunan menunjuk pada status sosial alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Perhiasan dan bahan-bahan pembuatnya selain mencerminkan status sosial juga menyatakan kemampuan ekonomi. Emas, perak, gading dan manik-manik amat dihargai dan bernilai tinggi, baik sebagai citra kehormatan diri maupun dalam konteks hubungan sosial kekeluargaan, khususnya pada adat istiadat perkawinan dimana barang-barang tersebut merupakan mas kawin pihak lelaki kepada pihak perempuan. Sebaliknya pun, dalam membalas pihak lelaki, pihak wanita menyerahkan kain tenunan. Demikianlah oleh terbentuk dasar hubungan kekeluargaan yang erat dan saling mendukung dalam berbagai permasalahan kehidupan.

BATAK

Pada umumnya orang batak tinggal dipegunungan sumatera utara, mulai dari perbatasan daerah istimewa aceh sampai dengan perbatasan riau dan sumatera barat. Selain itu ada juga yang mendiami daerah pegunungan pantai timur dan pantai barat sumatera utara.

Penduduk dan Perkampungan.

Menurut cerita-cerita suci (tarombo) orang batak, terutama batak toba. Semua sub suku-suku batak berasal dari satu nenek moyang yang sama yaitu si raja batak. Dalam kehidupan sehari-hari, orang batak menggunakan beberapa logat yaitu :

• logat karo

• logat pakpak

• logat simalungun

• logat toba

dikalangan batak ada beberapa pengertian yang bermaksud untuk menyatakan kesatuan teritorial dipedesaan, antara lain :

(a) huta,yaitu kesatuan teritoril yang dihuni oleh keluarga yang satu klen

(b) kuta, yaitu dihuni oleh beberapa klen yang berbeda

(c) lumban, yaitu suatu wilayah yang dihuni oleh satu bagian klen

(d) sosor, yaitu kampung baru yang didirikan akibat huta induk terlalu penuh

(e) bius, partahian, urung dan partumpukan yaitu suatu gabungan dari kuta dan huta   dalam arti beberapa daerah yang berbeda.

Sistem kekerabatan

Adat batak memeperhitungkan hubungan keturunan itu secara patrilineal, yaitu suatu kekerabatan yang dihitung berdasarkan satu ayah. Sistem kekerabatan terkecil adalah keluarga-batih. Setelah itu untuk yang lebih besar yang mencakup suatu klen kecil disebut saompu. dan yang terbesar adalah marga, yang berisi klen besar yang patrilineal.

Nilai kekerabatan masyarakat Batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalian Na Talu, dimana seseorang harus mencari jodoh diluar kelompoknya, orang-orang dalam satu kelompok saling menyebut Sabutuha (bersaudara), untuk kelompok yang menerima gadis untuk diperistri disebut Hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut Boru.

Hagabeon

Nilai budaya yang bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu banyak, dan yang baik-baik.

Hamoraan

Nilai kehormatan suku Batak yang terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan meterial.

Uhum dan ugari

Nilai uhum orang Batak tercermin pada kesungguhan dalam menegakkan keadilan sedangkan ugari terlihat dalam kesetiaan akan sebuah janji.

Pengayoman

Pengayoman wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut di emban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu.

Marsisarian

Suatu nilai yang berarti saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.

Sistem kemasyarakatan

Masyarakat Batak memiliki falsafah, azas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni Tungku nan Tiga atau dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu, yakni Hula-hula, Dongan Tubu dan Boru ditambah Sihal-sihal. Dalam Bahasa Batak Angkola Dalihan na Tolu terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anak Boru

1.    Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak). Sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

2.    Dongan Tubu/Kahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya terkadang saling gesek. Namun pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun demikian kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

3.    Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai ‘parhobas’ atau pelayan baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun burfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifak kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku ‘raja’. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raji no Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Kesenian

Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang.

Kepercayaan

Sebelum suku Batak menganut agama Kristen Protestan, mereka mempunyai sistem kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.

Menyangkut jiwa dan roh, suku Batak mengenal tiga konsep, yaitu:

-       Tondi : adalah jiwa atau roh seseorang yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia. Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan.Bila tondi meninggalkan badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.

-       Sahala : adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Semua orang memiliki tondi, tetapi tidak semua orang memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki para raja atau hula-hula.

-       Begu : adalah tondi orang telah meninggal, yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu malam.

Demikianlah religi dan kepercayaan suku Batak yang terdapat dalam pustaha. Walaupun sudah menganut agama Kristen dan berpendidikan tinggi, namun orang Batak belum mau meninggalkan religi dan kepercayaan yang sudah tertanam di dalam hati sanubari mereka. Ada juga kepercayaan yang ada di Tarutung tentang ular (ulok) dengan boru Hutabarat, dimana boru Hutabarat tidak boleh dikatakan cantik di Tarutung. Apabila dikatakan cantik maka nyawa wanita tersebut tidak akan lama lagi, menurut kepercayaan orang itu.

Rumah Adat Batak

Pakaian Adat

ENGGANO

Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau Enggano ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan. Pulau ini berada di sebelah barat daya dari kota Bengkulu dengan koordinat 5° 31′ 13″ LS, 102° 16′ 0″ BT.

Laporan pertama mengenai pulau ini berdasarkan catatan Cornelis de Houtman yang mengunjungi pulau ini tanggal 5 Juni 1596.[1]. Tidak diketahui dari mana de Houtman mengetahui nama pulau ini, yang dalam bahasa Portugis, engano, berarti “kecewa”.

Penduduk asli Pulau Enggano adalah suku Enggano, yang terbagi menjadi lima puak asli (penduduk setempat menyebutnya suku). Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Suku atau Puak Kauno yang mulai menempati tempat ini pada zaman Belanda (sekitar tahun 1934). Selain Suku Kauno, terdapat Suku Banten (pendatang), dan empat suku lainnya. Penduduk dari pulau dengan luas 40 hektare ini rata-rata hidup dari perkebunan kakao yang hasilnya dijual ke Kota Bengkulu.

Gustie Pulau Enggano, dengan luas sekitar 400 km2 adalah Derah Burung Endemik (DBE) terkecil di Indonesia. Pulau, yang terletak 96 km di sebelah Barat Daya Sumatera (dari Manna) dan diduga tidak pernah bersambungan dengan Pulau Sumatera (Whitten, et al., 1987b) ini, berdasarkan administratif pemerintahan termasuk Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu.

Berdasarkan penelitian Pieters J Ter Keurs dari Museum Nasional Ethnologi Belanda, suku Enggano pertama kali dilihat oleh awak kapal dari Portugis yang kapalnya mendarat di Pulau Enggano pada awal tahun 1500-an. Mereka mendarat untuk mendapatkan suplai makanan dan air bersih setelah berpekan-pekan berlayar. Namun, mereka kecewa karena hanya dapat memperoleh air bersih dan perlakuan tidak bersahabat dari masyarakat suku asli.

Catatan lain mengenai suku Enggano diperoleh dari perjalanan Charles de Houtman, perintis ekspedisi Belanda ke Nusantara, pada 5 Juni 1596. Menurut catatan itu, anak buah Charles yang mencari air dan makanan segar di Pulau Enggano segera pergi begitu melihat penduduk asli yang bersikap agresif dan hendak menyerang.

Asal-usul masyarakat suku Enggano susah ditentukan karena cerita lokal sangat bersifat mistis. Sementara migrasi penduduk dari pulau lain diperkirakan sulit dilakukan pada tahun 1500-an karena terisolasi samudra. Kemungkinan adanya migrasi dinilai sebagai kemungkinan asal-usul yang paling masuk akal dari suku Enggano.

Semua hasil penelitian Pieters itu mirip dengan cerita turun- temurun yang dituturkan oleh Dihuit Alfaret, salah satu tetua pulau yang telah berumur 71 tahun dan Sekretaris Dewan Kesenian Enggano, yang ditemui Kompas di Desa Meok, Pulau Enggano. Menurut Alfaret, nama Enggano berasal dari bahasa Portugis yang berarti kecewa.

Alfaret menuturkan, berdasarkan cerita dari para leluhurnya, asal-usul suku Enggano dimulai dari kisah hidup Kimanipe dan Manipah, dua manusia pertama di pulau itu, yang ceritanya seperti Adam dan Hawa. Kimanipe adalah seorang laki-laki yang merupakan ciptaan pertama.

Pada saat Kimanipe berjalan- jalan, dia menemukan tulang yang kemudian dibawanya dan diberi nama Manipah. Pada saat malam, tulang itu berubah menjadi seorang perempuan. Kemudian, Kimanipe dan Manipah menikah.

Pernikahan itu menghasilkan lima anak, yaitu Kaitora, Kaohoa, Kauno, Kaarubi, dan Kaaruba. Uniknya, kata Alfaret, kelima anak itu bukan dilahirkan oleh Manipah, tetapi muncul dari kayu yang ditemukan dan disayangi oleh Kimanipe.

Dari kelima anak laki-laki itu, suku Enggano mulai bertambah banyak dan setiap orang harus menyandang nama kakek moyangnya sebagai pembeda klan.

Ketika perkembangan klan menjadi semakin besar, mereka menetapkan diri menjadi kelompok suku yang berbeda dan mulai menentukan batas wilayah masing-masing. Karena jumlahnya yang terus membesar, suku Kauno, Kaarubi, dan Kaohoa membentuk suku yang berjumlah 13 atau subsuku agar memudahkan pengaturan penduduk.

Menurut Awal Veck Kaitora, kepala suku Kaitora, dulu masing-masing suku sering berperang untuk perebutan wilayah. Rumah-rumah adat yang dinamakan yubuaho dibangun bertingkat dua, dengan bentuk segi delapan atau heksagon dan ditempatkan di puncak bukit agar memudahkan pengintaian terhadap lawan dan untuk melarikan diri jika kalah.

Garis matrilineal

Terlalu seringnya peperangan dan kegiatan kaum lelaki membuat kelima suku di Enggano menetapkan perempuan sebagai pewaris suku dan menciptakan garis matrilineal. Nama suku diwariskan dari nama suku ibu.

Selain itu, warisan yang berupa barang tidak bergerak, seperti tanah, juga diwariskan kepada anak perempuan. Anak lelaki hanya menerima peralatan pertanian dan senjata tajam.

Meskipun garis matrilineal yang diterapkan, yang berhak menjadi kepala suku tetap laki-laki karena kerasnya kehidupan saat itu. Menurut sosiolog Universitas Bengkulu, sistem matrilineal merupakan sistem yang banyak berkembang di Sekitar Sumatera, seperti pada suku Minang di Sumatera Barat dan suku Semendo di Kabupaten Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Sistem ini dianut karena banyak lelaki sering merantau sehingga potensi kehilangan properti suatu suku sangat besar. Kaum perempuan ditunjuk menjadi ahli waris dan penjaga hak waris suku karena pergerakan mereka relatif sempit.

Perubahan besar terjadi sekitar tahun 1866. Menurut Alfaret, perubahan ditandai dengan berakhirnya perang antarsuku dan banyak penduduk yang keluar dari Pulau Enggano untuk merantau ke Jawa dan Sumatera. Terjadi pengurangan jumlah penduduk yang cukup besar.

Berdasarkan penelitian Pieters, penghentian perang dan perpindahan itu juga dipengaruhi merebaknya wabah kolera, malaria, dan beberapa jenis penyakit lain. Kedua kondisi itu membuat jumlah penduduk turun drastis, dari 6.420 jiwa di tahun 1866 menjadi 840 jiwa di tahun 1884. Belanda, kata Pieters, mengirim dokter untuk menghentikan penyakit itu. Mereka akhirnya memaksa penduduk turun dari perbukitan dan mendirikan desa-desa di tepi pantai agar mudah dijangkau.

Beberapa puluh tahun kemudian, para perantau asal Enggano pulang dan membawa anak dan istri mereka ke pulau itu.

Menurut Zulkifli Kaaruba, kepala suku Kaaruba, ayahnya berasal dari Banten, tetapi ibunya warga Enggano sehingga dia memiliki nama suku Enggano. Banyak orang yang memiliki percampuran darah sehingga keaslian suku Enggano sulit ditemui.

Masa kini

Menurut Awal Veck, setelah perubahan besar itu, masyarakat Enggano mencoba menggali lagi akar budaya mereka dan dijadikan pegangan dalam kehidupan sosial. Banyak peraturan adat ditetapkan berdasarkan kebiasaan masa lalu dan disesuaikan dengan kondisi masa kini.

Kelima suku yang tinggal bercampur di enam desa mengangkat pabuki atau koordinator lima suku. Pabuki merupakan orang yang sangat dihormati dan kata- katanya dipatuhi dalam setiap musyawarah.

Musyawarah, kini, menjadi jalan penyelesaian setiap konflik suku Enggano. Setiap kesalahan besar harus dimusyawarahkan dan pelakunya akan dikenai denda uang, emas, pakaian, atau senjata tajam sebagai ganti hukum formal pemerintah.

Suku Enggano juga sudah membagi tanah yang menjadi hak waris dari setiap suku. Penggunaan atau penguasaan atas suatu bidang tanah harus meminta izin dari kepala suku.

Menurut Arifin Kaarubi, kepala suku Kaarubi, jika penduduk suatu suku atau pendatang ingin memiliki tanah, mereka harus tinggal secara permanen di Enggano.

Sesudah meminta izin, mereka boleh membuka hutan sesuai dengan petunjuk kepala suku. Akan tetapi, ada beberapa larangan pembukaan lahan baru yang harus diperhatikan, yaitu tidak boleh membuka lahan di dekat mata air dan tidak boleh menyerobot lahan milik orang lain.

Kebiasaan perang kini diubah menjadi tari perang dan tari semut untuk menyambut tamu dan memberi penghormatan. Rumah adat tidak lagi difungsikan sebagai tempat pengintaian, tetapi menjadi ikon wisata dan tempat penginapan turis.

HabitatEnggano adalah pulau yang relatif datar dengan puncak tertinggi 300 m dpl. Suhu udara dan curah hujan di pulau ini relatif tinggi (Ditjen PHPA, 1990). Kedua species burung sebaran-terbatas hidup di beberapa habitat berhutan dan lahan pertanian, terutama perkebunan kelapa, dan lahan-lahan terbuka di sekitar perkampungan. Burung Kacamata Enggano dilaporkan banyak dijumpai dan Celepuk Enggano dijumpai beberapa kali pada kunjungan singkat ke pulau ini pada tahun 1983 (van Marle dan Voous, 1998).

Kawasan KonservasiSatu-satunya kawasan konservasi di Pulau Enggano saat ini adalah Taman Buru Gunung Nanua (10.000 ha) yang terletak di sebelah selatan pulau kecil ini.

Sebagian besar masyarakat berpencaharian sebagai nelayan, dan membuka lahan pertanian di daerah pesisir pada saat musim badai. Konversi hutan cukup besar terjadi pada tahun 1990-an saat pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yng hingga saat ini terbengkalai (Sutaryadi dan Haspiran in litt., 1995).

MELAYU

Melayu dalam pengertian mutakhir merujuk kepada penutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat resam orang Melayu, dalam hal ini sudah terjadi akulturasi dengan bangsa asing lainnya yang datang dari luar Kepulauan Melayu. Bangsa Melayu merupakan bangsa termuda di antara bangsa-bangsa lain di dunia.[rujukan?] Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Malayu, sebuah kerajaan kuno di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di Selat Malaka yang menggunakan sejenis bahasa yang sama yang dinamakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri diduga berasal dari pulau Kalimantan, jadi diduga pemakai bahasa Melayu ini bukan penduduk asli Sumatera tetapi dari pulau Kalimantan. Penduduk asli Sumatera sebelumnya kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan suku Mentawai. Dalam perkembangannya istilah Melayu kemudian mengalami perluasan makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayu untuk menamakan kepulauan Nusantara. Secara persfektif historis juga dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan Nusantara, yang dikenal sebagai Proto Melayu (Melayu Polinesia) dan Deutero Melayu.

Asal-usul Ras Rumpun Melayu (Melayu Polinesia)

Dipercayai berasal dari golongan Austronesia di Yunnan. Kelompok pertama dikenal sebagai rumpun ras Melayu Proto (Proto ras Melayu). Mereka berpindah ke Asia Tenggara pada Zaman Batu Baru (2500 SM). Keturunannya adalah penduduk Asli di Semenanjung Malaysia, Dayak di Sarawak, Batak dan Komering di Sumatera.

Kumpulan kedua dikenal sebagai rumpun ras Melayu Deutero. Mereka berpindah ke Asia Tenggara pada Zaman Logam kira-kira 1500 SM. Keturunannya orang Melayu di Malaysia dikatakan lebih pandai dan dan mahir daripada ras Melayu Proto, khususnya dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercocok tanam. Jumlah mereka lebih banyak daripada ras Melayu Proto. Mereka menghuni kawasan pantai dan lembah di Asia Tenggara. Kedua kelompok ini dikenal sebagai kelompok Austronesia

Melayu Sumatera

Orang Melayu di Sumatera terdiri atas Melayu Tamiang, Melayu Deli, Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Palembang dan lain-lain. Di pedalaman terdapat orang Melayu Proto seperti suku Talang Mamak, suku Sakai, dan lain-lain. Dalam pengertian ini berarti sebagai suku-suku yang berbahasa Melayu dan bahasa Melayu Lokal.

Melayu Kalimantan

Orang Melayu di Kalimantan dalam arti sempit hanya mengacu kepada orang Melayu Pontianak yang disebut suku Melayu, tetapi dalam arti luas mencakup orang Senganan, suku Sambas, suku Kedayan (suku Brunei), suku Banjar, suku Kutai dan suku Berau. Di Kalimantan Selatan, suku Dayak yang diperkirakan berasal dari Sumatera adalah suku Bukit (Dayak Meratus) yang bahasanya digolongkan bahasa Melayu Lokal sehingga disebut juga sebagai bahasa Melayu Bukit. Diperkirakan beberapa suku yang memiliki unsur-unsur kemelayuan tersebut tergolong ke dalam Proto Melayu. Di pedalaman Kalimantan Barat dan Sarawak terdapat pula orang Dayak Melayu yaitu rumpun Iban yang diperkirakan menyeberang dari pulau Sumatera. Kelompok terakhir ini tergolong rumpun Proto Malayic yang merupakan induk dari Proto Melayu. Proto Melayu (Proto suku Melayu) inilah yang menurunkan suku bangsa Melayu modern.

Tradisi Musik Melayu

Tradisi muzik melayu yang lain seperti musik makyong dan gendang keling diwarisi dari zaman praislam.Gendang keling dan Mek Mulung di Kedah dan Perlis menggunakan alat muzik seperti Gong, rebab, gendang dan serunai. Di samping berbagai – bagai jenis muzik yang dinyatakan ,muzik wayang kulit, kuda kepang dan ghazal juga merupakan muzik melayu tradisional dari zaman silam. Muzik wayang kulit mengandungi alat muzik seperti gamelan dan mempunyai hubungan dengan tradisi dan kepercayaan masyarakat pribumi. Ghazal pula berasal dari pengaruh Arab Parsi , yang dibawa melalui India sebelum berkembang di alam melayu. Muzik melayu asli ialah muzik yang menyertai tarian ronggeng atau joget yang mempunyai hubungan dengan dongdang sayang yang berkembang di Melaka dan canggung di Perlis. Dalam Tarian kuda kepang pula terdapat alat – alat muzik paluan yang dibunyikan mengikut rentak kuda berlari. Tarian kuda kepang ini berkembang di Johor di kalangan masyarakat melayu keturunan Jawa.

Tarian Balai

Tarian ini berasal dari daerah-daerah dinegeri Terengganu. Tarian ini ditarikan oleh gadis-gadis kampung dalam bentuk simbolik seperti melakukan pekerjaan sawah. Penari-penari akan menari mengelilingi balai, iaitu sejenis payung panjang berwarna-warni yang diletakan dibawah gelanggang.

Canggung

Kata tanggung berasal dari bahasa Thai yang bererti menari. Tarian Canggung berasal dari negeri Perlis dan menjadi popular di negeri Kedah, Perlis dan Pulau Pinang. Tarian ini dicipta oleh seorang ahli tarian dari Kangar selepas perang dunia kedua

Tarian Siti Wau Bulan

Tarian ini berasal dari negeri Kelantan, ditarikan pada musim menuai sempena dengan temasya dan permainan wau.

Permainan Gasing

Gasing ialah permainan rakyat yang popular dikalangan orang Melayu. Di negeri-negeri Pantai Barat gasing diperbuat daripada kayu, sementara di negeri-negeri Pantai Timur khususnya dinegeri Kelantan gasing diperbuat daripada timah.

Permainan gasing dapat dibahagikan kepada tiga jenis iaitu :

Permainan untuk bersuka ria

Pertandingan gasing

Permainan untuk pertunjukkan.

Permainan Layang-Layang atau Wau

Permainan layang-layang atau wau mempunyai hubungan dengan kepercayaan kepada semangat padi. Permainan wau dipercayai telah dilakukan sebagai satu cara untuk memohon maaf kepada semangat padi yang telag menjelma menjadi seorang anak gadis.

Permainan wau diadakan sebagai hiburan untuk pelabagi peringkat umur. Permainan wau juga diadakan untuk pertandingan. Pertandingan yang melihat bentuk kecantikannya diukur dari segi keindahannya kepada bentuk, corak ciptaan, warna, keaslian ciptaan dan ukranya.

Permainan Congkak

Permainan congkak ialah sejenis permianan Melayu tradisional yang digemari oleh kaum wanita dan kanak-kanak. Permainan ini dipercayai mula berkembang di istana iaitu dikalangan wanita-wanita istana dan para pembesar. Mereka memainkan permainan ini untuk menghiburkan hati pada waktu lapang dan juga bagi mengisi masa yang banyak terluang.

Permainan congkak menggunakan dua bahan, iaitu papan congkak dan buah congkak. Kadang-kadang sebagai ganti papan congkak, lubang-lubangnya dibuat diatas tanah. Sementara biji-biji congkak pula ialah guli-guli kaca, buah getah, biji saga, batu-batu kecil dan sebagainya. Setiap papan congka hanya boleh dimainkan oleh dua orang sahaja.

Menyabung Ayam

Salah satu permianan bercorak pertandingan yang digemari oleh masyarakat Melayu tradisional ialah permainan menyabung binatang-binatang ternakan seperti lembu, kerbau dan ayam. Permaina sabung ayam misalnya diadakan sempenan sesuatu upacara tertentu yang disambut oelh masyarakat Melayu tradisional seperti ketika menyambut kelihiran bayi, perkahwinan dan pentabakan raja.

Permainan manyabung ayam melibatkan pertaruhan wang atau sejenis perjudian. Tetapi pemilik ayam boleh mendapat bayaran tanpa turut serta dalam pertaruhan menyabung dengan cara menyewakan ayamnay jika ayamnya itu telah terkenal sering beroleh kemenangan.

Sepak Raga

Sepaka raga ialah sejenis permianan yang menggunakan bola yang diperbuat daripada rotan yang dinanyam dua hingga tiga lapis. Sepak raga dimainkan oleh beberpapa orang pemain yang berdiri membentuk bulatan. Permainan ini dimulaid engan salah sorang pemian melambugkan bola kepada salah seorang pemian yang lain. Pemain lain kan menimbang bola terbut sebelum diambil oleh orang lain.

IRIAN

Kebudayaan masyarakat Irian Jaya

Mengenai kebudayaan penduduk atau kultur masyarakat di Irian Barat dapat dikatakan beraneka ragam, beberapa suku mempunyai kebudayaan yang cukup tinggi dan mengagumkan yaitu suku-suku di Pantai Selatan Irian yang kini lebih dikenal dengan suku “ASMAT” kelompok suku ini terkenal karena memiliki kehebatan dari segi ukir dan tari. Budaya penduduk Irian yang beraneka ragam itu dapat ditandai oleh jumlah bahasa lokal khususnya di Irian Barat. Berdasarkan hasil penelitian dari suami-isteri Barr dari Summer Institute of Linguistics (SIL) pada tahun 1978 ada 224 bahasa lokal di Irian Barat, dimana jumlah itu akan terus meningkat mengingat penelitian ini masih terus dilakukan. Bahasa di Irian Barat digolongkan kedalam kelompok bahasa Melanesia dan diklasifikasikan dalam 31 kelompok bahasa yaitu:

Tobati, Kuime, Sewan, Kauwerawet, Pauwi, Ambai, Turu, Wondama, Roon, Hatam, Arfak, Karon, Kapaur, Waoisiran, Mimika, Kapauku, Moni, Ingkipulu, Pesechem, Teliformin, Awin, Mandobo, Auyu, Sohur, Boazi, Klader, Komoron, Jap, Marind-Anim, Jenan, dan Serki. Jumlah pemakai bahasa tersebut diatas sangat bervariasi mulai dari puluhan orang sampai puluhan ribu orang.

Secara tradisional, tipe pemukiman masyarakat Irian Barat dapat dibagi kedalam 4 kelompok dimana setiap tipe mempunyai corak kehidupan sosial ekonomi dan budaya tersendiri.

-       Penduduk pesisir pantai;

Penduduk ini mata pencaharian utama sebagai Nelayan disamping berkebun dan meramu sagu yang disesuaikan dengan lingkungan pemukiman itu. Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.

-       Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah;

Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu dihuta disekeliling lingkungannya. Mereka senang mengembara dalam kelompok kecil. Mereka ada yang mendiami tanah kering dan ada yang mendiami rawa dan payau serta sepanjang aliran sungai. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.

-       Penduduk pegunungan yang mendiami lembah;

Mereka bercocok tanam, dan memelihara babi sebagai ternak utama, kadang kala mereka berburu dan memetik hasil dari hutan. Pola pemukimannya tetap secara berkelompok, dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Adat istiadat dijalankan secara ketat dengan “Pesta Babi” sebagai simbolnya. Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui “Perang Suku” yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).

-       Penduduk pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung;

Melihat kepada tempat pemukimannya yang tetap di lereng-lereng gunung, memberi kesan bahwa mereka ini menempati tempat yang strategis terhadap jangkauan musuh dimana sedini mungkin selalu mendeteksi setiap makhluk hidup yang mendekati pemukimannya. Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih “KANIBAL” hingga kini, dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga.

Dalam berbagai kebudayaan dari penduduk Irian ada suatu gerakan kebatinan yang dengan suatu istilah populer sering disebut cargo cults. Ada suatu peristiwa gerakan cargo yang paling tua di Irian Jaya pada tahun 1861 dan terjadi di Biak yang bernama “KORERI”. Peristiwa atau gerakan cargo terakhir itu pada tahun 1959 sampai tahun 1962 di Gakokebo-Enarotali (kabupaten Paniai) yang disebut ” WERE/WEGE” sebagaimana telah dikemukakan bahwa gerakan ini yang semula bermotif politik.

Rumah Adat (Rumah Honai)

KEP. BARAT DAYA (KEPULAUAN KAI)

Seni Budaya

Alat Musik

Alat musik tradisional di Kepulauan Kai adalah:

  • Savarngil (Suling): Seruling kecil lokal sepanjang 4 sampai 8 inci, terbuka di kedua ujung, memiliki enam lubang tempat jari, terbuat dari bambu, dan tanpa kunci nada.
  • Tiva (Gendang): Terdiri atas selembar membran dari kulit sapi yang direntangkan erat-erat menutupi salah satu ujung dari sebuah wadah yang berlubang.
  • Dada (Gong): Alat musik tabuh dengan jari-jari 12 sampai 15 inci, terbuat dari tembaga atau besi dengan tonjolan di bagian tengah.

Tarian

Sosoy Temar-Rubil (Tarian Perang) yang penuh semangat hanya ditarikan oleh kaum pria, sementara tarian yang lembut seperti Sosoy Kibas (Tari Kipas) hanya ditarikan oleh kaum wanita. Gerakan-gerakan yang tidak terlampau lembut maupun beringas hanya terdapat dalam Sosoy Sawat (Tarian Pergaulan) dan Sosoy Yarit (Tarian Umum), dan oleh karenanya dapat ditarikan baik oleh pria maupun wanita. Gerak-gerik yang agung dan lemah-lembut diijinkan dalam tarian pria seperti dalam Sosoy Swar Man-Vuun (Tarian Penghormatan), namun gerak-gerik yang cepat dan lincah tidak terdapat dalam tarian wanita. Tarian asli Kei umumnya diciptakan untuk tujuan penghormatan, sehingga jarang ditarikan oleh anak-anak. Hanya orang dewasa dan remaja akil-balig yang diikutsertakan. Bahkan sosoy Swar Man-Vuun yang dipentaskan di haluan “Bilan” (Perahu Kebesaran) dulunya hanya ditarikan oleh pria yang sudah berkeluarga.

Penari wanita di kepulauan Kei juga menggunakan Kipas, Yerikh (Daun lontar yang dikeringkan) dan Penari Pria dapat menggunakan panah, parang, Tombak dan juga bulu Kasuari dan diikatkan pada ujung tongkat berukuran kurang lebih 10 cm.

Seperti di banyak tempat di Kepulauan Maluku, sejak zaman kolonial, orang Kei mengenal pula dansa ala Eropa, dan kaum mudanya saat ini tidaklah jauh tertinggal dalam seni tari kontemporer. Dansa Waltz, cha cha cha, dan bahkan joget dangdut umum dijumpai dalam pesta-pesta mereka.

MAKANAN KHAS PULAU KAI

Kai – Māori makanan tradisional

Kai – Māori makanan
Kai adalah kata Māori untuk makanan. .

1.      Traditional Māori diet Māori Tradisional diet

2.      Māori hangi ovens Māori hangi oven

3.      Māori potatoes Māori kentang

4.      Indigenous bush herbs Adat tumbuhan semak

5.      Māori food gathering Māori pengumpulan makanan

6.      Māori wines Māori anggur

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.